ZONAUTARA.com — Banyak yang berkata bahwa menjadi seseorang yang dapat bekerja pada banyak hal atau multitasking adalah sesuatu yang luar biasa. Padahal, yang selama ini anda lakukan adalah switching alias berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan yang lain.

Padahal, melakukan multitasking bukan malah mempercepat selesainya pekerjaan, malah memperlambatnya. Studi yang lain juga membeberkan bahwa multitasking sebenarnya kurang memperhatikan apa yang dikerjakan.

Sebuah jurnal berjudul Memory failure predicted by attention lapsing and media multitasking, memaparkan bahwa multitasking dapat mencegah seseorang mengingat apa yang dilihat dan dikerjakan, terutama jika ia berpindah dari satu layer ke layer lainnya.

Studi yang dilakukan ilmuwan dari Stanfor University ini menjelaskan bahwa meski saat berpindah layar atau perangkat, kita terus menerus melahap informasi, namun, kita akan makin sulit mengingatnya karena tidak fokus padanya.

Para peneliti melakukan penelitian dengan 80 subjek yang berusia 18 hingga 26 tahun. Mereka memperhatikan aktivitas gelombang otak alfa posterior dan perubahan ukuran pupil dari subjek.

Peningkatan kekuatan otak alfa posterior yang terletak di belakang tengkorak, dikaitkan dengan penyimpangan perhatian dan pengembaraan pikiran. Selain itu, penyempitan diameter pupil sebelum melakukan tugas yang berbeda juga sering dikaitkan dengan kegagalam kinerja dan reaksi yang lebih lambat.

Para peserta diperintahkan untuk mengklasifikasikan gambar di depan layar menurut kesenangan atau ukurannya. Setelah istirahat selama 10 menit, mereka disajikan set gambar lainnya dan mengidentifikasi gambar tersebut sebagai yang baru atau pernah dilihat sebelumnya. Hal ini tentunya untuk melatih memori dari subjek.

Selain itu, peserta juga diberi kuisioner untuk diisi, tentang kebiasaan multitasking media yang biasa mereka lakukan.

Dari percobaan tersebut, hasilnya menunjukkan bahwa orang yang tidak mampu mempertahankan perhatiannya merupakan orang-orang yang multitasking. Orang yang terbiasa multitasking memiliki kinerja yang lebih buruk dalam hal yang melibatkan memori.

Penelitian ini juga berkaitan erat dengan bagaimana seseorang mempersiapkan diri untuk mengingat apa yang akan dipelajari atau diahafalkan. Mengingat dapat berhasil jika pengingat berorientasi pada tujuannya, sehingga ia siap untuk mengingat apa yang dia lihat.