Connect with us

POJOK RONNY

Jaga kedamaian bagi Papua

Kita serahkan semuanya kepada pemerintah untuk menangani persoalan ini dengan segera dalam prinsip kedamaian dan keadilan.

Bagikan !

Published

on

Anak-anak Papua sewaktu mengikuti Parade Budaya di Wamena, Jayawijaya. (Foto: Zonautara.com/Ronny A. Buol)

Hari-hari terakhir ini kita disuguhi berita yang tidak mengenakan dari Papua (termasuk Papua Barat). Hingga Minggu (1/9/2019) malam ini, kabar-kabar tentang situasi yang mencekam masih terus berdatangan, terutama di Jayapura.

Aksi protes terhadap tindakan rasial yang dialami mahasiswa Papua di Surabaya terus digelar di beberapa wilayah di Papua maupun di beberapa kota di Indonesia.

Protes itu dapat dimaklumi, sebab masyarakat Papua adalah saudara sebangsa kita. Mereka bukanlah orang lain, yang dapat diperlakukan semena-mena, apalagi dengan tindakan yang dapat merendahkan harga diri serta martabat.

Sebagai bangsa yang menjunjung tinggi perbedaan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika, sejatinya kita harus menaruh hormat pada semua etnis yang hidup bersama sebagai satu bangsa Indonesia.

Frasa “kesatuan” dalam singkatan NKRI itu mencerminkan semangat kita sebagai bangsa yang kuat karena persatuan dan kesatuan dalam berbagai perbedaan. Kesatuan itu juga berarti tidak ada etnis yang lebih mulia dari yang lain. Semuanya sama dan sederajat. Begitulah semestinya kita memaknai NKRI.

Oleh karena itu, jika kemudian masyarakat Papua marah dengan perlakuan rasial maka sepatutnyalah juga kita sebagai satu bangsa yang sama, bersegera meminta maaf.

Disamping itu, aparat penegak hukum harus bertindak tegas tanpa pandang bulu memeroses siapapun yang bertindak rasis dalam kasus di Surabaya.

Presiden Joko Widodo telah menginstruksikan tindakan yang perlu segera diambil oleh aparat hukum. Terduga pelontar kata-kata rasis telah diciduk oleh polisi, dan kita berharap proses hukum selanjutnya segera dilakukan.

Tindakan pemerintah itu tentu juga harus dibarengi dengan kesadaran oleh masyarakat Papua yang menyampaikan protesnya, bahwa penyampaian pendapat tidak perlu dibarengi dengan aksi anarkis dan pengrusakan.

Sudah cukuplah kerusakan fasilitas umum dan aset negara yang terjadi dalam dua pekan terakhir ini. Begitu pula, sudah cukuplah suasana mencekam yang terjadi di tengah masyarakat yang berada di Papua.

Kita serahkan semuanya kepada pemerintah untuk menangani persoalan ini dengan segera dalam prinsip kedamaian dan keadilan. Kita harus mengembalikan aktifitas kehidupan sehari-hari seperti sedia kala.

Himbauan Gubernur Papua, Lukas Enembe, Minggu (1/9), juga kiranya segera direspon oleh Pemerintah Pusat, bahwa sedapatnya TNI dan Polri yang diturunkan di Papua melakukan pendekatan persuasif ketimbang pendekatan kekerasan dan penangkapan.

Kita semua setuju apa yang disampaikan Enembe, bahwa Papua sejatinya adalah miniatur Indonesia yang multietnis, multiagama dan multibudaya. Masyarakat asli Papua adalah masyarakat yang membuka diri bagi etnis manapun di Indonesia untuk hidup di Papua. Oleh karena itu, seharusnya juga masyarakat Papua yang hidup di luar Papua harus mendapat penghormatan yang sama.

Kita semua berharap, komitmen kita sebagai anak bangsa dapat mewujudkan kedamaian dan persatuan demi Papua damai yang berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi dan beretika secara budaya.

Bagikan !
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

POJOK RONNY

Natal, pikirkanlah harmonisasi dengan alam

Kasih Natal yang damai itu bukan hanya bagi sesama, tetapi juga mengirim pesan harmonisasi kedamaian dengan alam.

