Connect with us

Ekonomi dan Bisnis

Menimbang terbaik antara rokok tembakau atau rokok elektrik

Rokok elektronik 95 persen lebih tidak berbahaya bagi kesehatan.

Bagikan !

Published

on

zonautara.com

ZONAUTARA.com – Persoalan kebiasaan merokok bagi seseorang memang tak mudah diatasi. Apalagi kebiasaan di Indonesia. Wajar saja jika di Indonesia produksi per tahun dari sekitar 400 perusahaan rokok tembakau mencapai 252 miliar batang.

Di antara kecemasan penurunan produksi sekitar 20 persen akibat ancaman rencana pemberlakuan kenaikan tarif cukai rokok oleh pemerintah yang rata-rata sebesar 21,56 persen dan juga kenaikan harga jual eceran mencapai 23 persen, rokok tembakau kini punya penantang baru, yaitu rokok elektrik.

Sementara bila ditimbang mana yang terbaik, rokok elektrik dinilai lebih unggul. Ranti Fayokun, peneliti National Capacity-Tobacco Control Prevention of Noncommunicable Diseases dan juga perwakilan WHO, menyatakan bahwa produk rokok konvensional atau rokok tembakau lebih berbahaya dibandingkan dengan rokok elektrik.

zonautara.com
Ilustrasi (Pixabay.com)

Pernyataan Fayokun tersebut disampaikan dalam sesi dengar pendapat yang diadakan oleh House of Representatives Philipina, Desember 2019, seperti yang dirilis Suara.com. Fayokun mengatakan, pernyataannya tersebut didukung berdasarkan hasil penelitian Public Health England, yang merupakan bagian dari Department of Health and Social Care United Kingdom.

Duncan Selbie selaku Chief Executive Public Health England menyatakan bila rokok elektronik 95 persen lebih tidak berbahaya bagi kesehatan dibandingkan rokok biasa, serta berpotensi membantu perokok untuk berhenti.

Memang vape tidak 100 persen aman, namun kebanyakan zat yang menyebabkan penyakit karena merokok tidak ditemukan pada vape, serta bahan kimia yang ada menimbulkan bahaya yang terbatas.

Pernyataan dari Fayokun diperkirakan akan berpengaruh bagi pengguna vape dan rokok elektrik di Indonesia. Di Indonesia sendiri, hingga Desember 2019 pengguna vape di Indonesia sudah mencapai satu juta orang. Data tersebut diperoleh dari Asosiasi Personal Vaporizer Indonesia.

Berdasarkan berbagai penelitian, produk alternatif ini memiliki profil risiko lebih rendah dibandingkan rokok konvensional yang dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, seperti kanker, serangan jantung, diabetes dan lainnya. Di sisi lain, pengguna vape di Indonesia berasal dari berbagai kalangan profesi.

Sementara Ketua Umum Aliansi Pengusaha Penghantar Nikotin Elektronik Indonesia (APPNINDO) Syaiful Hayat mengatakan bahwa APPNINDO menyambut baik hasil penelitian mengenai rokok elektrik. Pada kenyataannya, rokok elektrik lebih aman dari rokok konvensional karena risiko terhadap kesehatan yang ditimbulkan jauh lebih rendah.

“Hal tersebut menjadikan rokok elektrik sebagai alternatif bagi rokok konvensional. Kami terbuka untuk diskusi agar peraturan terkait rokok elektrik di Indonesia dapat menunjukkan dampak positif untuk produktivitas dan kesehatan masyarakat,” lanjutnya.

Bagikan !
Advertisement
Click to comment

You must be logged in to post a comment Login

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Ekonomi dan Bisnis

Miliarder bertambah, ketimpangan dengan si miskin semakin tinggi

Ada 2.153 miliarder di seluruh dunia yang kekayaannya setara 4,6 penduduk termiskin.

Bagikan !

Published

on

Ilustrasi. (Pixabay.com)

ZONAUTARA.COM – Laporan lembaga nirlaba asal Inggris, Oxfam, menyebutkan, jumlah miliarder dari seluruh dunia semakin bertambah. Mengutip laporan Forbes dan Bank Swiss Credit Suisse, saat ini tercatat 2.153 miliarder di seluruh dunia.

Ironinya, kekayaan yang dimiliki para miliarder itu semakin membuka jurang ketimpangan dengan penduduk miskin. Kekayaan 22 miliarder dari daftar itu saja sudah lebih banyak dari harta apa saja yang dimiliki seluruh wanita di Afrika.

Jika semua kekayaan 2.153 miliarder itu digabungkan, maka itu setara dengan harta 4,6 miliar penduduk termiskin di planet ini.

Ironi lain kata Oxfam juga terjadi. Di tengah peningkatan kekayaan para miliarder tersebut, jumlah perempuan dan gadis miskin justru banyak.
Mereka banyak yang bekerja, tapi tidak dibayar secara layak.

“12,5 miliar jam pekerjaan tidak dibayar setiap hari dengan nilai setidaknya mencapai US$10,8 triliun per tahun,” kata mereka seperti dikutip dari AFP, Senin (20/1/2020).

“Ekonomi kita yang hancur berbaris di kantong para miliarder dan bisnis besar dengan mengorbankan laki-laki dan perempuan biasa. Tidak heran orang-orang mulai mempertanyakan apakah para milyarder seharusnya ada,” kata kepala Oxfam dari India Amitabh Behar.

Ia mengatakan ketimpangan tersebut perlu segera diatasi. Tapi, untuk menyelesaikan masalah tersebut semua pihak perlu bekerja sama dalam membuat kebijakan yang tepat. | CNN Indonesia

Editor: Ronny A. Buol

Bagikan !
Continue Reading

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com