Connect with us

Foto

Sisi lain Abepura: Sastro, 18 tahun jualan putu

Sastro datang dari Brebes, Jawa Tengah dan merasakan kenyamanan berjualan di Abepura.

Bagikan !

Published

on

ABEPURA, ZONAUTARA.com – Suara melengking keluar dari cerobong aluminium yang terpasang di kotak seng. Di dalam kotak itu air didihkan agar beras ketan dan gula aren yang menjadi bahan dasar kue putu matang.

Sastro yang berusia 53 tahun melakoni pekerjaan ini selama 18 tahun. Di Distrik Abepura, sebuah daerah di Kota Jayapura. Dia datang dari Brebes, Jawa Tengah, 19 tahun lalu.

“Saya memilih berjualan putu sejak 18 tahun, setiap dua tahun pulang ke Jawa. Istri dan anak tetap di Jawa, saya cari uang di sini, daerah yang ramah, aman dan saya nyaman berjualan putu,” ujar Sastro yang ditemui Zonautara.com, Jumat (2/8/2019).

Foto: Ronny Adolof Buol

Bagikan !
Hosting Unlimited Indonesia

Foto

Merekam malam di Pasar Bersehati

Rasakan denyut kehidupan yang tak pernah tidur di pasar yang eksis sejak 1973 ini.

Bagikan !

Published

on

ZONAUTARA.com – Suatu malam, di medio Januari 2019, saat hujan terlampau sering menyapa, dan rintik malam itu yang tak mau beranjak, saya menyambangi Pasar Bersehati, salah satu ikon urban Kota Manado.

Pasar yang eksis sejak 1973 ini, nyaris tak pernah tidur. Kapan pun mendatanginya, kehidupan akan menyapa, pun tengah malam, apalagi jelang subuh.

Foto-foto: Ronny Buol

Posisi Pasar Bersehati sangat strategis, terletak bersebelahan dengan Pelabuhan Manado, menjadikan pasar ini sebagai pasar terbesar di ibukota Sulawesi Utara. Bahkan, warga dari Nusa Utara (tiga kabupaten kepulauan di Sulut) dan Maluku Utara datang membeli rempah dan sayuran untuk dijual kembali.

Ratusan kios dan ribuan los dibuka saban hari sejak pukul 3 dinihari. Sayur mayur, rempah dan hasil bumi dipasok dari Minahasa, Tomohon dan Bolaang Mongondow. Sementara pasokan ikan datang langsung dari kapal-kapal penangkap ikan yang sandar di dermaga Kuala Jengki.

Hasil rumah potong hewan sebagian besar juga dipasok ke Pasar Bersehati sebelum beralih tangan ke konsumen terutama restoran dan rumah makan.

Pedagang dari berbagai suku menjadikan Pasar Bersehati sebagai tempat mereka mencari nafkah. Dalam sejarah perjalanannya, para pedagang datang dari gabungan Pasar Ikan (dekat eks Terminal Calaca), Pasar Kuala Jengki dan Pasar 45.

Nama “Bersehati” disematkan sewaktu Nayoan Habel Eman menjabat Walikota Manado (1985-1995). Bersehati merupakan singkatan dari, Bersih, Sehat, Aman, Tertib dan Indah.

Pasar yang bagian atasnya dilewati Jembatan Soekarno ini mencakup kawasan seluas 5 hektar, dan diperluas dengan area reklamasi Kuala Jengki, yang kini menjadi Pasar Buah. Di sekelilingnya ratusan ruko juga menambah denyut ekonomi di Pasar Bersehati.

Di malam hari, Pasar Bersehati tak hanya tempat bertemu pedagang dan pembeli, tetapi juga menjadi tempat tinggal sebagian pedagang dan warga yang tak punya hunian.

Walau masih banyak yang harus dibenahi, tapi kini Pasar Bersehati telah ditata dengan cukup baik. Mendatangi Pasar Bersehati bisa menjadi sarana mengenal perpaduan budaya dari berbagai suku di Sulawesi Utara bahkan dari provinsi lain.

Editor: Ronny Adolof Buol

Bagikan !
Hosting Unlimited Indonesia
Continue Reading

LAPORAN KHUSUS

Advertisement
Advertisement

Trending

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com