Yaki bertahan di tempat yang diawasi, tetapi terancam di hutan

Artikel ini tayang di Teras.id Klik tombol di bawah untuk membaca artikel lengkap. Artikel ini memerlukan akses VIP di Teras.id.
๐Ÿ‘‘ Baca Artikel Lengkap

Ringkasan

ZONAUTARA.com – Seekor yaki jantan cukup sering berkeliaran di tepi konsesi tambang emas PT Meares Soputan Mining, sampai berulang kali bersinggungan dengan petugas. Pada akhir Februari 2025, tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Utara menangkap yaki itu untuk diperiksa kesehatannya di Pusat Penyelamatan Satwa Tasikoki, sebelum dikembalikan ke Cagar Alam Duasudara. Menurut BKSDA, memang ada kelompok yaki yang daerah jelajahnya di kawasan hutan yang berada di sekitar tambang itu.

Perjalanan satu monyet itu, dari tepi tambang ke dalam cagar alam, adalah versi ringkas dari nasib seluruh jenisnya. Yaki, monyet hitam berjambul yang hanya hidup di ujung utara Sulawesi dan tidak ada di tempat lain mana pun di bumi, berstatus Kritis dalam Daftar Merah International Union for Conservation of Nature (IUCN) sejak penilaian 2020, dan termasuk dalam daftar 25 primata paling terancam di dunia (Ten Years of Positive Impact of a Conservation Education Program on Childrenโ€™s Knowledge and Behaviour Toward Crested Macaques (Macaca nigra) in the Greater Tangkoko Area, Chanvin dkk. 2023). Populasi globalnya diperkirakan 4.000 sampai 6.000 individu. 

Cagar Alam Tangkoko di Kota Bitung adalah kantong yaki yang paling banyak diteliti, dan justru di sanalah dua penelitian menghasilkan kesan yang tampak bertolak belakang. Kyes dan rekan, dalam survei jangka panjang yang terbit pada 2013, mencatat kepadatan yaki di transek inti cagar alam yang relatif stabil bahkan meningkat, dari sekitar 39,8 individu per kilometer persegi pada rentang 1999 sampai 2002, menjadi sekitar 51,4 pada 2005 sampai 2011, lalu 61,5 pada 2011. Angka-angka itu memberi kesan populasi yang tidak lagi jatuh.

Pada tahun yang berdekatan, Juan Francisco Gallardo Palacios dan rekannya menghitung dengan cakupan yang lebih luas dan sampai pada kesan berbeda. Dalam laporan mereka di jurnal Oryx Volume 46, kepadatan rata-rata yaki di Tangkoko sekitar 44,9 individu per kilometer persegi, dengan rentang kepercayaan yang lebar, dan taksiran total sekitar 1.951 individu untuk seluruh cagar alam. Dibandingkan angka 1994 yang mencapai 68,7 individu per kilometer persegi, pembacaan Palacios dkk ini memperlihatkan penurunan, bukan pemulihan.

Dua angka itu tidak harus saling menggugurkan. Perbedaannya paling mungkin terletak pada luas dan letak wilayah yang diukur. Transek inti yang rutin dipantau bisa memperlihatkan kestabilan, sementara sapuan yang lebih luas menangkap bagian-bagian hutan yang tidak terpantau dan lebih tertekan. Riset lain yang mengukur bagian selatan Tangkoko pada 2020 memperkuat dugaan itu.




Baca artikel lengkap Yaki bertahan di tempat yang diawasi, tetapi terancam di hutan di Teras.id

๐Ÿ‘‘ Baca di Teras.id โ†’

https://www.teras.id/zonautara-com/rubrik/mendalam/yaki-bertahan-di-tempat-yang-diawasi-tetapi-terancam-di-hutan-2278256

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com