ZONAUTARA.com — Berkomunikasi, atau mengendalikan mimpi telah banyak dibicarakan, baik dalam cerita fiksi maupun percobaan ilmiah. Kali ini, beberapa ilmuan dari empat negara telah berhasil “berkomunikasi” dengan para pemimpi.

Berbicara soal mimpi, mungkin pikiran anda langsung mengarah pada film garapan Christopher Nolan berjudul Inception. Di situ, tokoh-tokohnya bisa mengendalikan mimpinya hingga mempengaruhi bagaiamana ia mengambil keputusan di dunia nyata.

Namun, tunggu dulu. Kita masih jauh dari rancangan tersebut. Meski begitu, secercah harapan datang dari empat peneliti dari empat negara, di antaranya Prancis, Jerman, Amerika Serikat, dan belanda. Mereka mencoba berkomunikasi dengan para pemimpi.

Sejarah Lucid Dream

Istilah Lucid dream pertama kali diciptakan oleh psikiater Belanda, Frederik van Eeden di tahun 1913. Ia percaya bahwa Lucid Dream merupakan jenis mimpi paling menarik untuk diteliti lebih lanjut.

Lucid Dream didefinisikan sebagai kemampuan untuk mengendalikan unsur-unsur dalam mimpi karena pemimpi sadar bahwa ia sedang bermimpi.

Hubungan antara Lucid Dream dengan Rapid Eye Movement (REM) pertama kali diteliti oleh Keith Hearne pada tahun 1975. Sekitar setengah dari populasi manusia setidaknya pernah mengalami lucid dream sekali dalam hidupnya.

Berlangsungnya penelitian

Penelitian dengan judul Real-time dialogue between experimenters and dreamers during REM sleep, meneliti 36 sukarelawan yang sering mengalami Lucid Dream dan seseorang yang mengaku setidaknya mengingatnya satu mimpinya tiap minggu.

Penelitian dilakukan dengan mengajukan 158 pertanyaan. Metode membalas pertanyaan dapat dilihat dari kerutan kening, tersenyum, dan gerakan mata.

Peserta dalam penelitian ini telah mengalami peregangan imajinasi. Bahkan seorang sukarelawan telah mendengar soal matematika berbunyi “Berapa delapan dikurangi enam?” melalui radio mobil. Sementara pemimpi lainnya juga mendengarnya lewat narrator film.

Hasil Penelitian

Hasilnya memang tak terlalu baik, namun cukup berhasil untuk dilakukan penelitian lebih lanjut. 60 persen pertanyaan tidak terjawab. 17.7 persen lainnya tidak menjawab, dan lebih dari 3 persen menjawab salah.

Sedangkan, sebanyak 36 peserta atau sekitar 18.6 persen menjawab pertanyaan dengan benar. Sebuah hasil yang cukup baik meski tidak besar.

Peneliti percaya bahwa keberhasilan ini nantinya dapat menjadi pagar baru untuk terapi pengobatan kecemasan, trauma, serta depresi yang dialami oleh peserta. Mereka juga berharap penemuan ini dapat dilanjutkan dan dapat dikembangkan ke depannya, meski tentu akan sulit mencari para sukarelawan.