Connect with us

Profil

Putra Talaud Ini Wakili Sulut Masuk Skuad Garuda Muda Indonesia

Published

on

MANADO, ZONAUTARA.com – Terpilih mewakili Sulawesi Utara (Sulut) untuk masuk dan memperkuat skuad Garuda Muda Indonesia dalam pertandingan Borneo Cup di Malaysia pada 25-30 September 2017 menjadi kebanggaan tersendiri Owen Gedoan.

Siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Rainis, Kabupaten Kepulauan Talaud, ini bercerita, dia mulai tertarik sepak bola sejak usia sembilan tahun.

“Waktu itu saya masih sekolah dasar (SD) kelas IV. Setiap harinya saya latihan bersama teman-teman di Pantai Rainis,” ujar Owen saat bertandang ke kantor redaksi Zona Utara, Jumat (22/9/2017).

Dia menceritakan, karena ketertarikannya di sepak bola, dia akhirnya memutuskan mengikuti ekstrakurikuler olahraga itu. Owen akhirnya memutuskan bergabung di perkumpulan Rainis Moong FC.

“Dari situ saya akhirnya mengikuti pertandingan dengan teman-teman di perkumpulan Rainis Moong FC. Pertandingan pertama yang saya ikuti yaitu Pekan Olahraga Daerah (Popda) antarkecamatan. Waktu itu kami hanya meraih peringkat empat,” ujar Owen sambil tersenyum.

Dan akhirnya, kata dia, perkumpulan Rainis Moong berkesempatan mengikuti pertandingan Menpora Cup U-16 Region Kabupaten Talaud dan meraih juara 1.

“Pada 12 agustus 2017 lalu, kami mewakili Kabupaten Talaud di tingkat Provinsi Sulut dalam lomba memperebutkan Piala Pangdam XIII/Merdeka Liga Menpora U-16 antar kabupaten/kota. Dan kami meraih juara 3,” ujar anak tercinta dari Marswell Gedoan dan Marhani Ansik ini.

Dia berharap, bisa memperkuat tim Garuda Muda Indonesia dalam lomba di Malaysia dan menjadi yang terbaik untuk masyarakat Sulut serta menjadi kebanggan orang tua.

Bobby Sukari, pelatih Forza Manado yang dipercayakan menyeleksi atlet berbakat Sulut untuk masuk Garuda Muda Indonesia, mengatakan, dirinya memilih Owen untuk bergabung dengan Garuda Indonesia Muda karena sudah melihat potensi dalam diri anak itu.

“Selama tiga tahun ini sudah terjalin kerja sama antara Forsa Manado dan Garuda Indonesia Muda,” jelas Bobby.

Lebih jauh dia menjelaskan, saat piala Pangdam XIII/Merdeka, permainan Owen di lapangan hijau sangat menarik. Akhirnya dia memutuskan memilih anak ketiga pasangan Marwel Gedoan dan Marhani Ansik itu untuk mewakili Forsa Manado di ajang Sepak Bola Anak Indonesia (SBAI).

“Karena rekomendasi panitia, pengurus meminta saya memutuskan satu hingga dua pemain untuk bergabung di Indonesia Muda pada pertandingan di Malaysia pada Borneo Cup yang akan dilaksanakan pada 25 – 30 September, nanti,” katanya.

Dari segi permainan, usia yang dibutuhkan oleh pengurus Garuda Indonesia Muda yaitu kelahiran tahun 2004 sedangkan yang ada di tim-tim lain itu kelahiran 2002 dan 2003.

“Selain karena faktor usia, saya memilih owen karena ingin mengangkat Kabupaten Talaud di bidang sepak bola untuk berlaga di tingkat nasional dan Asia. Karena bagi saya, anak-anak Talaud banyak talenta dan prestasi,” tambahnya.

Forsa Manado, kata dia, sudah beberapa kali mengikuti turnamen di Jabodetabek. Pernah juga juara di Bandung, Jakarta, Semarang dan Balikpapan.

Sementara itu, Marswel Gedoan, ayah tercintanya, mengatakan, potensi anaknya di orahraga sepak bola telah diketahuinya sejak Owen duduk di kelas IV SD.

“Waktu itu, dia meminta kami untuk membelikan bola kaki,” ujarnya.

