ZONAUTARA.COM — Mungkin teman atau kenalan anda merasa bisa menebak apa yang sedang anda pikirkan. Namun, apakah hasil dari kecanggihan teknologi yaitu robot, bisa melakukannya?

Anda bisa menebak dan menuduh siapa yang mengambil permen anda di atas meja, meski ia tidak melakukannya. Anda juga bisa memberi reaksi pada hal-hal yang belum tentu kebenarannya.

Memikirkan apa yang orang lain pikirkan juga dikenal dengan mentalizing, theory of mind, atau folk psychology. Hal tersebut memungkinkan manusia untuk menavigasi dunia sosial yang komples sehingga dapat memahami keinginan, motivasi, perasaan, dan keyakinan orang lain.

Perilaku tersebut merupakan hal yang manusiawi dan telah dilakukan oleh sebagian besar orang. Bahkan, salah satu hal yang bisa membentuk kita sebagai manusia. Namun, pernahkan anda berpikir apakah robot juga bisa melakukan hal yang sama?

Sebuah studi kecerdasan buatan dengan judul jurnal Perspective Taking in Deep Reinforcement Learning Agents, telah mengembangkan Neural Network atau jaringan saraf yang dapat membuat keputusan tidak hanya berdasarkan apa yang dilihat, namun juga pada apa yang dapat atau tidak dapat dilihat oleh entitas lain dalam komputer.

Dengan kata lain, penelitian tersebut telah menciptakan kecerdasan buatan di mana kecerdasan tersebut dapat melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain. Pengembangan penelitian ini terinspirasi oleh spesies lain yang dimungkinkan memiliki theory of mind, yaitu simpanse.

Simpanse merupakan hewan yang hidup dalam hierarki kekuasaan yang ketat dengan memberi hak dominan pada pejantan untuk makan dan memilih pasangan terbaiknya. Namun, tak mudah untuk menjadi pejantan yang dominan. Ia perlu bertindak taktis untuk mempertahankan posisinya, meliputi berdesak-desakan, berteriak, merawat orang lain, dan membentuk aliansi atau persekutuhan.

Hal ini erat hubungannya dengan persepsi kognitif atau bahkan menjadi suatu bentuk dari mentalizing. Bahkan, simpanse bawahan tahu kapan pejantan dominan tidak melihat sumber makanan, sehingga ia bisa menyelinap untuk menggigit.

Terinspirasi dari hal tersebut, ilmuwan komputer dari Universitas Tartu di Estonia dan Universitas Humboldt di Berlin mengklaim bahwa mereka telah mengembangkan program komputer yang mirip dengan perilaku dari simpanse.

Penelitian melibatkan dua simpanse dengan satu pisang. Simpanse dominan tidak melakukan apa-apa. Sedangkan, simpanse bawahan mengatur strategi untuk membuat keputusan terbaik.

Simpanse bawahan mengetahui tiga hal, pertama adalah di mana posisi simpanse dominan, di mana letak makanannya, dan ke arah mana simpanse dominan menghadap.

Simpanse bawahan juga melihat dunia dengan dua acara, yaitu, egosentris dan allosentris. Simpanse allosentris berpandangan luas tentang proses termasuk dirinya sendiri, sedangkan simpanse egosentris hanya melihat dirinya sendiri.

Dalam simulasi Artificial Intelligence (AI), simpanse egosentris harus memproses 37 persen informasi lebih banyak daripada simpanse allosentris.

Para ilmuwan yang membuat eksperimen kommputer mereka dari perilaku simpanse ini mengaku membuat perspektif yang sangat sederhana. Tidak mendekati kompleksitas dari bagaimana simpanse benar-benar mengincar pisang di dunia nyata.

Kecerdasan buatan sederhana ini memungkinkan pengembangan yang lebih kompleks lagi di masa depan. Penelitian ini dapat menjadi dasar dan jawaban dari pertanyaan apakah nanti robot bisa membaca pikiran manusia, dan apakah AI bisa mengembangkan Theory of Mind.