Connect with us

PRESS REVIEW

73 ribu titik api, hutan Amazon dilanda kebakaran hebat

Ini merupakan kebakaran kebakaran terburuk sejak 2013.

Bagikan !

Published

on

Foto dari Twitter @cmbenjini

ZONAUTARA.com – Hutan Amazon di Brasil yang menjadi salah satu paru-paru dunia terpenting dilanda kebakaran hebat sejak pekan lalu,

Setidaknya ada 73.000 titik kebakaran yang dideteksi satelit milik INPE (Institut Nasional untuk Penelitian Luar Angkasa) sepanjang tahun 2019 ini.

Angka itu meningkat dua kali lipat jika dibandingkan dengan titik kebakaran tahun lalu. Kebakaran tahun ini juga merupakan kebakaran terburuk sejak 2013.

Sejumlah video yang tersebar di media sosial pada Rabu (21/08/2019) memperlihatkan asap berjelaga membumbung tinggi dari hamparan hutan yang menghijau. Kolom-kolom gelap itu terbawa angin, menyebar hingga jauh ke tenggara, sampai ke negara-negara tetangga seperti Peru dan Bolivia.

Langit kota Sao Paulo, Brasil, yang terletak sekitar 3.000 kilometer dari tempat kejadian, pekat dengan rona hitam. Matahari tertutup asap dan debu.

Hutan Amazon memiliki luas hampir separuh wilayah Amerika Serikat. Diperkirakan, hutan Amazon menghasilkan 20 persen pasokan oksigen di atmosfer bumi.

Amazon juga menjadi tempat hidup bagi tiga juta spesies tumbuhan dan hewan serta timbunan karbon terbesar –yang jika terlepas, akan mengancam pemanasan global.

Para pecinta lingkungan menuding kebakaran dipicu ebijakan Presiden Brasil Jair Bolsonaro yang kelewat getol menggali potensi Amazon untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi. Presiden yang baru dilantik Januari lalu itu mendorong para petani membuka lahan baru guna membangun peternakan sapi.

BBC melaporkan, Kepala Program Amazon dari World Wide Fund for Nature (WWF), Ricardo Mello menyatakan kebakaran itu “merupakan konsekuensi dari deforestasi yang terus meningkat.”

Kebakaran hutan memang lazim terjadi di musim kemarau. Di Brasil, musim panas merupakan saat ketika para petani punya kesempatan membersihkan lahan dengan ongkos yang murah

Sebelum pemerintahan Bolsonaro, Brasil dinilai berhasil mengurangi deforestasi dengan menerapkan sistem denda dan penegakan hukum. Namun presiden baru justru mengkritik sistem denda ini dan malah menyunat bujet pengawasan hutan.

Beberapa pekan lalu, INPE mengumumkan data-data satelit yang menunjukkan deforestasi di Amazon yang kian meluas. Lembaga ini mengingatkan bahwa tingkat pembalakan liar di Amazon sudah berada pada level “berbahaya”.

Namun Bolsonaro menepis data-data tersebut, dan menyatakan bahwa citra satelit itu bohong belaka. Bolsonaro mengatakan peringatan soal deforestasi itu merugikan Brasil dalam negosiasi dagang dengan negara-negara lain.

Bolsonaro balik menuduh para pegiat lingkungan sebagai aktor di balik kebakaran hutan Amazon. Mereka sengaja membakar hutan sebagai balasan atas keputusan pemerintah yang memangkas bujet LSM.

“Itu sebabnya mereka marah dan mencoba menggerakkan kritik internasional kepada saya, kepada pemerintah Brasil. Ini perang yang kita hadapi,” kata Bolsonaro dalam jumpa pers, Rabu (21/8).

Bagikan !
Hosting Unlimited Indonesia

PRESS REVIEW

AJI gelar Festival Media di Jambi

Published

on

JAMBI, ZONAUTARA.comFestival Media Aliansi Jurnalis Independen (AJI) resmi digelar di Aula Gedung Balai DIklat Provinsi Jambi, Sabtu (16/11/2019).

Gubernur Jambi Fachrori Umar didampingi Ketua AJI Indonesia Abdul Manan bersama Sekretaris Jenderal AJI Revolusi Riza dan Ketua AJI Jambi Ramond Eka Putra, membuka langsung Festival Media AJI 209 yang ditandai dengan pemukulan gong.

Fachrori mengapresiasi AJI karena tahun ini menghelat kegiatan festival media di Kota Jambi. Menurut dia, tema literasi yang diangkat sangat relevan dan kontekstual menjawab dinamika perkembangan global yang ditimbulkan dari digitalisasi. Tak terkecuali dampak itu juga dialami oleh media pers.

