ZONAUTARA.com — Warna seringkali diasosiasikan dengan emosi dan perasaan manusia. Namun, apakah memang begitu? Apakah ada studi yang menjelaskan tentang hubungan antara warna dengan emosi manusia?

Warna dan perasaan atau emosi seringkali dikaitkan. Dalam pemasaran misalnya, kita sering memilih produk karena warnanya dirancang untuk memengaruhi emosi dari konsumen.

Di sisi lain, apa persamaan antara logo perusahaan-perusahaan besar seperti Dell, HP, dan IBM? Yup! Jawabannya adalah mereka sama-sama menggunakan warna biru pada logonya. Warna biru dianggap sebagai warna yang dapat diandalkan.

Selain itu, warna-warna jeruk dengan logo seperti percikan air, tampak digunakan oleh Nickelodeon, Amazon, dan Fanta. Tentu saja image yang ingin ditunjukkan adalah menyenangkan dan mengasyikkan. Beberapa perusahaan yang dikaitkan dengan alam memilih warna hijau dalam logonya.

Telah banyak studi yang menjelaskan tentang hubungan antara kepribadian dan warna favorit. Salah satu penelitian dilakukan oleh Dr. Daniel Oberfeld-Twistel dari Johannes Gutenberg University Mainz (JGU).

Penelitiannya yang berjudul Colors evoke similar feelings around the world menunjukkan bahwa orang di seluruh dunia mengasosiasikan perasaan yang sama dengan warna yang sama.

Penelitian ini dilakukan dengan peserta dari 6 benua yang mencakup 30 negara. Lebih dari 4500 peserta menjawab survei yang diberikan oleh Daniel. Kuisioner online tersebut melibatkan 20 emosi dengan 12 istilah warna yang berbeda. Peserta juga diminta untuk menentukan intensitas yang dikaitkan dengan emosinya.

Hasilnya pun mengejutkan. Beberapa korelasi yang sama terjadi di berbagai wilayah di dunia. Misalnya warna merah, satu-satunya warna yang diasosiasikan dengan perasaan negatif yaitu marah, sedangkan cinta dalam hal positif.

Warna cokelat diasosiasikan sebagai warna yang paling sedikit memicu emosi. Warna kuning juga banyak diasosiasikan dengan kegembiraan, khususnya di negara-negara yang kurang mendapat paparan sinar matahari. Sedangkan hubungan warna kuning dan kegembiraan lebih sedikit pada penduduk di area yang mendapat banyak paparan sinar matahari.

Budaya dari masing-masing negara juga mempengaruhi asosiasi warna ini. Di China, warna putih erat kaitannya dengan kesedihan. Hal ini karena warna putih dikenakan di pemakaman China. Sedangkan di Yunani, warna ungu yang erat dikaitkan dengan kesedihan karena ungu tua menjadi warna berkabung gereja orthodox di Yunani.

Dr. Daniel Oberfeld-Twistel mengungkapkan bahwa ada berbagai macam faktor yang mempengaruhi asosiasi warna ini, di antaranya bahasa, agama, iklim, sejarah perkembangan manusia, dan juga sistem persepsi manusia.