Connect with us

Lingkungan dan Konservasi

Hutan Magrove lindungi ratusan hektar areal persawahan di Babo

Safri: Kondisi mangrove di Babo dulunya hampir kritis. Ada 75 hektar yang perlu ditanami kembali.

Bagikan !

Published

on

BOLMONG, ZONAUTARA.com – Kebanyakan desa mengusulkan pembangunan infrastruktur fisik dalam setiap musyawarah perencanaan pembangunan (Musrenbang), seperti jalan, jembatan, irigasi, pertanian serta perkebunan.

Ada juga dalam bentuk non fisik seperti pembangunan sumber daya manusia, ekonomi, kesehatan dan pendidikan. Intinya, yang diusulkan adalah program kegiatan yang bersentuhan langsung dengan peningkatan sektor perekonomian masyarakat setempat.

Namun, berbeda dengan usulan yang ditelorkan pemerintah dan masyarakat Desa Babo, kecamatan Sang Tombolang, Kabupaten Bolaang Mongondow.

Pada tahun 2018 lalu, pemerintah desa dan masyarakat Babo justru mengusulkan pengadaan bibit tanaman mangrove. Tak sekadar main-main. Usulan tersebut dikawal mulai dari Musrenbang tingkat desa, kecamatan hingga ke tingkat kabupaten.

“Kondisi mangrove di Babo dulunya hampir kritis. Itu lantaran masih maraknya pembabatan pohon mangrove yang dilakukan masyarakat untuk digunakan membangun rumah. Bahkan sekadar untuk membuat pagar serta keperluan lainnya,” kata Sangadi (kepala desa,red) Babo, Safri Lauso, saat ditemui di kediamannya, Senin (20/1/2020).

Sejak dilantik medio 2016 lalu, Safri secara tegas melarang masyarakat melakukan penebangan tanaman mangrove. Dirinya menaruh perhatian khusus bagi ekosistem mangrove di desanya.

Masyarakat diberi pemahaman terkait pentingnya ekosistem mangrove. Upaya rehabilitas pun mulai dilakukan secara swadaya. Sayangnya, terkendala biaya untuk pengadaan bibit. Hingga pada akhirnya, 2018 lalu, pemerintah desa dan masyarakat bersepakat untuk minta bantuan pemerintah daerah.

Caranya, dengan mengusulkan pengadaan bibit mangrove saat musyawarah Musrenbang. Mulai dari tingkat desa hingga hingga kabupaten.

“Usulan ini kita kawal hingga ke Musrenbang tingkat kabupaten. Dan Alhamdulillah disetujui untuk dianggarkan pada 2019,” ungkap Safri.

Kepala Seksi Kerusakan dan Pencemaran, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bolmong, Marniati, membenarkan hal tersebut. Menurut dia, berdasarkan usulan pemerintah dan masyarakat Desa Babo, pihaknya menganggarkan pengadaan 1.400 bibit tanaman mangrove pada RKA Dinas Lingkungan Hidup tahun anggaran 2019.

“Anggarannya sekitar 5 jutaan rupiah. Dan itu sudah terealisasi dan dilakukan penanaman pada Desember 2019,” jelas Marniati, saat ditemui di ruang kerjanya, belum lama ini.

Disisi lain, Safri menambahkan, pihaknya masih akan terus mengusulkan pengadaan bibit mangrove. Pasalnya, 1.400 bibit yang diadakan 2019 lalu, belum mampu menutupi sekitar 75 hektar luasan hutan mangrove di Babo yang terbilang kritis.

Safri menuturkan, kebaradaan hutan mangrove sangat penting bagi keberlangsungan hidup Desa Babo. Selain mencegah berbagai macam bencana seperti air pasang bahkan tsunami, abrasi pantai, dan tempat berkembang biaknya berbagai hewan laut, kawasan hutan mangrove di Desa Babo juga menjadi benteng terhadap ratusan hektar areal persawahan milik warga.

