Connect with us

HEADLINE

Sekolah dan kampus masih jadi area paling rawan terjadi kekerasan seksual

Published

on

zonautara.com

ZONAUTARA.com – Sepanjang bulan November yang baru saja lewat, ada tiga kasus pelecehan seksual yang menyita perhatian publik secara luas.

Kasus pertama adalah yang menimpah Agni, mahasiswi UGM yang dilecehkan oleh teman satu timnya saat sedang menjalani KKN. Ini kasus sudah cukup lamu dan mencuat kembali ke publik. Agni yang merasa dirugikan malah tidak mendapat dukungan dari kampusnya.

Kedua adalah ketidakadilan yang diterima oleh Baiq Nuril, korban kekerasan seksual verbal oleh mantan atasannya. Dia justru dihukum bersalah oleh Mahkamah Agung karena dianggap melanggar UU ITE.

Dan yang paling anyar, adalah seorang guru SD di Sukabumi yang punya hobi mencium bibir murid perempuan dengan alasan memberi reward. Guru ini belum diberi hukuman dan masih berstatus tersangka.

Komisi Nasional Anti-Kekerasan terhadap perempuan (Komnas Perempuan), mencatat angka kekerasan dan pelecehan terhadap perempuan di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun.

Pada tahun 2017 ada terdapat 348.446 orang yang melapor mengalami kasus pelecehan seksual. Untuk kasus perkosaan ada sebanyak 619 kasus dan persetubuhan atau eksploitasi seksual terdapat 555 kasus.

Data dari Komnas Perempuan juga mencatat ada sebanyak 1.528 kasus kekerasan seksual dilakukan di ranah privat dan dilakukan oleh pacar sendiri. Pelecehan ayah kandung ada sebanyak 425 orang dan yang dilakukan oleh paman sendiri sebanyak 322 kasus.

Di ranah publik angka kekerasan seksual pada 2017 mencapai 2.670 yang terdiri dari 911 kasus pencabulan, 708 kasus pelecehan seksual dan 669 kasus perkosaan.

Data ini menunjukkan kenaikan yang cukup tajam dibanding catatan setahun sebelumnya yang hanya 291.150 kasus.

Walau kasus yang dicatat oleh Komnas Perempuan cukup tinggi, namun banyak kalangan yang meyakini masih banyak korban yang memilih bungkam daripada melapor apa yang dialaminya.

Koordinator pelayanan hukum LBH APIK, Uliarta Pangaribuan, mengatakan rata-rata korban merasa tertekan bila harus menguak identitasnya sebagai korban pelecehan seksual.

Ada beberapa faktor yang melekat. Salah satunya adalah ketakutan dilaporkan balik oleh pelaku dengan dalih pencemaran nama baik. Selain itu, tidak mudah menunjukkan bukti dan saksi dalam kasus pelecehan seksual. Karena biasanya pelecehan seksual dilakukan di lokasi sepi dan tanpa CCTV.

“Misalkan ketika ada korban datang melaporkan kalau dia mengalami kekerasan seksual atau pun pelecehan seksual nah polisi akan menanyakan siapa saksinya, buktinya apa, sementara kita ketahui untuk mendapatkan saksi dan alat bukti itu masih sulit,” ujar Uliarta seperti dikutip dari kumparan.com, Selasa (27/11).

Menurut data pengaduan di Lembaga APIK, paling banyak pelecehan seksual terjadi di kampus dan sekolah. Selain itu area publik juga rawan kasus pelecehan seksual.

“Kayak di UGM misalnya, itu pencitraannya tinggi banget kan sekolah-sekolah itu enggak mau mendorong atau membantu korban untuk proses-proses seperti ini, apa lagi dilakukan oleh pihak sekolah. Biasanya kecenderungannya melindungi, menutupi, terkait nama baik sekolah,” imbuh Uli.

Editor: Ronny Adolof Buol

Bagikan !
Advertisement
4 Comments

4 Comments

  1. Pingback: w88club

  2. Pingback: famous footwear

  3. Pingback: forum

  4. Pingback: forum

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

HEADLINE

2 Juni: bertambah 15 kasus positif corona di Sulut

Jumlah total kasus positif di Sulut sudah mencapai 354 kasus.

Bagikan !

Published

on

Petugas kesehatan sedang berada di bilik disinfektan. (Foto: Zonautara.com/Ronny A. Buol)

ZONAUTARA.COM – Dinamika dan penularan covid-19 di Provinsi Sulawesi Utara masih terus berlangsung hingga kini. Hal itu tercermin dari update perkembangan epidemiologi virus corona yang diumumkan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Pemerintah Pusat.

Dalam update yang dipublikasi melalui situs covid19.go.id, disebutkan bawah hari ini, Selasa (2/6/2020), Sulawesi Utara bertambah 15 kasus baru positif terkonfirmasi covid-19.

Dengan bertambahnya 15 kasus baru positif tersebut, secara akumulatif, kini di Sulut sudah tercatat sebanyak 354 kasus positif.

Kasus positif tersebut tersebar di sejumlah daerah di Sulut. Hanya Kabupaten Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) yang sampai berita ini ditayangkan belum ada kasus positif.

Belum ada rincian secara detil penambahan kasus baru positif yang diumumkan hari ini, baik daerah asal maupun informasi detil kasus secara individual.

Pada Minggu (31/5), Sulut melaporkan ada 17 kasus baru positif, yang membuat total kasus positif corona di Sulut hingga 31 Mei mencapai 339 orang.

Dari 339 kasus positif itu, sebanyak 294 kasus diumumkan pada bulan Mei, sisanya 45 kasus diumumkan pada sepanjang Maret hingga April.

Sementara pada Senin (1/6) kemarin tidak ada kasus baru yang dilaporkan.

Kasus positif pertama kali di Sulut diumumkan pada 14 Maret 2020. Kasus pertama ini adalah seorang laki-laki berusia 51 tahun asal Manado, yang pulang dari ibadah Umroh.

Hingga kini Kota Manado menjadi daerah paling tinggi kasus positif di Sulut. Daerah lain dengan kasus positif yang tinggi adalah Tomohon dan Minahasa.

Bagikan !
Continue Reading
Klik untuk melihat visualisasinya

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com