Connect with us
Hosting Unlimited Indonesia

Lingkungan dan Konservasi

Hari ini, 100 Tahun Cagar Alam Gunung Lokon

Published

on

TOMOHON, ZONAUTARA.com – Cagar Alam Gunung Lokon yang merupakan ikon di Kota Tomohon berusia 100 tahun, Kamis (21/2/2019).

Pihak Balai Konservasi dan Sumber Daya Alam (BKSDA) pun mengingatkan kepada masyarakat untuk melestarikan alam sekitar termasuk Cagar Alam Gunung Lokon

Kepala Bagian Tata Usaha BKSDA Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) Hendrik Rundengan mengatakan, di Pulau Sulawesi, terdapat tiga Cagar Alam.

“Di Sulawesi Utara terdapat dua Cagar Alam, yakni Cagar Alam Tangkoko Bitung dan salah satunya terdapat di Kota Tomohon, yakni Cagar Alam Gunung Lokon yang telah membilang 100 tahun. Dengan luas kira-kira 700an hektare. Sementara satu lainnya, yakni Bantimurung Sulawesi Selatan,” ungkap Rundengan, di sela-sela perayaan tiga tahun kepemimpinan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tomohon, Rabu (20/2/2019).

Menurut dia, di Cagar Alam Gunung Lokon terdapat satwa endemic Sulut, yaitu Tarsius dan Macaca Nigra. Dia pun mengajak masyarakat untuk terus melestarikan Cagar Alam Gunung Lokon ini.

Sementara itu, Wali Kota Tomohon Jimmy Feidie Eman mengajak, kepada semua pihak untuk menumbuhkan kecintaan kita terhadap alam atau lingkungan, salah satunya Cagar Alam Gunung Lokon yang merupakan ikon di Kota Tomohon.

“Oleh karena itu dukungan pemerintah daerah, masyarakat dan instansi terkait sangat diharapkan untuk menjaga dan menjamin kelestarian cagar alam ini dan alam sekitarnya,” ujar Eman.

Editor : Christo Senduk

Advertisement Hosting Unlimited Indonesia
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lingkungan dan Konservasi

Bangkai duyung terdampar, warga Bahoi langsung kuburkan

Published

on

zonautara.com

MANADO, ZONAUTARA.com – Warga desa Bahoi, Kecamatan Barat, Kabupaten Minahasa Utara dikejutkan dengan terdamparnya seekor duyung, Jumat (29/3).

“Saat terdampaar, duyung itu sudah mati. Berjenis kelamin jantan,” ujar pemantau duyung di Desa Bahoi, Dolfiance Lahading.

Pertama kali bangkai duyung itu ditemukan oleh warga desa, Freki Lahamandu.

Setelah mengevakuasi bangkai duyung, warga Bahoi kemudian menguburkan bangkai mamalia laut itu.

“Sudah dikuburkan, ada beberapa pihak juga yang mendampingi tadi,” jelas Opie.

Pesisir pantai Bahoi di Minahsa Utara menjadi area perlintasan dan habitat duyung.

Area di Minahasa Utara banyak memiliki potensi kelautan dan perikanan, termasuk jenis-jenis yang dilindungi seperti duyung.

Beberapa lembaga lingkungan dan konservasi bekerja di area ini untuk memberikan pendidikan lingkungan dan pemahaman pentingnya upaya pelestarian jenis-jenis dilindungi.

“Tidak ada tanda-tanda kekerasan seperti terkena jerat, tabrakan dengan kapal di tubuh duyung tadi. Mungkin itu mati secara alami karena persaingan dengan jantan lain,” jelas oppi.

Editor: Ronny Buol


Continue Reading
Advertisement
Advertisement Hosting Unlimited Indonesia

Trending