“Kalau mangrove rusak, maka lama kelamaan air laut akan naik hingga ke areal persawahan warga. Mangrove itu yang menjadi pembatas antara pesisir pantai dengan lahan persawahan. Sehingga mangrove itu harus dijaga. Tidak boleh ada yang merusak itu,” pungkasnya.

Penulis: Marshal D
Editor: Ronny A. Buol

Bagikan !

Lingkungan dan Konservasi

Ketambahan 21 spesies baru, Indonesia punya 1.794 spesies burung

Ada empat spesies yang keluar dari daftar sebelumnya.

Bagikan !

Published

on

Foto: Burung Indonesia

ZONAUTARA.COM – Indonesia kini memiliki 1.794 spesies burung setelah penambahan 21 spesies baru hingga awal 2020.

“Berdasarkan catatan kami ini mencakup keluarnya empat spesies dari daftar 1.777 spesies menjadi 1.773 spesies, namun ada penambahan 21 spesies baru sehingga totalnya kini 1.794 species burung,” kata Research & Communication Officer Burung Indonesia, Achmad Ridha Junaid dalam keterangan resmi dikutip Senin (17/2/2020).

Ada tujuh spesies burung yang baru dideskripsikan (newly described species), termasuk Myzomela alor (Myzomela prawiradilagae) dan cabai kacamata (Dicaeum dayakorum).

Perkembangan ilmu ornitologi dan taksonomi, membantu identifikasi 14 spesies burung dari hasil pemisahan spesies terdahulu (split species).

Sementara Myzomela alor diumumkan sebagai spesies baru pada Oktober 2019. Burung endemis Pulau Alor ini menghuni habitat pegunungan pada rentang ketinggian 900-1.270 mdpl.

Menurut Achmad, empat spesies yang sebelumnya dianggap sebagai spesies tersendiri, melalui studi terbaru, diketahui masih merupakan subspesies dari spesies yang telah dikenal sebelumnya.

“Sebagai contoh sikatan tanajampea (Cyornis djampeanus), yang sebelumnya dikenal sebagai spesies endemis di Pulau Tanajampea, ternyata masih memiliki kemiripan dengan sikatan sulawesi (Cyornis omissus). Sehingga sikatan tanajampea dikelompokkan sebagai subspesies sikatan sulawesi,” ujarnya.

Sedang spesies baru lainnya yaitu cabai kacamata atau spectacled flowerpecker.

Semua itu memerlukan kajian mendalam dalam waktu lama hingga akhirnya para ilmuwan memperkenalkannya sebagai spesies baru yang kemudian diberi nama ilmiah Dicaeum dayakorum.

Nama tersebut terinspirasi sekaligus untuk menghormati Suku Dayak yang memiliki pengetahuan lokal luar biasa tentang flora dan fauna di tanah kelahiran mereka.

Selain itu, lanjut Ahmad, lima spesies burung lainnya yang baru bagi sains yaitu kipasan peleng, ceret taliabu, myzomela taliabu, cikrak peleng, dan cikrak taliabu. Tiga spesies berasal dari Pulau Peleng, Provinsi Sulawesi Tengah dan dua spesies lainnya berasal dari Pulau Taliabu (Provinsi Maluku Utara).

Penambahan jumlah spesies secara signifikan ini terjadi akibat perkembangan ilmu pengetahuan ornitologi dan taksonomi. Atas dasar perbedaan tersebut, beberapa subspesies kemudian diakui sebagai spesies yang berbeda dan menjadi spesies tersendiri.

Secara terperinci split species tersebut terdiri dari tiga spesies burung uncal/merpati, tiga spesies nuri, satu spesies merbah/cucak, tiga spesies sikatan, dan empat spesies burung kacamata.

Pada penghujung 2019, Badan Konservasi Dunia (IUCN) juga telah memperbarui Daftar Merah Spesies Terancam Punah (IUCN Red List of Threatened Species) di dunia dan diikuti oleh BirdLife International yang mengumumkan 11.147 spesies burung di dunia.

Infografis dari Burung Indonesia.

Editor: Ronny Adolof Buol

Bagikan !
Continue Reading

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com