ZONAUTARA.com – Musim kekeringan ekstrem yang menerjang kawasan Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) selama lebih dari tiga bulan terakhir memicu dampak berantai yang kian meluas.
Fenomena cuaca kering ini tidak hanya berdampak pada krisis air bersih bagi warga perkotaan dan wilayah kepulauan, tetapi juga mengancam produktivitas sektor pertanian serta memicu maraknya kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di beberapa daerah.
Di Kota Tomohon, dampak kemarau panjang sangat dirasakan oleh para petani sayur. Salah satunya di kawasan perbukitan Rurukan, Kecamatan Tomohon Timur, yang berjarak sekitar 5 kilometer dari Pasar Beriman Tomohon atau 35 kilometer dari Manado.
Hujan yang juga belum turun dalam beberapa bulan terakhir, membuat petani yang selama ini mengandalkan air hujan untuk menyiram perkebunan sayuran mereka kini mulai kesulitan merawat tanaman. Sejumlah lahan pertanian bahkan tampak kosong dan belum bisa ditanami akibat krisis air tersebut.
Oskar, salah seorang petani sayur di Rurukan yang mengelola sebidang lahan tanaman kol, mengungkapkan kecemasannya atas kondisi cuaca yang tak kunjung membaik.
“Sudah lebih tiga bulan hujan belum turun,” ujar Oskar dikutip dari pemberitaan Tribbun Manado, 11 Oktober 2026.
Ketiadaan hujan yang memadai secara berkelanjutan membuat para petani lokal terpaksa memutar otak agar tanaman mereka tidak mati kekeringan, seraya berharap hujan dapat segera turun.
Krisis air bersih juga meluas hingga ke wilayah pesisir dan kepulauan di Kota Manado. Masyarakat yang bermukim di Pulau Bunaken, Pulau Siladen, dan Pulau Manado Tua kini berhadapan dengan surut dan mengeringnya sumber-sumber air bersih lokal.
Menanggapi kondisi darurat tersebut, Lintas instansi dan organisasi kemasyarakatan menggalang aksi kepedulian sosial untuk menyalurkan bantuan air bersih secara langsung ke kawasan kepulauan tersebut.
Aksi penyaluran air bersih dijadwalkan berlangsung pada Selasa (13/10/2026) mulai pukul 08.00 WITA. Kegiatan kolaboratif ini akan melibatkan Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulawesi Utara, Pemerintah Kota Manado, PDAM Manado, Asosiasi Badan Permusyawaratan Desa Nasional (ABPEDNAS) Sulut, DPD Srikandi Jaga Desa Sulut, serta DPD Asosiasi Perlindungan Masyarakat (ASLINMAS) Sulut.
Sejumlah pejabat publik dan pimpinan organisasi dijadwalkan hadir langsung dalam rencana penyaluran bantuan di tiga pulau tersebut.
“Informasi yang diperoleh, di tiga pulau tersebut mengalami kesulitan air bersih. Nah, sebagai wujud kepedulian terhadap kondisi yang dialami masyarakat di sana, kami akan menyalurkan air bersih,” kata Ketua ABPEDNAS Sulut Stefanus B.A.N. Liow.
Di sisi lain, kekeringan yang memicu kerentanan vegetasi juga mengakibatkan maraknya peristiwa kebakaran hutan dan lahan di wilayah daratan Sulawesi Utara.
Di Kabupaten Bolaang Mongondow, insiden kebakaran dilaporkan terjadi di Desa Inuai, Kecamatan Passi Barat. Guna mengendalikan perambatan api agar tidak mengancam permukiman warga dan merusak ekosistem sekitar, personel Satuan Brimob Polda Sulawesi Utara dikerahkan ke lokasi untuk melakukan upaya pemadaman serta pembasahan lahan.

Sebagai langkah antisipasi berulang dan mitigasi jangka panjang terhadap bahaya karhutla, Kementerian Kehutanan (Kemenhut) memperkuat strategi pencegahan berbasis masyarakat. Melalui Pusat Penyuluhan Kehutanan, Kemenhut menyelenggarakan kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Penyuluh Kehutanan Tahun 2026 bertema “Peran Penyuluh Kehutanan dalam Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan” di Manado pada Kamis (8/10/2026).
Kegiatan bimtek tersebut membekali 50 orang penyuluh kehutanan dari pelbagai instansi di Sulut, meliputi Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Utara, BKSDA Sulawesi Utara, Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone, Balai Taman Nasional Bunaken, Balai Pengelolaan Hutan Lestari (BPHL) Manado, hingga Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sulawesi (Manggala Agni Daops Bitung).
Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Pusat Penyuluhan Kehutanan Kemenhut Wahju Rudianto bersama Kepala Bidang Penyuluhan, Pemberdayaan Masyarakat dan Hutan Adat Dinas Kehutanan Provinsi Sulawesi Utara Lucki Heintje Sualang, yang hadir mewakili kepala dinas. Dalam bimtek tersebut, para peserta dibekali materi teknis pemetaan kawasan rawan, teknik komunikasi persuasif, deteksi dini, sistem pelaporan, hingga pemadaman awal dan keselamatan kerja.
Rangkaian pembekalan menghadirkan sejumlah narasumber pakar, di antaranya Ferdinand Astoto dari Direktorat Pengendalian Kebakaran Hutan yang membawakan materi kebijakan mitigasi, Roimen Royanto Malau dari Manggala Agni Daops Bitung mengenai materi teknis penanganan lapangan, serta Agus Joko Purnomo yang memberikan sesi motivasi komunikasi efektif. Seluruh peserta diwajibkan menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) serta menjalani evaluasi pre-test dan post-test.
Kepala Pusat Penyuluhan Kehutanan Kemenhut Wahju Rudianto menegaskan pentingnya posisi penyuluh sebagai garis terdepan yang berinteraksi langsung dengan warga kawasan hutan.
“Oleh karena itu, penguatan kapasitas penyuluh menjadi kunci dalam mendorong pencegahan karhutla melalui peningkatan kesadaran, kesiapsiagaan, dan partisipasi aktif masyarakat,” ujar Wahju.
Menurutnya, dampak karhutla sangat luas karena tidak hanya merusak keanekaragaman hayati, tetapi juga memperburuk kualitas udara, mengganggu kesehatan, serta mengancam kegiatan sosial ekonomi masyarakat.
Eskalasi bencana lingkungan akibat musim kemarau di Sulawesi Utara memperlihatkan pentingnya kesiapsiagaan terpadu dari seluruh pemangku kepentingan. Penanganan bencana kekeringan, pemenuhan kebutuhan dasar air bersih untuk masyarakat pesisir, serta respons cepat penanggulangan karhutla membutuhkan kolaborasi erat antara pemerintah, aparat keamanan, dan partisipasi aktif masyarakat guna meminimalkan dampak sosial dan kerugian ekologis yang lebih besar.