Bagikan !

Published

on

Hidup dalam kesederhanaan adalah pijakan Yesus Kristus ketika menyebarkan ajarannya semasa hidup. Teladan kesederhanaan semacam itu semestinya juga menjadi pijakan kita umat Nasrani dalam merayakan Natal.

Kasih yang Yesus bawa bukanlah barang mewah yang harus ditebus dengan harta yang paling mahal. Dia menginginkan kita menyebarkan Kasih dengan kerendahan dan dari hati yang paling tulus. Kasih sejatinya bukan perbuatan transaksional melainkan keterpanggilan. Mengasihi sesama manusia tidaklah mungkin dilakukan jika kita tidak mengasihi Tuhan. Itulah inti ajaran Yesus.

Praktik kesederhanaan hidup yang didemonstrasikan Yesus selama hidupnya, semestinya itu juga yang kita ejawantahkan sebagai bagian dari masyarakat Indonesia. Kesederhanaan akan menuntun kita pada kebahagiaan nurani yang tidak mengambil berlebihan dan menghormati hak orang lain.

Kesederhanaan adalah energi kehidupan yang memberi arti dan manfaat yang luar biasa. Dengannya kita menghormati orang lain sebagai sesama makhluk ciptaan Tuhan. Pun demikian kita menghormati alam dengan sikap yang sama. Kita membutuhkan alam, sebab dari sana juga kita menopang kehidupan. Dari alamlah kita memperoleh pangan, papan dan sandang.

Tetapi mengeksploitasi alam secara berlebihan merupakan tindakan yang jauh dari rasa hormat terhadap Pencipta. Alam punya batas toleransi, dan jika kita melewatinya alam akan murka.

Sepanjang 2019, setidaknya hingga 23 Desember, Badan Penanggulangan Bencana Nasional mencatat telah terjadi 3.721 bencana alam di Indonesia. Angka itu hanyalah bencana yang menimbulkan korban jiwa, tidak termasuk bencana alam yang tidak memakan korban jiwa.

Bencana yang dicatat itu meliputi kebakaran hutan dan lahan, tanah longsor, kekeringan, gempa bumi, gelombang pasang, erupsi gunung berapi, puting beliung dan sebagainya.

Di luar bencana yang disebabkan aktivitas geologi, ribuan bencana disebabkan oleh eksploitasi berlebihan manusia terhadap alam, yang justru menopang kehidupannya di dunia.

Saat ini kontinen-kontinen bumi telah disesaki hampir 8 milar manusia. Jika semua orang itu ditempatkan dalam satu timbangan, beratnya akan melebihi 300 juta ton. Jika semua binatang domestikasi (sapi, babi, domba, ayam, dll) dijejalkan di satu tempat, beratnya mencapai 700 juta ton. Sebaliknya berat seluruh binatang liar (maleo, anoa, penguin, harimau, yaki, dsb) tak sampai 100 juta ton.

Layar-layar televisi dan buku-buku anak kita masih dipenuhi dengan jepara, ikan paus, macan tutul, gajah, monyet, dan hewan liar lainnya. Tetapi di alam riil sisanya tinggal sedikit, bahkan beberapa di antaranya telah benar-benar punah.

Jika kita terus-terusan mengeksploitasi alam tanpa memikirkan degradasi ekologis, percayalah satu saat semuanya tinggal sejarah belaka. Bayangkanlah jika kita sebagai manusia hidup di bumi tanpa ditemani makhluk lain.

Ajaran Kasih yang dibawa Yesus ribuan tahun lalu, dan momentum kelahiranNya kita rayakan dengan Natal, semestinya mampu mengingatkan kita tentang kesederhanaan, sebagaimana Dia lahir di tempat yang paling sederhana.

Sudah saatnya kita merenungkan ini dengan sungguh-sungguh, lalu mempraktikkan itu dalam kehidupan kita. Kasih Natal yang damai itu bukan hanya bagi sesama, tetapi juga mengirim pesan harmonisasi kedamaian dengan alam. Pikirkan itu!.

Selamat merayakan Natal.

Ronny Adolof Buol

Bagikan !
Continue Reading

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com