Connect with us

Lingkungan dan Konservasi

Diduga kesetrum listrik, 5 gajah Sumatera ditemukan mati

BKSDA Aceh dan kepolisian masih menyelidiki temuan ini.

Bagikan !

Published

on

Sumber: istimewa

ZONAUTARA.com – Kepolisian dari Polres Aceh Jaya masih menelusuri dan mencari tahu soal kematian lima ekor gajah Sumatera yang ditemukan sudah dalam kondisi tinggal tulang belulang.

Pada Rabu (1/1/2020), petugas dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh menemukan tulang belulang dua ekor gajah di Desa Tuwi Pria, Aceh, setelah mendapat laporan dari warga.

Kepala BKSDA Aceh Agus Arianto menjelaskan bahwa ada lima ekor gajah yang ditemukan tinggal tulang belulang. Dua ekor gajah yang ditemukan pertama saling berdekatan hanya terpaut jarak sekitar 50 meter.

Pada Kamis (2/1), petugas BKSDA Aceh kembali melakukan pencarian di desa yang sama dan mendatangi enam titik lokasi lain. Ada tiga ekor gajah lagi yang ditemukan sudah dalam kondisi tinggal tulang belulang.

Kematian gajah-gajah tersebut diduga terkena arus listrik. Di sekitar lokasi penemuan tulang belulang gajah ada pagar listrik yang dipasang untuk melindungi perkebunan sawit masyarakat.

“Ada lima ekor gajah dari fisik tengkorak dan rahang. Empat tengkorak dan rahang ditemukan di lapangan serta tulang belulang lainnya. Tapi yang meyakini kami lima ekor itu tadi tengkorak kepala ada empat dan satu rahang. Dugaan sementara karena listrik dari pagar-pagar listrik yang ada di lokasi dimaba gajah tersebut ditemukan mati,” kata Agus sebagaimana dilansir VOA, Kamis (2/1) malam.

Lanjut Agus, saat ini kepolisian masih menelusuri dan mencari tahu pasti serta mengumpulkan barang bukti.

“Itu (indikasi dibunuh) masih diproses oleh pihak Polres Aceh Jaya. Itu perkebunan masyarakat tapi lebih jauh pihak kepolisian yang akan menelusurinya,” ucapnya.

BKSDA Aceh mengimbau kepada masyarakat untuk menjaga kelestarian alam khususnya gajah Sumatra dengan cara tidak merusak hutan yang merupakan habitat berbagai jenis satwa liar.

BKSDA Aceh juga berharap agar masyarakat tidak lagi menggunakan pagar listrik yang bertegangan tinggi untuk melindungi kebunnya. Bukan efek kejut yang ditimbulkan namun bisa membahayakan satwa liar dan juga manusia.

Tak ada gading

Sementara itu, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Indonesia (WALHI) Aceh, Muhammad Nur mengatakan saat ini masyarakat di wilayah yang kerap dilintasi gajah Sumatera telah menganggap satwa tersebut sebagai hama. Terbukti banyaknya ditemukan pagar listrik untuk melindungi kebun milik masyarakat.

“Pagar listrik itu dipasang pada jalur perlintasan gajah. Itu tempat hidupnya gajah yang memang jalurnya satwa liar tersebut. Artinya warga sudah melihat gajah itu sebagai hama, tidak lagi satwa dilindungi. Ini kondisi yang cukup berbahaya,” katanya kepada VOA.

WALHI Aceh menilai kematian lima ekor gajah Sumatera di Kabupaten Aceh Jaya merupakan kejadian luar biasa, karena daerah tersebut tidak termasuk wilayah dimana kerap terjadi konflik antara gajah dengan manusia.

WALHI Aceh menduga ada yang dengan sengaja membunuh gajah-gajah tersebut. Kata Nur, bukti lain menurut kepolisian tidak ditemukan gading pada saat penemuan tulang belulang lima gajah tersebut.

