Kebun Raya Megawati Soekarnoputri seluas 221 hektar adalah lahas bekas tambang PT Newmont Minahasa Raya (PT NMR). Bukit Messel di Ratatotok, Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara itu PT NMR telah direklamasi kemudian menjadi Kebun Raya Megawati Soekarnoputri.

PT NMR berdiri pada tahun 1984 dan berhenti beroperasi di Ratatotok pada tahun 2004, setelah menggali emas sebanyak 1,9 juta troy ounce. Proses reklamasi berlangsung tahun 1996 hingga 2010. Bukit Mesel dikembalikan menjadi hutan tanaman produksi terbatas, kembali seperti perbukitan pada umumnya. Pada Januari 2011, PT NMR resmi menyerahkan kembali areal pinjam pakainya kepada Pemerintah RI.

Pembangunan Kebun Raya Daerah yang ditetapkan sebagai salah satu program prioritas nasional pada RPJMN tahun 2010 – 2014 dan 2015- 2019 ini merupakan salah satu bentuk program yang mampu mengintegrasikan program Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah yang berkaitan dengan konservasi tumbuhan.

Sejalan dengan program pengembangan Kebun Raya Daerah, Pemerintah Kabupaten Minahasa Tenggara bersama-sama dengan PT NMR dan Yayasan Pembangunan Berkelanjutan Sulawesi Utara (YPBSU) menginisiasi dibangunnya kebun raya di kawasan itu. Berdasarkan keunggulannya, Kebun Raya Megawati Soekarnoputri mengusung visi ‘menjadi kebun raya terkemuka di dunia dalam bidang konservasi tumbuhan pamah kawasan Wallacea untuk pemanfaatan yang berkelanjutan’.

Menurut Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), berdasarkan karakteristik lingkungan, geologi, tumbuhan lokal yang dominan serta karakteristik sosial budaya masyarakat di Kabupaten Minahasa Tenggara, maka tema koleksi tumbuhan di Kebun Raya Megawati Soekarnoputri adalah “konservasi tumbuhan pamah kawasan Wallacea”. Ikon tumbuhan yang dipilih adalah “leilem” (Clerodendrum minahassae Teijsm.& Binn.), karena tumbuhan tersebut merupakan jenis tumbuhan lokal, memiliki nilai ekonomi, dan dimanfaatkan secara lokal oleh masyarakat.

Penduduk asli Minahasa dan Manado, Sulawesi Utara memanfaatkan tumbuhan tersebut sebagai bumbu dalam makanan. Daun “leilem” telah lama digunakan sebagai sayuran dan bumbu kuliner dalam berbagai jenis resep daging. Selain itu, daun “leilem” dipercaya mengandung antioksidan alami yang berfungsi mencegah efek negatif lemak hewani.

Secara tradisional jenis ini telah digunakan sebagai obat dan telah menunjukkan adanya kandungan senyawa polifenol yang berpotensi memiliki aktivitas antioksidan. Jenis ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut: perdu atau pohon kecil, tinggi hingga 4,5 m, berbunga sepanjang tahun. Daun bundar telur, hijau tua dan mengkilat. Bunga berwarna putih berbentuk tabung yang tersusun dalam kelompok, kelopak bunga menjadi sukulen dan berwarna merah setelah bunga mekar, buah berwarna biru-ungu tua.

Master plan Kebun Raya Megawati Soekarnoputri menurut LIPI terdiri dari  empat zona. Pertama zona penerima, paling kurang meliputi gerbang utama, loket, pusat informasi, dan fasilitas penunjang untuk pengunjung. Kedua zona pengelola, paling kurang meliputi kantor pengelola, pembibitan, dan sarana penelitian

Ketiga zona koleksi, paling kurang meliputi petak-petak koleksi tumbuhan yang ditentukan berdasarkan pola klasifikasi taksonomi, bioregion, tematik, atau kombinasi dari pola-pola tersebut. Keempat zona rekreasi.

Zona rekreasi dimaksudkan sebagai meeting point dan sarana bagi pengunjung untuk menikmati keindahan panorama dan koleksi dengan menambahkan unsur edukasi, seperti museum tambang emas. Museum ini dibangun sebagai memorabilita bagi pengunjung bahwa sebelumnya kawasan Kebun Raya Megawati Soekarnoputri merupakan kawasan pertambangan emas yang dilakukan oleh PT Newmont Minahasa Raya, direklamasi, dan dibangun kembali sebagai pusat konservasi tumbuhan ex situ dalam bentuk kebun raya.

LIPI menyebut, dalam perkembangannya, masterplan Kebun Raya Megawati Soekarnoputri dapat direvisi untuk menyesuaikan dinamika dan kebutuhan masyarakat dan pengelola, terutama yang berkaitan dengan pelaksanaan lima fungsi kebun raya.

Penataan kawasan sangat terkait dengan pengembangan koleksi dan pembangunan infrastruktur, karena keduanya merupakan aspek terpenting dalam pembangunan kebun raya dan harus dilaksanakan secara selaras. (Bersambung)

Baca Bagian 4 atau kembali ke Halaman Utama

Editor: Ronny A. Buol