ZONAUTARA.com – Banyak pembelajaran ketika menjadi orang tua. Menjadi orang tua juga merupakan latihan untuk meningkatkan empati dan menstabilkan emosi. Sebuah studi menemukan bahwa orangtua yang merawat anak bersama menjadi selaras satu sama lain.

Menjadi ayah dan ibu dan merawat si kecil memang pekerjaan yang cukup menguras waktu dan tenaga. Kurang tidur, jadwal padat, semuanya harus ditelan demi menemani anak tercinta.

Menjadi orang tua terbukti mengubah otak. Perubahan tersebut meliputi neuroplastisitas, yaitu proses di mana otak mengubah struktur fisiknya melalui pembelajaran dan interaksi lingkungan. Juga neurogenesis yang merupakan pembentukan neuron baru di daerah otak tertentu.

Studi dengan judul Physical presence of spouse enhances brain-to-brain synchrony in co-parenting couples menunjukkan bahwa proses pendesainan ulang otak saat menjadi orangtua menjadikan kita tidak hanya lebih baik, tetapi juga pasangan yang lebih baik.

Penelitian yang dipimpin oleh Nanyang Technological University, Singapura, ini ingin melihat bagaimana kehadiran fisik pasangan orangtua saat mengasuh anak dalam memengaruhi respons otak.

Sebanyak 24 pasangan ibu-ayah terlibat dalam penelitian ini. Para peneliti meminta pasangan untuk mengisi kuesioner tentang seberapa sering ibu atau ayah memimpin dalam mengasuh anak. Kemudian mereka juga diminta untuk mendengarkan vokalisasi bayi dan orang dewasa dalam dua kondisi, yaitu secara terpisah di ruangan yang berbeda dan bersama-sama di ruangan yang sama.

Para peneliti mengukur aktivitas otak pasangan di korteks prefrontal mereka dengan menggunakan spektroskopi inframerah.

Hasil pemindahannya menunjukkan bahwa pasangan menjadi sinkron, yang berarti aktivitas otak mereka serupa dan di area otak yang sama. Sinkronisitas ini hanya ditemukan dalam kondisi bersama dan lebih besar di antara orang tua yang lebih muda, hanya memiliki satu anak, dan lebih sering berbagi tanggung jawab sebagai orang tua.

Sebagai kontrol, para peneliti juga melakukan eksperimen dengan pasangan yang dicocokkan secara acak. Mereka tidak menunjukkan efek sinkron dalam kedua kondisi tersebut. Hanya pasangan orangtua sungguhan yang mencerminkan pikiran sinkron satu sama lain.

Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat dua pengaruh dari pengasuhan orangtua bersama. Pertama, pasangan yang menjadi orang tua bersama-sama tumbuh selaras dengan keadaan emosional satu sama lain.

Kedua, waktu yang dihabiskan untuk mengasuh anak bersama membantu pasangan menanggung kesulitan mental dan emosional dalam mengasuh anak.

Pasangan yang tidak menghabiskan banyak waktu bersama saat mengasuh anak-anak memiliki kemungkinan untuk lebih sulit memahami sudut pandang satu sama lain dan kemampuan koordinasi yang berkurang.