Connect with us

ZONAPEDIA

Yosadi: Perceraian Terjadi Jika Ada Kegentingan Memaksa

Published

on

Tokoh Agama Kong Hu Cu Sofyan Jimmy Yosadi. (Foto : zonautara.com/Rhendy Umar)

MANADO, ZONAUTARA.com Setiap agama tidak pernah menghendaki perceraian terjadi di dalam setiap keluarga. Karena, apa yang telah dipersatukan lewat peneguhan masing-masing lembaga, mendambakan keluarga akan tetap bersatu selamanya sampai maut yang memisahkan. Ajaran tersebut juga diterapkan oleh agama Kong Hu Cu. Pernikahan adalah sakral.

“Dalam Kitab Suci Kong Hu Cu, pernikahan itu adalah menautkan dua keturunan yang berbeda marga dan berbeda etnis atau bangsa yang dipersatukan, maka pernikahan itu adalah sakral dan suci,” ujar Tokoh Agama Kong Hu Cu Sulawesi Utara (Sulut) yang juga Ketua Bidang Hukum¬†Majelis Tinggi Agama Khong Hu Cu Indonesia (MATAKIN) Sofyan Jimmy Yosadi, saat diwawancarai Zona Utara beberapa waktu lalu.

Menurut Yosadi, Kong Hu Cu tidak mengenal istilah poligami, karena pernikahan itu adalah satu, tidak bisa terpisahkan.

Namun, bagaimana dalam era perkembangan yang terjadi saat ini jika terjadi perceraian? Yosadi menjawab, dalam pandangan Kong Hu Cu, perceraian memang disesalkan, tapi jika terjadi, alasannya misalnya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) atau kondisi fisik satu pihak dan salah satunya menghendakinya kawin lagi. Hal tersebut otomatis harus diceraikan.

“Hal-hal demikian, walaupun tidak setujui dalam agama tapi dalam realitas terjadi.
Perceraian seperti itu terjadi karena ada kegentingan memaksa atau dalam istilah hukum force majure. Untuk menikah kembali menurut Undang-Undang (UU), harus melalui perceraian baru bisa. Tapi, jika pasangan itu ingin bertahan, dipersilahkan dan itu lebih baik lagi,” katanya.

Yosadi berpandangan, terjadinya suatu perceraian tidak disebabkan karena kesalahan para pemimpin agama yang kurang melakukan pengawasan terhadap jamaah dan umatnya. Sebaliknya, kata Yosadi, pemimpin agama telah melakukan tugasnya dengan benar, lewat pemberian bimbingan dan pembinaan dalam setiap pertemuan ibadah.

“Ketika masuk dalam pernikahan, ada tahapan dari setiap jemaah atau umat yang disampaikan pemimpin agama. Mereka diingatkan dan diarahkan tentang apa itu keluarga, siap lahir batin menjalani hidup ini, serta kesakralan suatu pernikahan dan jangan sampai melakukan perceraian,” ujar pria yang berprofesi sebagai pengacara ini.

Dalam agama Kong Hu Cu, lanjut dia, diperbolehkan bagi yang sudah bercerai dinikahkan kembali. Yang terpenting, menurut Yosadi, semuanya sudah jelas, sudah pisah dan dibuktikan dalam akte perceraian yang berarti sudah melalui proses, hingga tidak bisa dipersatukan lagi.

“Kan semuanya punya kesempatan kedua. Kenapa tidak memberi jalan. Yang punya masa lalu mereka diperbolehkan untuk merubah kembali,” ujarn Yosadi.

 

Editor : Christo Senduk

Advertisement
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

ZONAPEDIA

Menyaksikan Batavia, kota tersohor di Asia Tenggara kala itu lewat Virtual Reality

Merasakan sensasi terbang bersama seekor burung mendatangi kota penting dalam sejarah Nusantara.

Published

on

Rekonstruksi visual Batavia. (@wfm.nl / Rob Tuytel)

ZONAUTARA.com – Museum Westfries di Kota Hoorn, Belanda baru saja membuka pameran untuk memperingati 400 tahun sejak Batavia didirikan. Pameran itu berlangsung pada 30 Mei hingga 5 Januari 2020.

Diberi tajuk “Batavia 1627 VR”, para pekerja multimedia dalam pameran itu berhasil menghidupkan Kota Batavia dalam visualisasi virtual reality.

Pengunjung bisa merasakan sensasi terbang bersama seekor burung dan mendatangi Batavia, kota tersohor dan penting di Asia Tenggara pada masa itu.

Batavia menjadi kota penting dalam perjalanan sejarah Nusantara. Sewaktu Jan Pieterszoon Coen ditunjuk memegang jabatan Gubernur Jenderal VOC pada pertengahan tahun 1618, dia langsung mempersiapkan diri menguasai Jayakarta.

Jayakarta adalah salah satu bandar dagang paling sibuk di Kepulauan Nusantara kala itu. Coen melihat peluang Jayakarta bisa menjadi kota pesisir yang ramai karena lokasinya yang strategis.

Coen ingin memindahkan pusat kegiatan VOC ke Jayakarta yang sebelumnya bernama Sunda Kelapa dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Pajajaran. Ini adalah kerajaan Sunda yang berpusat di Bogor dan eksis hingga tahun 1579.

Pada 30 Mei 1619, Coen berhasil mewujudkan keiginannya. Dengan mengerahkan ribuan pasukan VOC, kota pelabuhan milik Kesultanan Banten itu berhasil direbut. VOC menguasai Jayakarta.

Coen kemudian mengganti nama Jayakarta menjadi Batavia, dan menjadikannya sebagai pusat pemerintahan VOC di Nusantara. Pengukuhan nama Batavia berlangsung pada 4 Maret 1621, sekaligus membentuk pemerintahannya.

Dari Batavia inilah kemudian VOC dan Belanda mengendalikan Nusantara hingga berabad-abad sesudahnya. Kota ini kemudian memberi pengaruh penting di kawasan Asia Tenggara.

Banyak rekonstruksi kondisi Batavia kala itu melalui foto dan grafis. Namun “Batavia 1627 VR” dalam pameran yang digelar di kota kelahiran Coen itu, mampu membawa kita menikmati kondisi Batavia saat itu dalam tampilan 3D.

Cuplikan videonya dapat dilihat disini:

Editor: Ronny Adolof Buol

Continue Reading
Advertisement

DATA KITA

Advertisement
Advertisement

Trending

WP2FB Auto Publish Powered By : XYZScripts.com