bar-merah

Saat Agustus berpindah ke kandang habituasi, memimpin kelompok “Yaki Panta Merah” sebelum bebas

Rilis yaki
Relawan dari komunitas pecinta alam di Kotamobagu membantu proses pemindahan Yaki yang akan dilepasliarkan. (Foto: Zonautara.com/Ronny A. Buol)

MODAYAG, ZONAUTARA.COM – Siang itu, Sabtu (15/8) wajah Agustus kebinggungan, matanya jelalatan menatap puluhan orang. Dia berada di dalam kandang kecil yang baru saja diturunkan dari truk, usai menempuh perjalanan lebih dari 100 kilometer dari Pusat Penyelataman Satwa (PPS) Tasikoki di Minahasa Utara.

Pagi sebelumnya, Agustus bersama 10 ekor Yaki panta merah dilepas dalam sebuah acara kecil di PPS Tasikoki. Nama Agustus disematkan pada seekor jantan Yaki (Macaca nigra) atau monyet hitam sulawesi yang direhabilitasi di PPS Tasikoki.

Kesebelas ekor primata endemik pulau Sulawesi bagian utara ini adalah sebagian kecil dari Yaki yang direhabilitasi di PPS Tasikoki. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Utara yang menyita satwa liar dilindungi ini menitip mereka di PPS Tasikoki.

Operasi penyitaan dilakukan pada aktifitas perdagangan satwa liar atau kepemilikan ilegal satwa liar yang dilindungi undang-undang. Yaki masuk dalam satwa liar dilindungi karena statusnya yang critically endangered sesuai daftar IUCN.

Rilis yaki
Relawan dari komunitas pecinta alam di Kotamobagu membantu proses pemindahan Yaki yang akan dilepasliarkan. (Foto: Zonautara.com/Ronny A. Buol)

“Saya senang tetapi sekaligus sedih,” ujar Dokter hewan PPS Tasikoki, Annisa Rachmawati ketika menangani Agustus dan kawan-kawannya yang baru saja diturunkan dari truk.

Selain Annisa, beberapa staff PPS Tasikoki ikut serta mengawal pemindahan kelompok Agustus dari pusat rehabilitasi di Minahasa Utara itu ke wilayah Cagar Alam Gunung Ambang.

“Kami sudah melakukan serangkaian survey sebelum memutuskan Ambang sebagai lokasi pelepasliaran nanti,” ujar Kepala Seksi Wilayah Satu BKSDA Sulut, Yakub Ambagau.

Usai tim pemindahan makan siang, kandang Agustus dan kelompoknya kemudian ditandu menuju kandang habituasi yang sudah disiapkan.

Sekelompok anak muda dari Mapala Wallacea Universitas Dumoga Kotamobagu dan beberapa Kumunitas Pecinta Alam (KPA) seperti KPA Maleo, KPA Kano Kano, KPA Gorilaz dan Sfc SLABOR ikut membantu menjadi relawan.

“Total relawan yang terlibat ada sebanyak 15 orang,” ujar Koordinator relawan pemindahan, Arman M.

Anak Yaki bersama induknya yang juga akan dilepasliarkan. (Foto: Zonautara.com/Ronny Adolof Buol)

Jalur pemindahan yang melewati beberapa kebun warga di Modayag, Bolaang Mongondow Timur lumayan menguras tenaga. Apalagi Agustus sering bergerak. Mungkin dia merasa asing dengan proses pemindahannya.

“Tapi sudah waktunya mereka dilepasliarkan. Sebelum benar-benar dilepas, kelompok Yaki ini akan menjalani habituasi dulu. Rencananya akhir bulan ini baru akan dilepasliarkan,” ujar Manager PPS Tasikoki, Billy Lolowang.

Pejantan alfa yang memimpin kelompok Yaki yang untuk pertama kalinya dilepasliarkan di alam ini, diberi nama Agustus, karena lahir pada bulan Agustus.

“Yaki yang menjadi pemimpin itu lahir pada bulan Agustus 2009, dari induknya yang diselamatkan dan direhabilitasi di PPS Tasikoki. Sekarang pada bulan Agustus ini juga dia akan dikembalikan ke tempat tinggal yang sebenarnya,” jelas Billy.

Billy berharap kembalinya kelompok Agustus ke alam liar di bulan peringatan Hari Konservasi Alam Nasional (10 Agustus) dan juga bulan peringatan hari Kemerdekaan RI (17 Agustus), dapat menjadi momentum bagi kemerdekaan Yaki dan momentum kebangkitan upaya konservasi di Sulawesi Utara.

