ZONAUTARA.COM — Saat ini, kebosanan telah banyak dialami oleh banyak orang. Bosan biasanya terjadi karena rutinitas yang berulang-ulang dan tak ada hal baru yang mengelilingi. Ketika perasaan bosan menyergap, pasti ingin melakukan sesuatu di luar rutinitas kita. Ternyata, rasa bosan tak hanya terjadi akhir-akhir ini, melainkan sudah terjadi sejak zaman Yunani Kuno.

Kebosanan merupakan keadaan emosional atau psikologis, di mana seseorang tidak tertarik dengan lingkungan yang selama ini mengelilinginya, atau perasaan yang muncul ketika tak melakukan apa-apa. Menurut BBC News, kebosanan juga bisa berbahaya dan merusak kesehatan.

Namun, terdapat sejarah panjang dari kebosanan. Ia berkembang terus-menerus dari zaman Yunani Kuno hingga saat ini.

Konsep kebosanan di masa Yunani Kuno

Penamaan bosan atau kebosanan memang relatif baru. Namun, gejalanya sudah lama dirasakan oleh pendahulu kita. Ia mengiringi perkembangan sejarah hidup manusia.

Susan Matt, professor sejarah di Weber State University, menjelaskan bahwa, akar dari kebosanan terjadi pada masa Yunani Kuno. Saat itu, orang Yunani Kuno memiliki kata “acedia” yang berarti kelesuan.

Acedia diidentikkan dengan seorang biarawan Kristen yang selalu pergi ke padang pasir dan hidup sendirian di sana. Ia dilanda kesedihan dan membuat kepercayaannya terombang-ambing dalam pengabdiannya pada Tuhan.

Saat itu, menurut Matt, kebosanan atau “acedia” menjadi sebuah dosa. Hal tersebut berlangsung selama berabad-abad lamanya. Banyak biarawan yang bermigrasi pada abad ke-12.

“Ennui”, kebosanan merambah ke Prancis

Di waktu yang sama, orang Prancis memiliki kata “ennui” yang menggambarkan kelesuan yang menguras tenaga. Namun, dengan ruang lingkup yang lebih besar. Tak hanya untuk urusan agama. Pada abad ke-18, “ennui” diadopsi dalam Bahasa Inggris.

Di Amerika, “ennui” dianggap sebagai momok. Ennui menjadi pengalaman yang kompleks pada saat itu karena terdapat rasa bersalah dan malu saat tak melakukan apa-apa dalam waktu yang lama.

Jika “acedia” dianggap hanya menimpa para biarawan, maka “ennui” dianggap menimpa orang kaya saja. Orang kaya memiliki banyak waktu luang untuk bersantai. Sedangkan, orang yang bekerja saat itu diyakini tidak memiliki waktu untuk merasakan apa itu “ennui”.

Saat itu, kebosanan yang dirasakan rata-rata diterima sebagai kenyataan hidup, yang mereka isi dengan membaca dan melamun.

Kebosanan ketika revolusi industri

Masuk ke abad 19 dan 20, konsep kebosanan mulai berubah drastis karena adanya proses industrialisasi. Definisi kebosanan mulai berubah karena hubungan dengan pekerjaan pun berubah.

Pada poin sebelumnya, orang-orang di masa itu rata-rata bekerja hanya untuk dirinya sendiri. Sedangkan, saat revolusi industri, banyak orang melakukan pekerjaan untuk orang lain. Sejak saat itu, kebosanan banyak ditemui pada para pekerja.

Mulai abad ke 19, kata “bore” mulai banyak menjadi perhatian. Apapun statusnya, seseorang bisa saja dilanda kebosanan. Pekerjaan yang dilakukan terus-menerus dan menimbulkan kebosanan inilah yang mendorong munculnya industri hiburan. Namun saat ini, tak sedikit yang menganggap industri hiburan sebagai penyebab kebosanan.