Connect with us

Zona Bolmong Raya

Kepala Puskesmas di Bolmong diperiksa penyidik Tipidkor Polres Kotamobagu

Dugaan penyalahgunaan dana BOK Dinas Kesehatan tahun 2018

Bagikan !

Published

on

LOLAK, ZONAUTARA.com – Tuntutan Ganti Rugi (TGR) yang menjerat ratusan tenaga medis di lingkup Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bolaang Mongondow (Bolmong) bakal berujung pada persoalan hukum.

Terkait hal itu, sejumlah Kepala Puskesmas yang dibawahi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bolmong dipanggil penyidik Tipidkor Satuan Reskrim Polres Kotamobagu.

Dalam surat dengan Nomor: B/363/IX/2019/Reskrim, tertanggal 19 September 2019 perihal klarifikasi yang ditujukan kepada salah satu kepala Kepala Puskesmas dan Bendahara yang ditandatangani Kepala Satuan (Kasat) Reskrim Polres Kotamobagu, AKP Muhammad Fadly, tertulis kepala puskesmas dan bendahara puskesmas diminta hadir dan memberikan klarifikasi di ruang Unit IV Sat Reskrim Polres Kotamobagu, Senin (23/09/2019), sekitar pukul 09.00 Wita.

Dalam surat tersebut, juga disebutkan bahwa saat ini penyidik Tipidkor Satuan Reskrim Polres Kotamobagu sedang melakukan penyelidikan tentang dugaan penyalahgunaan uang transportasi dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) di lingkungan Dinas Kesehatan Kebupaten Bolmong tahun anggaran 2018.

Sehingga untuk kepentingan penyelidikan perkara tersebut, Kepala Puskesmas dan Bendahara yang dipanggil agar membawa serta dokumen yang berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan tersebut, di antaranya fotocopy RKA Puskesmas tahun 2018 secara utuh.

Masih dalam surat tersebut, rujukan permintaan klarifikasi berdasarkan Undang-undang RI Nomor 8 Tahun 1981 tentaang KUHAP. Undang-undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang kepolisian negara republik Indonesia. Undang-undang RI Nomor 31 tahun 1999 sebgaimana yang diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi. Dan surat perintah tugas Nomor: Prin-Gas/620/IX/2019/Reskrim, tanggal 05 September 2019.

Kepala Dinas Kesehatan Bolmong Sahara Albugis saat dimintai konfirmasi, membenarkan adanya pemanggilan sejumlah Kepala Puskesmas di Bolmong.

“Iya, benar. Mereka dimintai klarifikasi masalah TGR BOK. Tidak semua Puskesmas. Baru beberapa saja,” singkatnya saat hubungi via ponselnya, Senin (23/09/2019).

Sayangnya, Kasat Reskrim Polres Kotamobagu AKP Muhammad Fadly masih enggan berkomentar lebih perihal pemanggilan tersebut.

“Klarifikasi aja, ya?! Masih lidik. Nanti tunggu saja waktunya kita akan publis. Kalau sekarang belum, ya?!” jawab AKP Muhammad Fadly singkat melalui sambungan ponsel, Senin (23/9/2019).

Dari hasil pantauan wartawan media ini, sejumlah Kepala Puskesmas di Bolmong menyambangi Mapolres Kotamobagu, Senin (23/09/2019), sekira pukul 09.00 Wita dan langsung memasuki ruang Unit IV Tipidkor Polres Kotamobagu.

Salah satu Kepala Puskesmas yang sempat diwawancarai, mengaku dipangggil penyidik untuk dimintai klarifikasi terkait dana BOK tahun 2018.

“Masalah TGR atas kelebihan pembayaran pada kegiatan belanja operasional kesehatan tahun 2018 lalu,” kata Kepala Puskesmas yang enggan menyebutkan namanya.

Sekadar informasi, berdasarkan Laporan Hasil Pemeriksaan Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia Perwakilan Sulawesi Utara atas pengelolaan keuangan Pemkab Bolmong tahun anggaran 2018, terdapat kelebihan pembayaran uang transport atas kegiatan belanja operasional kesehatan.

Jumlahnya pun tidak sedikit, yakni sekitar Rp 2,3 Miliar yang tersebar di 17 Puskemas di Bolmong. Atas temuan tersebut, berkonsekwensi pada pengembalian kerugian negara atas kelebihan pembayaran.

Penulis: itd

Editor: Rahadih Gedoan

Bagikan !

Hukum dan Kriminal

Warga Sauk geger, tengkorak manusia ditemukan tertancap di batang mangrove

Sulit diidentikasi, diperkirakan berusia puluhan tahun.

Bagikan !

Published

on

BOLMONG, ZONAUTARA.com – Warga Desa Sauk, Kecamatan Lolak sempat dibuat geger dengan penemuan tengkorak manusia di kawasan hutan mangrove desa tersebut.

Tengkorak pertama kali ditemukan Mateos Lagungtihokang (57), warga Desa Baturapa Satu, Kecamatan Lolak yang tengah mencari bibit mangrove.

Kepada wartawan, Mateos mengaku diminta pihak kehutanan untuk mencari bibit mangrove untuk di bawa ke Likupang, Minahasa Utara.