Animal Behavior Specialist di PPS Tasikoki, Robbi menyebut bahwa kelompok Agustus termasuk kelompok Yaki yang beruntung dapat kembali ke habitat alaminya di alam liar.

“Saudara-saudaranya mungkin telah mati ditembak atau dirantai sebagai hewan peliharaan, bahkan berakhir sebagai hidangan makanan,” ujar Robbi.

Kegiatan Pelepasliaran Yaki ini diharapkan dapat menambah jumlah populasi Yaki di alam sehingga kembali tercipta keseimbangan ekosistem, selain itu kegiatan ini juga diharapkan dapat menjadi menjadi sarana edukasi konservasi dan dapat meningkatkan kepedulian para pihak terhadap konservasi satwa liar.

Jika upaya konservasi Yaki tidak dilakukan dari sekarang, maka populasi Yaki akan semakin terancam dan mendekati ambang kepunahan.

Terancam punah

Yaki merupakan satwa liar yang dilindungi di Indonesia berdasarkan UU RI No. 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya dan Permen LHK No. 20 tahun 2018 tentang Penetapan Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi.

Populasi Yaki, yang merupakan satu dari delapan jenis Macaca endemik Sulawesi ini diperkirakan kurang dari 100.000 ekor sejak tahun 1998.

Dari beberapa penelitian, Yaki dapat dijumpai di wilayah Sulawesi Utara, antara lain di Cagar Alam Dua Saudara, Pulau Bacan, Menembo Nembo, wilayah Bolaang Mongondow dan di Modayag.

zonautara.com
Yaki dipotret di Taman Wisata Alam Batuputih Tangkoko (Foto: zonautara.com/Ronny Adolof Buol)

Saat ini jumlah monyet hitam sulawesi semakin berkurang bahkan menghadapi kepunahan. Aktivitas perburuan liar menjadi faktor terbesar berkurangnya populasi Macaca di alam.

Daftar merah IUCN telah lama memasukkan monyet hitam sulawesi dalam daftar status konservasi Critically Endangered (kritis). CITES juga memasukkan satwa endemik ini dalam Apendix II, yang artinya spesies ini tidak segera terancam punah tetapi akan terancam punah bila perdagangan terus berlanjut tanpa adanya pengaturan.

Secara morfologi, Yaki mempunyai tinggi sekitar 44-60 cm dengan berat badan 7-15 kg. Tubuh dan wajah Yaki berwarna hitam kecuali bokongnya yang berwarna merah muda, sehingga orang lokal menyebutnya “yaki panta merah”.

Satwa yang hidup berkelompok ini mempunyai bulu lebat di punggungnya dan mempunyai tekstur yang halus. Yaki juga memiliki jambul di depan kepalanya.

Biasanya monyet jenis jantan seperti Agustus, akan berkelahi untuk memperebutkan wilayah, pakan dan betina. Satwa ini aktif di pagi sampai sore hari atau diurnal.

Sebelum dilepasliarkan, Agustus bersama Yaki lainnya akan menjalani proses adaptasi lingkungan baru di kandang habituasi. (Foto: Zonautara.com/Ronny A. Buol)

Di alam, kawanan monyet ini dapat dijumpai pada hutan primer dan sekunder. Wilayah jelajahnya berkisar antara 114 hingga 320 hektare dengan jangkauan jelajah harian mencapai 6 kilometer.

Yaki termasuk pemakan buah-buahan atau menjadikan buah sebagai makanan utamanya. Mereka akan memakan buah sebanyak 60-90% dari total konsumsi pakannya. Selain buah, monyet ini kadang-kadang memangsa serangga kecil. Beberapa jenis serangga yang dimakan antara lain tawon, rayap, ulat dalam gulungan daun, lebah, semut, dan belalang.

Meski telah jauh berkurang, perdagangan Yaki masih sesekali dijumpai di beberapa pasar tradisional di Minahasa dan Tomohon.

“Pelepasliaran kali ini tidak lepas dari dukungan beberapa pihak dan lembaga,” jelas Billy.

Selaian PPS Tasikoki dan BKSDA Sulawesi Utara, ikut pula terlibat PT. PERTAMINA (persero), EPASS Project, Macaca Nigra Project, dan Yayasan Selamatkan Yaki.

Editor: Ronny Adolof Buol



Jika anda merasa konten ini bermanfaat, anda dapat berkontribusi melalui DONASI. Klik banner di bawah ini untuk menyalurkan donasi, agar kami dapat terus memproduksi konten yang bermanfaat



Share This Article
WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com