“Sebagaimana kita ketahui saat ini kita sedang dihadapi fenomena disrupsi, pergerakan dan perubahan yang terjadi sangat cepat. Lahirnya media baru yang lebih inovatif. Digitalisasi membawa dampak pada pemberitaan jurnalistik di mana teknologi digital bisa diakses oleh hampir semua kalangan,” kata Fachrori dalam sambutannya.


Namun, lanjut Fachrori, di tengah penyebaran informasi yang pesat tersebut, sisi negatif digitalisasi juga membawa dampak bagi kebebasan pers. Misalnya informasi yang bias yang kadang juga dimanipulasi oleh pihak-pihak tertentu untuk menebar provokasi.

Gubernur juga mengucapkan selamat datang kepada delegasi AJI Kota se Indonesia ke kota Jambi.

Dia berharap, melalui festival media ini, selain kemampuan menulis, keakraban sesama jurnalis juga makin erat. Ke depan dia berharap, Jambi mendapat kepercayaan lagi untuk perhelatan media sebesar Festival Media AJI ini.

“Semoga Provinsi Jambi diberi kepercayaan lagi untuk bisa melaksanakan event serupa, sehingga dapat menarik minat wisatawan untuk dapat berkunjung ke Provinsi Jambi, sepucuk Jambi sembilan lurah melalui tulisan-tulisan yang dibuat oleh saudara-saudara kita yang tergabung dalam aliansi jurnalis independen,” katanya.

Ketua AJI Abdul Manan mengatakan, Festival Media AJI diselenggarakan setiap tahun yang penyelenggaraannya selalu bergilir dari kota ke kota yang diadakan oleh AJI setempat.

Kebetulan AJI Jambi tahun ini dipercaya menjadi tuan rumah, sementara temanya punya keterkaitan dengan cagar budaya. Jambi menurut Abdul Manan, memiliki aset cagar budaya yang luar biasa seperti kawasan candi muara Jambi.

“Jambi memiliki aset budaya yang punya sejarah panjang. Dan memang cukup menjadi masalah kita saat ini aset yang dimiliki Jambi menghadapi tantangan digitalisasi,” katanya.

Tema festival media AJI ingin mengaitkan nilai-nilai literasi yang terkandung di dalam kekayaan warisan budaya yang dimiliki Jambi.

Saat ini, media mengalami disrupsi yang sangat luar biasa, ditandai ditandai dengan orang berpindah ke gadget atau perangkat telepon pintar. Perubahan juga berdampak penting bagi jurnalis dan media dalam menyampaikan informasi pubik.

“Kita tidak bisa hindari ketika orang paling banyak mengakses informasi melalui media digital. Media bersaing dengan media sosial yang kerap menyebarkan hoaks. Di sinilah tantangannya, publik harus diajarkan bagaimana memeriksa fakta dan cerdas mengonsumsi berita,” kata Abdul Manan.

Menurut dia, informasi dari media sosial tentu berbeda dengan karya jurnalistik. Orang-orang yang menyebarkan informasi di media sosial tidak bekerja dengan kode etik jurnalistik yang menjadi panduan profesi jurnalis.

“Karena itu, literasi sangat dibutuhkan, dan tema itulah sekiranya tepat kita memilih Jambi sebagai tempat acara ini. Acara ini juga salah satu cara AJI mendorong profesionalisme.” katanya.

Abdul Manan juga menyampaikan terima kasih Festival Media ternyata direspon antusias yang besar dari masyarakat Jambi.

Kepada Gubernur, Abdul Manan juga mengucapkan terima kasih atas spanduk ucapan selamat datang yang tersebar di banyak titik dari pemerintah provinsi.

“AJI memang membatasi kerjasama dengan pemerintah dalam banyak hal demi menjaga independensi dan profesionalisme. AJI cukup berterima kasih ketika acara ini disambut oleh banyak masyarakat,” katanya.

Setelah acara pembukaan, dilanjutkan dengan talkshow pemelihaan cagar budaya di era bigdata.

Tiga narasumber membahas eksistensi cagar budaya di era digital. Pembicara antara lain, Ismail Fahmi Pegiat Digital Founder Drone Emprit, Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi Iskandar Mulia Siregar, sejarawan jurnalis AJI Wenri Wanhar.

Selain itu, sejumlah workshop juga berjalan paralel dari siang hingga sore, antara lain workshop menjadi presenter oleh Alfian Rahardjo News Anchor CNN Indonesia, workshop meliput isu lingkungan, dan workshop hoax busting and digital hygiene.

Editor : Christo Senduk

Bagikan !
Hosting Unlimited Indonesia
Continue Reading
Advertisement

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com