Tepatnya, Kamis (9/1/2020), sekitar pukul 15.00 Wita, dirinya yang hanya seorang diri kaget luar biasa karena mendapati benda yang mirip tengkorak manusia tertancap di batang tanaman mangrove.

Dia langsung pulang ke rumahnya di Desa Baturapa Satu. Dan menceritakan apa yang dia lihat kepada orang-orang sekitar rumahnya. Sepertinya tidak ada yang percaya. Dikira hanya bergurau.

Senin (13/1/2020), saat kerja bakti di gereja, dia kembali bercerita ke beberapa orang. Akhirnya ada yang percaya dan langsung mendatangi lokasi penemuan.

“Tapi saat itu sudah sore. Jadi kita laporkan besoknya ke Polsek Lolak,” kata Mateos.

Selasa (14/1/2020), saat menerima laporan, anggota kepolisian dipimpin langsung Kapolsek Lolak mendatangi lokasi penemuan dan membawa tengkorak itu ke Puskesmas Lolak untuk diperiksa apakah betul itu tengkorak manusia.

Kapolsek Lolak, AKP A.R Faudji SH.MH membenarkan adanya kejadian penemuan tengkorak tersebut.

“Benar warga Desa Sauk menemukan tengkorak manusia bersama pakaian kemeja kotak-kotak. Sejak menerima laporan dari warga setempat, saya bersama anggota langsung turun ke TKP, kemudian membawa tengkorak ke Puskesmas Lolak untuk dilakukan visum,” kata Faudji saat ditemui di ruang kerjanya.

Lanjutnya, saat ini tengkorak tersebut telah diserahkan pihak Polsek ke Pemerintah Desa Sauk untuk dimakamkan. Kata dia, tengkorak tersebut berdasarkan hasil visum diperkirakan telah meninggal sekitar 6-7 tahun yang lalu.

“Namun ketika ada masyarakat yang kehilangan segera melapor ke polsek, kita akan galih kembali agar keluarga bisa mengetahui sepenuhnya bahwa itu benar keluarga mereka. Jenis kelamin pun belum diketahui. Karena diduga tengkorak tersebut meninggal di laut dan terseret arus hingga ke hutan mangrove. Pasalnya hanya tengkorak saja, sedangkan anggota tubuh lainnya tidak ada,” ujarnya.

Dengan adanya penemuan tengkorak itu kata Faudji, pihaknya masih terus mencari dan membuka ruang bagi masyarakat yang kehilangan salah satu anggota keluarga mereka.

“Pastinya kasus ini akan terus didalami sampai diketahui asal tengkorak tersebut,” tutupnya.

Dokter Bagus, yang saat itu melakukan pemeriksaan turut membenarkan adanya pemeriksaan tengkorak manusia yang ditemukan warga. Menurut dia, diperkirakan tengkorak tersebut sudah berusia puluhan tahun.

Di sisi lain, secara medis kata Dokter Bagus, untuk identifikasi sudah sulit dilakukan karena yang ditemukan tinggal tulang tengkorak saja.

“Secara medis ini sulit. Dan kecil kemungkinan untuk bisa teridentifikasi. Karena tidak ada data pendukung lain. Misalnya gigi atau rambut. Tapi ini yang ditemukan hanya tinggal tulang tengkorak saja,” sahutnya.

Menariknya, disaat yang sama, Jumrin Batalipu (50), warga Desa Labuan Uki, Kecamatan Lolak mengaku pernah kehilangan anggota keluarganya pada 2012 silam.

Adalah Rijal Batalipu (24), warga desa Pasir Putih, Kecamatan Lolak yang merupakan keponakan dari Jumrin itu dinyatakan hilang saat memancing ikan di laut Pulau Tiga bersama satu orang rekannya menggunakan perahu.

“Sekitar Januari 2012. Dia berangkat dari rumah bersama rekannya pagi sekitar pukul 07.00 Wita. Pukul 14.00 Wita temannya pulang tapi tinggal dia sendiri. Kemudian memberi kabar kepada keluarga bahwa Rijal jatuh di laut saat memancing dan dia tidak berdaya untuk menolong karena laut bergelombang dan angin cukup kencang saat itu,” ungkap Jumrin kepada sejumlah wartawan di Mapolsek Lolak, Selasa (14/1/2020).

Tapi dari pihak keluarga saat itu merasa ada kejanggalan dari semua cerita yang disampaikan rekan korban. Berbelit-belit dan tidak masuk di akal. Keluarga langsung melaporkan ke aparat kepolisian dan langsung melakukan pencarian bersama beberapa warga. Sayang tidak membuahkan hasil.

“Rijal hilang sampai sekarang,” tuturnya.

Dari kepolisian juga saat itu hanya menyimpulkan bahwa itu kecelakaan karena tidak ada saksi mata ataupun barang bukti yang mengarah ke dugaan-dugaan lain.

“Atas hasil tersebut pihak keluarga hanya bisa pasrah. Dan sampai hari ini tidak diketahui apa yang sebenarnya terjadi. Yang ditemukan ini juga hanya tengkorak kepala saja. Jadi tidak bisa diketahui itu tengkorak siapa. Kalau ada uang mungkin bisa dilakukan pemeriksaan lebih dalam lagi,” pungkasnya.

 

Editor: Ronny Adolof Buol

Bagikan !
Continue Reading

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com