ZONAUTARA.com – Topik soal cinta pertama memang tak pernah ada habisnya. Pujangga berkata bahwa cinta pertama akan selalu punya tempat tersendiri di hati dan tak bisa kita lupakan begitu saja. Lalu, bagaimana dengan cinta pertama dari sudut pandang psikologi?

Apa yang terjadi di otak saat jatuh cinta

Penelitian yang dilakukan oleh Harvard Medical School pada tahun 2017 dengan judul Love, Actually: The science behind lust, attraction, and companionship ini menjelaskan apa yang terjadi pada otak kita saat jatuh cinta, di antaranya:

  • Pelepasan hormon oksitosin, yang bertanggung jawab atas perasaan keterikatan dan keintiman.
  • Pelepasan hormon dopamin, yang mengaktifkan jalur penghargaan di otak.
  • Pelepasan hormon norepinefrin, yang memiliki fungsi mirip dengan dopamine. Hormon ini dilepaskan pada tahap awal kita mencintai seseorang dan menyebabkan kita menjadi pusing, berenergi, dan merasakan euphoria.
  • Kadar kortisol lebih rendah saat berhubungan seks dengan pasangan. Kortisol yang berperan dalam mempengaruhi stress.
  • Kadar serotonin menurun, yang berarti bahwa jatuh cinta dapat membuat Anda bertindak dengan kecenderungan obsesif-kompulsif seperti orang yang memiliki gangguan obsesif-kompulsif (OCD) yang memiliki kadar serotonin rendah.

Bagaimana dengan cinta pertama?

Saat pertama kali jatuh cinta, otak mengalami semua hal yang telah disebutkan di atas, di antaranya hormon positif meningkat dan hormon negatif menurun.

Berbagai penelitian telah mengkonfirmasi bahwa otak kita mengalami sesuatu yang sangat mirip dengan kecanduan ketika jatuh cinta. Dan cinta pertama adalah hal yang krusial karena merupakan pondaisnya.

Tak hanya itu, rata-rata seseorang mengalami cinta pertama ketika masih remaja. Sehingga otaknya sedang berkembang.

Mengutip dari Big Think, Jefferson Singer, seorang psikolog yang berfokus pada memori otobiografi, mengatakan bahwa kebanyakan orang mengalami “benjolan memori” antara usia 15 dan 26 tahun.

Benjolan memori ini terjadi pada saat kita mengalami semua jenis pengalaman pertama. Dan di kemudian hari, ingatan ini cenderung lebih berdampak karena terjadi ketika ingatan kita berada pada puncaknya.

Senada dengan Jefferson Singer, Dr. Niloo Dardashti, seorang terapis pasangan yang berbasis di New York, mengatakan bahwa perasaan yang kita alami dengan cinta pertama kita menjadi cetak biru (blue print) bagaimana kita mengalami hubungan di masa depan.