“Artinya gading itu bisa saja bukan target utama tapi karena satwa itu mengganggu perkebunan sehingga dibunuh dengan listrik. Kami duga ada bisnis gading gajah yang tersembunyi dan terselubung. Pada akhirnya tahu juga publik bahwa di sana ada banyak gajah. Sehari-hari gajah ke Kabupaten Bener Meriah mencari makan tapi hidup populasinya itu di Aceh Jaya,” jelas Nur.

Berdasarkan International Union for Conservation of Nature and Natural Resources (IUCN) Red List of Threatened Species, gajah yang hanya ditemukan di Pulau Sumatera ini berstatus Critically Endangered atau spesies yang terancam kritis, berisiko tinggi untuk punah di alam liar.

Editor: Ronny A. Buol

Bagikan !
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Lingkungan dan Konservasi

5 orang petambang emas tanpa ijin ditangkap di TN Bogani Nani Wartabone

Ikut diamankan satu unit eskavator.

Bagikan !

Published

on

KOTAMOBAGU, ZONAUTARA.COM – Tim Gabungan dari Satuan Polisi Kehutanan Reaksi Cepat (SPORC) Seksi Wilayah III Manado – Balai Gakkum Wilayah Sulawesi bersama dengan Polisi Kehutanan Balai Taman Nasional Bogani Nani Wartabone serta Satuan BRIMOB Batalyon B Inuai, berhasil menyita peralatan petambang emas tanpa ijin di kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone.

Adapun peralatan yang disita tersebut berupa satu satu unit eskavator, Ikut diamankan lima orang pelaku.

Dari hasil pemeriksaan PPNS LHK Balai GAKKUM LHK Wilayah Sulawesi ditetapkan dua orang yaitu HA (37) dan SM (38) sebagai tersangka atas kegiatan tambang emas tanpa ijin tersebut.

Pada Jumat, 21 Februari 2020, kedua tersangka HA (37) dan SM (38) ditahan oleh PPNS LHK Balai Gakkum LHK Wilayah Sulawesi dan dititipkan di RUTAN Kelas II B, Kota Kotamobagu.

Barang bukti eskavator untuk sementara diamankan di Kantor Balai TN. Bogani Nani Wartabone.

Dari rilis yang diterima Zonautara.com, kasus ini bermula dari Kegiatan Patroli Resort Based Management (RBM) Balai TN. Bogani Nani Wartabone, yang melaporkan adanya kegiatan tambang emas tanpa ijin di lokasi Potolo, Desa Tanoyan Selatan.

Laporan itu dan kemudian ditindaklanjuti oleh Tim Gabungan SPORC, Polisi Kehutanan Balai TN. Bogani Nani Wartabone dan Satuan BRIMOB Batalyon B Inuai.

Kedua tersangka dijerat pasal 89 ayat (1) jo Pasal 17 Ayat (1) huruf a dan b Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Pengrusakan Hutan, dengan ancaman hukuman penjara paling lama 15 (lima belas) tahun serta denda paling banyak Rp. 10 miliar.

Kepala Balai TN. Bogani Nani Wartabone, drh. Supriyanto menyayangkan kegiatan ilegal tesebut.

“Penambangan emas tanpa ijin di Kawasan TN. Bogani Nani Wartabone dapat mengakibatkan kerusakan ekosistem Taman Nasional Bogani Nani Wartabone,” ujar Supriyanto, Senin (24/2/2020).

Sementara itu Kepala Balai Gakkum LHK Wilayah Sulawesi, Dodi Kurniawan, S.Pt, MH menyatakan akan berkomitmen terus melakukan upaya pencegahan dan pemberantasan pengrusakan lingkungan hidup dan kehutanan termasuk kegiatan yang dapat merusak Kawasan Taman Nasional.

“Dari kegiatan penambangan emas tanpa ijin di Kawasan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone ini diharapkan penangkapannya dapat dikembangkan ke aktor intelektualnya, untuk memberikan efek jera,” tegas Kurniawan.

Editor: Ronny Adolof Buol

Bagikan !
Beri Donasi
Continue Reading

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com