Setelah membelikan bola untuk Owen, kata Marswel, setiap harinya dia bersama teman-temannya latihan.

“Tentu sebagai orang tua, kami memberikan kesempatan untuk Owen berprestasi. Kami berharap, dia bisa menjadi pemain sepak bola yang professional dan bisa menjadi kebanggan Talaud,” harapnya.

 

Editor: Eva Aruperes

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Profil

Ubah tempurung jadi cenderamata, cara suami istri ini berinvestasi terhadap lingkungan

Kerajinan mereka diminati wisatawan asing.

Published

on

Foto: Henry Johanis

MANADO, ZONAUTARA.com – “Modal kami adalah kecintaan terhadap lingkungan”. Begitu ungkap suami istri Henry Johanis dan Elis Purude.

Mereka tinggal di Tongkaina yang sekaligus menjadi bengkel kerja. Henry dan Elis tak sekedar jadi penggiat lingkungan. Henry juga aktifis konservasi.

Keduanya kini mengelola usaha kecil yang memproduksi cenderamata. Dari mulai ide, menemukan bentuk, memproduksi, dan memasarkannya semua dilakukan mereka berdua.

Bahannya sederhana, tempurung kelapa dan pelepah pisang. “Di kampung sini banyak sekali tempurung kelapa dan pisang,” jelas Henry, saat ditemui Zonautara.com beberapa waktu lalu.

Mereka berdua ingin memanfaatkan tempurung kelapa yang melimpah itu untuk sesuatu yang tak sekadar menjadi arang tempurung. Lalu Henry mengeksplorasi ide.

Bermodal satu gergaji, dia lalu mencoba mengubah tempurung kelapa menjadi bahan pajangan. Unik, tentu menjadi syarat agar olahan itu bisa diminati orang.

Lewat serangkaian ujicoba, akhirnya Henry bisa menciptakan beragam kerajinan tangan perpaduan antara tempurung kelapa dan pelepah pisang.

“Bisa laku, lalu kami beli peralatan kerja lain seperti glender, bor listrik. Kerja sudah bisa lebih baik, walau masih banyak peralatan yang harus dibeli,” ungkap Henry.

Usaha mereka ini baru berjalan setahun, namun pasar mualai tercipta. Awalnya mereka menitipkan hasil kerajinan tangan di salah satu hotel di dekat rumah mereka.

“Peminatnya banyak turis asing. Mereka suka tempat lilin, miniatur perahu tradisional dan press flower. Bangga dan sekaligus termotivasi, biar cuma tempurung kelapa, tapi sudah banyak dibawa keluar negeri,” kata Elis.

Sekarang pasar lokal juga sudah mulai tertarik. Kalau orang lokal lebih suka pot bunga unik dengan kaktus/sukulen. Lalu ada pula pot bunga dengan variasi ukiran dan tulisan.

“Kami belajar kaktus dan sukulen dari internet saja. Beli bibit secara online, tapi kini sudah bisa biakan sendiri,” kata Henry.

Kecintaan terhadap lingkungan adalah nomor satu. Oleh karena itu motif dalam ukiran tempurung kelapa itu tak lari jauh soal alam. Ada hutan mangrove, gunung, laut, ikan dan motif alam lainnya.

Karena mengusung semangat memelihara alam, usaha mereka dilabeli dengan nama “Manado Ecocrafts“.

Baik Henry dan Elis berharap, orang lain bisa termotivasi berkreasi menciptakan sesutu dari yang sudah disediakan alam. Kelapa misalnya, saat harga kopra jatuh, mencari alternatif produk kelapa adalah upaya lain.

Henry berharap produk kreasi asli Manado bisa bersaing dengan handycrafts luar daerah semisal produk dari Bali dan Jawa. Banyaknya peminat dari wisatawan asing menjadi ukuran bagi mereka.

“Kami bermimpi satu saat bisa memberdayakan warga sektar untuk terlibat dalam produk ekowisata ini. Tapi modal kami kecil, mungkin bisa lebih berkembang jika ada bantuan dari stakeholder terkait,” harap Henry.

Editor: Ronny Adolof Buol

Continue Reading
Advertisement

DATA KITA

Advertisement
Advertisement

Trending

WP2FB Auto Publish Powered By : XYZScripts.com