”PAK Daeng, Pak Daeng”. Suara nyaring seorang perempuan terus memantul dari perangkat pengeras suara. Panggilan itu diulanginya sekali lagi.

Seorang pria tampak celingukan mendengar namanya dipanggil. Kepalanya mendongak. Ia heran mengapa namanya terus disebut-sebut.

Sesaat kemudian seseorang berpakaian oranye bertulis Rumah Zakat, menggamit tangan pria itu lalu mengarahkannya ke tenda. Usianya yang renta, membuat pria itu tak bisa lagi menyimak dengan terang setiap kali namanya disebut.

Hari itu, Pak Daeng terlihat sumringah. Walau langkahnya agak gontai, tapi ia selalu tersenyum kepada setiap pejabat Pemkot atau pejabat dari Rumah Zakat yang datang menyapanya.

”Terima kasih Pak atas kerelaannya,” kata salah satu petinggi Rumah Zakat menjabat erat tangannya.

Demikian pula, saat Rezky Yanuar, Country Brand Sophee Indonesia, merangkul bahunya, kakek sepuh ini tampak tersenyum.

Saat rombongan meninjau unit-unit huntara, Pak Daeng memilih duduk di tenda. Dengan usia 78 tahun, ia tak kuat lagi berjalan mengikuti rombongan yang melangkah cepat.

Dialah Daeng Malatu Dg Paliwa, kakek belasan cucu yang meminjamkan tanahnya seluas satu hektar lebih untuk pembangunan huntara di Kelurahan Talise Valangguni.

Saat ini pemerintah Kota Palu dan relawan, selalu kesulitan mencari lahan untuk pembangunan hunian sementara (huntara) bagi warga terdampak musibah. Munculnya orang-orang seperti Daeng Malatu, yang bersedia meminjamkan tanahnya untuk ditempati orang-orang yang tentu saja tidak dikenalnya, akan sangat membantu.

Pensiunan Guru di SDN 15 Palu ini, mengaku, di usianya yang tak lagi muda itu, ia hanya ingin berbuat amal sebanyak-banyaknya. Tidak ada lagi keinginan lain. Misalnya, memikirkan materi.

Kebetulan 9 orang anaknya sudah dewasa dan mempunyai kehidupan sendiri. ”Saat ini cukup berbaik saja, kebetulan masih diberi kesempatan umur sebanyak ini. Tidak ada lagi pikiran lain-lain soal dunia. Saya pikirnya beramal saja,” katanya.

Ia mengatakan, saat pemerintah Kota Palu bersama Rumah Zakat, mencari tanah untuk pembangunan huntara, ia pun menawarkan tanahnya yang terletak di kompleks perumahan Cipta Pesona Indah (CPI) tak jauh dari Pasar Talise Valangguni itu. Kepada Rumah Zakat, relawan yang membangun huntara di situ, Daeng Malatu mengaku tidak meminta sewa tanah.

Semuanya ia gratiskan sambil menunggu penghuni huntara mendapatkan hunian tetap (huntap) yang akan dibangun pemerintah. ”Saya gratiskan saja. Tidak perlu sewa. Kalau toh dibayarpun saya tidak ambil uangnya,” ujarnya.

Rumah Zakat pun memutuskan, saat nanti seluruh pengungsi telah pindah ke hunian tetap, maka 100 unit huntara tidak akan dibongkar dan menjadi milik Daeng Malatu.

”Tapi bagi saya bukan itu. Mari kita saling membantu di saat saat susah seperti ini,” katanya lagi.[]

Penulis dan foto: Yardin Hasan
Editor: Ika Ningtyas




=======================
Visualisasi data dibawah ini merupakan sajian otomatis hasil kerjasama Zonautara.com dengan Katadata.co.id

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com