Connect with us
Hosting Unlimited Indonesia

HKAN 2018

Penghargaan Kalpataru Diserahkan Menteri LHK Siti Nurabaya

Kalpataru merupakan penghargaan tertinggi di bidang lingkungan hidup di Indonesia. Untuk tahun 2018 ini sebanyak 10 perintis, pengabdi, penyelamat dan pembina lingkungan hidup menerimanya.

Published

on

zonautara.com

BITUNG, ZONAUTARA.com – Sebanyak 10 penerima mendapat penghargaan Kalpataru yang diserahkan langsung oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurabaya, yang didampingi Menteri Kooordinator Perekonmian Darmin Nasution.

Penyerahaan Kalpataru itu dilakukan pada puncak peringatan Hari Konservasi Alam Nasional 2018 yang digelar di camping ground Taman Wisata Alam (TWA) Batuputih, Tangkoko, Bitung, Kamis (30/8/2018).

Kalpataru merupakan penghargaan tertinggi di bidang lingkungan hidup di Indonesia. Untuk tahun 2018 ini sebanyak 10 perintis, pengabdi, penyelamat dan pembina lingkungan hidup menerimanya.

Penghargaan Kalpataru diberikan sejak 1981 silam yang disampaikan pemerintah kepada individu (perseorangan) ataupun kelompok yang dinilai berjasa dalam melestarikan lingkungan hidup baik dalam merintis, mengabdi, menyelamatkan dan membina dalam rangka pengelolaan lingkungan hidup dan kehutanan.

Siti Nurabaya mengingatkan semua kalangan agar bersama-sama menjaga konservasi alam di Indonesia.

“Kita kuat dan kaya akan keanekaragaman hayati tapi ancamannya juga cukup besar oleh karena itu ini bagian dari tantangan yang harus kita hadapi. Konsep untuk pengembangan taman nasional maupun kawasan konservasi adalah bagaimana kawasan-kawasan ini bisa menopang pusat pertumbuhan daerah. Mari kita jadikan konservasi alam sebagai sikap hidup dan budaya bangsa,” ujar Siti dalam sambutannya.

Pemberian penghargaan Kalpataru ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, membuka peluang bagi berkembangnya inovasi dan kreativitas, serta mendorong prakarsa masyarakat, sebagai bentuk apresiasi dan motivasi kepada individu maupun kelompok yang telah berpartisipasi aktif dalam upaya perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup dan kehutanan.

Pemberian penghargaan diberikan berdasarkan hasil sidang Dewan Pertimbangan Penghargaan Kalpataru yang dilaksanakan pada 6 Juni 2018 yang memutuskan 10 penerima Penghargaan Kalpataru.

Inilah nama-nama penerimanya:

  1. Kategori Perintis diberikan untuk Juwari warga RT 01, Dusun Nawungan, Desa Selopamioro, Kec. Imogiri, Kab. Bantul, DIY. Juwari memanen air hujan dengan embung dan mengatasi air untuk pertanian.
  2. Kategori Perintis untuk Oday Kodariyah. Warga Kp.Manggu RT 001 RW 003, Desa Cukang Genteng, Kec. Pasir Jambu, Kab. Bandung, Jawa Barat. Oday adalah pelestari sumber daya genetik tanaman obat.
  3. Kategori Pengabdi, Junaidi warga Komp. Beringin Indah, Sidomulyo Timur, Kota Pekanbaru, Riau. Dia adalag seorang ASN penyuluh kehutanan di Kampar Riau yang menjadikan hutan sebagai pusaka sepanjang masa yang harus dilestarikan.
  4. Kategori Pengabdi, Widodo, warga RT 04, Sorobayan, Gadingsari, Sanden, Kab. Bantul, DIY. Widodo adalah penggerak perani agen hayati bukan pestisida. Dia adalah seorang koordinator petugas pengendali tanaman di Bantul.
  5. Kategori Pengabdi untuk Wutmaili Romuty, warga asal Bere-Bere RT. 01 RW.05, Kel. Batu Meja, Kec.Sirimau, Kota Ambon, Maluku. Dia mendedikasikan keterampilan mengembangkan peralatan untuk perbaikan lingkungan. Wutmaili adalah guru di SMK Negeri 03, Ambon, Maluku.
  6. Kategori Penyelamat diberikan pada Yayasan Lembu Putih Taro Desa Taro, Kec. Tegallalang, Kab. Gianyar, Bali. Kelompok ini melestarikan lembu putih dan Hutan Adat Taro di Gianyar.
  7. Kategori Penyelamat juga diberikan pada Kelompok Tani Ngudi Rejeki Gedoro, Ngelegi, Patuk, Gunung Kidul. Kelompok ini menghijaukan lahan dan menjaga kehidupan.
  8. Kategori Penyelamat untuk Habitat Masyarakat Peduli Alam Raya (HAMPAR) asal Desa Sawo, Kecamatan Campurdarat, Kab. Tulungagung, Jawa Timur. Kelompok ini mereboisasi lahan kritis menyelamatkan Telaga Buret yang menjadi sumber air empat desa di Kecamatan Campurdara.
  9. Kategori Pembina, Bambang Irianto warga Kelurahan Purwantoro Kecamatan Blimbing Kota Malang, Jawa Timur. Dia membina Glintung Go Green, kawasan konservasi perkotaan.
  10. Kategori Pembina Mochamad Indrawan, warga Kelurahan Tanah Baru, Kecamatan Bogor Utara, Kota Bogor, Jawa Barat. Dia seorang pelestari satwa langka dan pembina masyarakat adat Togong Tanga Kabupaten Banggai Kepulauan di Sulawesi Tengah.

