Menggugat nasib di pulau penghasil pala

Artikel ini tayang di Teras.id Klik tombol di bawah untuk membaca artikel lengkap.
🔓 Baca Artikel Lengkap

Ringkasan

ZONAUTARA.com – Di Pasar komoditas Eropa, Pala Siau dipuja sebagai “The King of Spices”. Rempah dengan kualitas aromatik terbaik di muka bumi yang menguasai 60 persen pangsa pasar global. Tumbuh subur di bawah berkah tanah vulkanis Gunung Karangetang, biji-biji ini mengandung minyak atsiri tertinggi yang menjadi rebutan industri farmasi dan kosmetik dunia.

Namun, kemewahan angka statistik ini akan runtuh jika kita menjejakkan kaki di kebun-kebun rakyat di Pulau Siau. Di sana, predikat “kualitas nomor 1 dunia” bisa jadi hanyalah slogan kosong bagi ribuan petani yang justru terperangkap dalam kemiskinan struktural, menjadi penonton di tanah leluhur mereka sendiri.

Mengapa dominasi global gagal diterjemahkan menjadi kesejahteraan lokal? Laporan mendalam kami menelusuri persoalan tata niaga yang melilit petani Sitaro. Kami menemukan sebuah rantai pasok yang timpang, di mana marjin keuntungan terbesar dinikmati oleh segelintir pedagang besar dan eksportir, sementara petani dipaksa menjadi price-taker tanpa daya tawar.

Lebih dari sekadar harga rendah, kami menyingkap praktik “apoteke”, sebuah sistem gadai tradisional yang menjerat masa depan petani, memaksa mereka menyerahkan hak panen bertahun-tahun demi pinjaman tunai mendesak, mengubah status mereka dari pemilik lahan menjadi buruh di kebun sendiri.

Baca artikel lengkap Menggugat nasib di pulau penghasil pala di Teras.id

🔓 Baca di Teras.id →

https://www.teras.id/zonautara-com/rubrik/berita-daerah/menggugat-nasib-di-pulau-penghasil-pala-2114254

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com