ZONAUTARA.com – Tak perlu sedih apabila anda merasa tak memiliki bakat dalam melakukan sesuatu. Semuanya bisa anda kembangkan dengan mengembangkan kreativitas.

Kreativitas sendiri merupakan kemampuan untuk menghasilkan ide, solusi, atau wawasan yang sangat orisinal, namun layak. Dalam istilah kognitif, ide kreatif yang menarik tidak akan rusak jika seseorang secara sistematis memisahkan logikanya.

Apa yang terjadi dalam otak saat berpikir kreatif?

Satu dekade yang lalu, tim psikolog dari Belanda mengusulkan dual pathway to creativity model, yang menunjukkan bahwa ide kreatif terjadi ketika fleksibilitas kognitif bertemu dengan ketekunan kognitif.

Mengutip dari Aeon, fleksibilitas kognitif memungkinkan kita untuk beralih cepat dalam berpikir antara satu konsep dan konsep lainnya, dan untuk memikirkan banyak konsep secara bersamaan.

Sementara ketekunan kognitif memungkinkan kita untuk tetap berpegang pada tugas atau konseptualisasi tertentu. Seperti halnya harmoni musik di mana pemain suling, pemain biola, pianis, dan trombonis semua harus tetap berpegang pada bagian masing-masing dan tetap mendengarkan satu sama lain, demikian pula dengan otak kreatif.

Dalam hal kreativitas, jaringan fungsional utama yang berperan adalah central executive network (CEN), salience network (SN) dan default mode network (DMN). Studi pencitraan otak mengungkapkan bahwa CEN penting untuk kontrol fleksibel dari waktu ke waktu.

Korteks frontal lateral juga sangat aktif ketika individu terlibat dalam pemikiran divergen, dan pemikiran divergen adalah cara para ilmuwan mengukur kreativitas.

Sebaliknya, SN, terlibat dalam pengambilan keputusan dan pengaturan diri. Ia bekerja di hampir semua tugas yang membutuhkan ketekunan kognitif. Terakhir, DMN, atau jaringan mode default, mewakili apa yang kita pikirkan saat kita tidak fokus pada tugas seperti melamun, mengembara, menunda-nunda, dan lain-lain.

Studi terbaru menunjukkan bahwa wilayah hub DMN aktif secara bersamaan dengan CEN dan SN, dan berfungsi bersama dalam pembuatan ide kreatif. Biasanya, CEN dan SN mengendalikan dan menentang DMN, namun, selama momen penciptaan kreativitas, DMN memungkinkan kemunculan ide secara spontan.

Apakah kreativitas dapat dilatih?

Kreativitas memang memiliki beberapa pewarisan genetic. Tapi, mengingat otak manusia itu plastis, apakah belajar terus menerus dapat meningkatkan kreativitas?

Dalam sebuah studi tahun 2014 dari Stanford University di California, para ilmuwan bekerja sama dengan fakultas sekolah desain untuk mengevaluasi kelas ‘Gym Kreatif’.

Studi menunjukkan bahwa siswa dalam program pengembangan kapasitas kreatif ini lebih baik pada masalah berpikir divergen daripada siswa dalam kelompok kontrol.

Secara keseluruhan, studi ini menunjukkan bahwa mungkin ada banyak cara untuk meningkatkan kreativitas, dan banyak jalan menuju otak yang lebih kreatif.