Editor: Ronny Adolof Buol

HKAN 2018

Gubernur Sulut Terima Penghargaan Dari Menteri LHK

“Kami sudah menutup 42 tambang supaya pelestarian alam lebih baik,” beber Olly.

Published

on

zonautara.com

BITUNG, ZONAUTAR.com – Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya memberikan penghargaan kepada Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey, pada puncak peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2018, Kamis (30/8/2018).

Penghargaan itu diserahkan atas peran aktif Olly dalam penguatan fungsi pengelolaan Taman Nasional Bunaken dan melaksanakan konservasi ex situ Jalak Bali dan Rusa tutul.

“Saya mengapresiasi Bapak Gubernur yang sangat gigih melestarikan alam. Ini harus menjadi sikap hidup dan budaya bangsa,” ucap Menteri LHK.

Menurut Siti, kampanye konservasi alam harus terus menerus digaungkan oleh seluruh pemangku kepentingan.

“Kehidupan manusia tergantung pada alam, pada sumber daya yang dihasilkan oleh ekosistem alam. Bila semua itu rusak atau musnah pasti berpengaruh kepada kehidupan kita juga,” tandas Siti..

Olly sendiri dalam sambutanya menyatakan bahwa Pemerintah Provinsi Sulut sangat mendukung upaya konservasi, melalui upaya pelestarian alam dengan mengakomodir kawasan hutan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Sulawesi Utara.

“Kita maknai momentum peringatan Hari Konservasi Alam Nasional ini dengan mensyukuri karunia Tuhan akan anugerah sumber daya alam dan keanekaragaman hayati yang melimpah serta diwujudkan melalui upaya konservasi guna menjaga kelestarian alam dan kesinambungan daya dukung lingkungan, sebagai warisan untuk generasi mendatang,” kata Olly.

Olly menuturkan, komitmen untuk menjaga kelestarian alam Sulut telah dibuktikannya dengan tidak menerapkan izin tambang, baik dalam bentuk Kontrak Karya (KK) maupun Izin Usaha Pertambangan (IUP) di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang luasnya dibawah 2.000 meter persegi, serta pencabutan IUP.

“Kami sudah menutup 42 tambang supaya pelestarian alam lebih baik,” beber Olly.

Menurut Olly, dicabutnya puluhan izin tambang itu berdampak positif pada eksistensi kawasan konservasi serta keanekaragaman hayati yang ada di Sulut karena telah memberikan berbagai manfaat antara lain, ekosistem pendukung jasa lingkungan air dan pariwisata.

Salah satu contoh nyata dari manfaat tersebut adalah berkembang pesatnya sektor pariwisata Sulut yang sangat mengandalkan segala potensi keindahan alam serta keanekaragaman hayatinya.

“Kami juga sedang membangun ekowisata. Sektor pariwisata merupakan salah satu leading sektor pembangunan di Sulut. Selama tiga tahun terakhir, terjadi peningkatan yang signifikan terkait jumlah kunjungan wisatawan ke Sulut,” ungkap Olly.

Pencapaian positif sektor pariwisata itu berhasil meningkatkan pertumbuhan ekonomi Sulut meskipun harga sebagian komoditas unggulan Sulut seperti kopra, cengkih dan pala sedang turun.

“Selama tahun 2015 sampai tahun 2017 pertumbuhan ekonomi Sulut selalu berada pada angka diatas 6 persen atau lebih tinggi dari Pertumbuhan Ekonomi Nasional yaitu 5 persen,” kata Olly.

Kinerja perekonomian Sulut tahun 2017 yang diukur berdasarkan besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku tahun 2017 mencapai Rp. 110,16 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp. 79,49 triliun.

Adapun PDRB perkapita mencapai Rp. 44,76 juta rupiah. Ekonomi Sulut tahun 2017 tumbuh 6,32 persen atau menguat dibandingkan tahun 2016 sebesar 6,17; dan jauh lebih baik dibandingkan tahun 2015 yang mencapai 6,12%.

Pertumbuhan ekonomi tersebut juga berdampak pada menurunnya angka kemiskinan. Persentase tingkat kemiskinan Sulut berada di bawah tingkat kemiskinan nasional yang berada pada range 10 – 11 persen. Bahkan di wilayah Pulau Sulawesi, kemiskinan di Sulut adalah yang paling rendah.

Selain itu, pada HAKN 2018 dilakukan penandatanganan pernyataan konservasi alam oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution. Pernyataan itu adalah komitmen menjadikan konservasi alam sebagai sikap hidup dan budaya bangsa Indonesia.

Agenda HKAN 2018 turut dihadiri oleh jajaran Forkopimda, Ketua TP PKK Sulut, Ir Rita Maya Dondokambey-Tamuntuan, Walikota Bitung, Max Lomban dan para peserta peringatan HAKN 2018 dari seluruh Indonesia.

Editor: Ronny Adolof Buol

Continue Reading
Advertisement
Advertisement Hosting Unlimited Indonesia

Trending