ZONAUTARA.com – Makhluk hidup di bumi telah ada sejak miliaran tahun yang lalu. Mereka juga telah mengalami evolusi bahkan beberapa spesies telah punah. Pernahkah anda berpikir bagaimana aroma bunga yang telah punah? Sekarang, ilmuwan bisa menunjukkannya.

Mengutip dari artikel Big Think, proyek bernama Resurrecting the Sublime ini bertujuan untuk menciptakan kembali aroma bunga yang telah punah.

Untuk menciptakan kembali aroma bunga tersebut, seniman Alexandra Daisy Ginsberg bekerja sama dengan seniman dan peneliti lain di Ginkgo Bioworks, sebuah perusahaan bioteknologi yang berbasis di Boston, Sissel Tolaas.

Agapakis adalah direktur kreatif Ginkgo Bioworks, sebuah perusahaan bioteknologi berbasis di Boston yang didirikan pada tahun 2009.

Bagaimana caranya?

Aroma bunga yang telah punah dapat dibangkitkan dari informasi yang dikodekan dalam DNA mereka. Pertama-tama, mereka membutuhkan bantuan dari ahli paleogenomik di University of California di Santa Cruz, yang dapat mengekstrak DNA dari sampel bersejarah yang terdegradasi.

Ilmuwan dan insinyur Ginkgo kemudian menganalisis fragmen untuk memprediksi urutan gen yang mengkodekan enzim penghasil wewangian. Mereka membandingkan DNA dengan sekuens yang diketahui dari organisme lain dan mengisi celah menggunakan gen templat.

Tentu eksperimen tersebut bukan eksperiman yang murah. Sekitar dua ribu varian gen yang diprediksi, disintesis (DNA dicetak) dan dimasukkan ke dalam ragi, kemudian ragi dibiakkan untuk menghasilkan molekul bau dan untuk menguji hasil dari setiap varian.

Akhirnya, tim menggunakan spektrometri massa untuk memverifikasi identitas masing-masing molekul yang disekresikan. Dari daftar molekul bau yang dihasilkan, pada tahun 2018 Tolaas dapat mulai merekonstruksi bau tiga bunga yang hilang di laboratoriumnya di Berlin, menggunakan molekul bau yang identik atau molekul pembanding yang tidak tersedia secara komersial.

Ketiga bunga itu, masing-masing adalah endemik Hawaii, Kentucky, dan Afrika Selatan, memiliki sifat yang sama. Masing-masing dipunahkan oleh tindakan colonial yaitu perusakan habitat oleh manusia.

Sementara bioteknologi dapat memberi tahu kita molekul mana yang dihasilkan tanaman, namun bau asli dari bunga tetap tidak diketahui.

Para peneliti menggunakan rekayasa genetika untuk mencoba menghidupkan kembali bau bunga yang telah punah agar manusia dapat kembali mengalami sesuatu yang telah kita hancurkan sendiri.

Sebuah prestasi tersendiri bagi Ginkgo karena telah “menghidupkan kembali” aroma bunga yang telah punah. Sayangnya, bioteknologi paling maju pun memberikan representasi yang tidak lengkap.