Dampak pandemi, nelayan Manado jalani masa sulit

  • Share
zonautara.com
Sektor perikanan mengalami pukulan berat saat masa pandemi. Harga ikan tangkapan nelayan terjun bebas.(Image: barta1/Ady Putong)

MANADO, ZONAUTARA.com – Penurunan daya beli masyarakat pada hasil tangkapan ikan hingga persoalan Bahan Bakar Minyak (BBM) seperti ‘bersahabat’ dengan kehidupan nelayan di masa pandemi Covid-19.

“Turunnya transaksi diakibatkan terjadi penurunan daya beli masyarakat dan konsumen hingga konsumsi ikan menurun karena ditutupnya tempat-tempat publik yang membeli ikan seperti restoran,” kata Ketua Asosiasi Nelayan Tradisional (Antra) Sulut, Rignolda Djaluddin, dalam webinar yang digelar Mongabay Indonesia dengan tema Kabar dari laut: Ketahanan Nelayan Menghadapi Dampak Pandemi Covid-19 di Sulawesi Utara, belum lama ini.

Akibat Covid-19 sangat membingungkan, dirinya mencoba mengambil studi kasus bahwa terjadi penurunan transaksi hingga 50 persen. Permintaan pasar domestik dan lokal sangat menurun, semuanya terdampak akibat permintaan dan kebutuhan yang ada.

“Beberapa nelayan yang coba saya ditemui. Walau terjadi penurunan daya beli tetapi mereka tetap berjualan, yang dulunya jualan setengah hari sudah selesai kini harus berjualan sampai sore hari,” katanya.

Bagi sesama komunitas nelayan di Manado meski mereka susah tetapi masih bersyukur. Cara penjualan pun mengalami perubahan. Bila sebelumnya dijual di pasar kini hanya di pinggiran jalan saja.

“Yang berjualan ada dari nelayan sendiri ataupun para istri. Saat saya tanya kenapa berjualan di jalan tidak tempat banyak konsumen? Jawab mereka takut berjualan di pasar karena banyak klaster Covid-19,” tutur Mner Oda, sapaan akrab dosen Unsrat Manado ini.

Harga ikan yang dijual pub variatif. Ikan tude Rp 20 ribu, manganganu Rp 30 ribu dan ada juga ikan teri yang didapatkan dari pembagian sesama nelayan untuk dijual. Begitulah cara bertahan nelayan untuk saat ini.

“Dan mereka tahu harga yang akan mereka tawarkan akan dimintakan konsumen untuk lebih turun lagi,” katanya setelah bertemu nelayan sebelumnya.

Dalam kondisi seperti itu, ia berharap ada kelonggaran nelayan bisa membeli minyak premium di Stasiun Pengisian Bahan Bakar (SPBU).

“Nelayan membeli BBM di SPBU harus menunjukkan kartu nelayan, disuruh urus berbagai surat dan itu pun belum tentu akan mendapatkannya,” bebernya.

“Nelayan kesulitan memperoleh BBM. Nelayan tidak butuh bantuan, yang mereka butuh adalah akses mendapatkan BBM. ketika para nelayan membeli pakai gelon dilaporkan dan sebagainya, pemahaman seperti ini harus diperhatikan oleh pemerintah,” tambah Rignolda

Menyikapi kondisi itu, sejumlah nelayan meminjam uang. Mereka melakukan peminjaman untuk bertahan hidup. Namun tidak semua bisa pinjam uang, ada yang mengurus peminjaman tapi tidak disetujui.

“Namun bagi saya pemerintah jangan manjakan nelayan dengan bantuan. Sebagian butuh akses untuk mendapatkan BBM lebih murah seperti premium, yang saat ini nelayan gunakan itu bahan bakar terbilang mahal, yaitu Pertamax,” katanya.

Harus diakui ada nelayan memiliki mental mengemis bantuan.

“Tetapi berbeda dengan kelompok nelayan yang saya didik. Mereka betul-betul menjadi nelayan,” tutur Rignolda.

Menurutnya, bukan itu saja, tapi masalah lain juga dialami nelayan. Ada fenomena di mana 2 bulan terakhir ini matahari malu-malu untuk keluar, hingga terjadi perubahan di wilayah Utara.

“Beberapa nelayan mencari ikan sesuai yang direncanakan akan tetapi berbeda di lapangan, yang banyak di wilayah Utara saat ini adalah ikan cumi,” ujarnya.

Nelayan yang tinggal di Teluk Manado sisa dari reklamasi pantai Manado, yang notabene bermata pencaharian sebagai nelayan, dan beberapa tempat menjadi lokasi bersandarnya perahu.

“Bagi siapa yang mencoba mengancam aktivitas para nelayan Manado dengan adanya reklamasi lagi, saya paling terdepan akan melawan. Kerena saya tahu geografi teluk Manado, jangan coba-coba,” tambahnya.

Sementara itu, Saut Tampubolon dari Fisheries Policy Advisor Yayasan Masyarakat dan Perikanan Indonesia (MDPI) memberikan beberapa data perikanan yang ada di Indonesia dari segi operasi penangkapan.

Dijelaskannya, sebelum Covid-19 rata-rata operasi penangkapan 13 persen. Namun mulai Covid-19 turun 9,75 persen dan dampaknya capai -25 persen.

“Sedangkan rata-rata ikan hasil tangkapan sebelum Covid-19 52 persen, mulai Covid-19 adalah 22 persen dan dampaknya -57 persen,” ujarnya.

Rata-rata harga hasil ikan tangkapan sebelum Covid-19, imbuhnya, Rp36.129 per kilogram (kg). Mulai Covid-19, yakni Rp27.115 per kg dan dampaknya -25 persen. Akan tetapi biaya operasi penangkapan tidak turun karena harga BBM tetap Rp 10 ribu per liter.

Nelayan saat ini sangat terdampak. Pasar domestik dan lokal ikut terdampak, mungkin masih membeli hasil ikan akan tetapi tidak sebanyak sebelum adanya Covid-19.

“Saya berharap akses mendapatkan BBM lebih dimudahkan dan solusi yang tepat itu ada pada pemerintah itu sendiri, bagaimana pemerintah harus membeli hasil tangkapan dari nelayan,” katanya.

Penulis: Maikel Pontolondo


  • Share

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com