ZONAUTARA.com – Menjadi seseorang yang tumbuh dan berkembang dengan baik, memerlukan pemikiran yang mau dan mampu untuk berkembang pula. Psikolog Stanford Carol Dweck adalah salah satu orang pertama yang mempelajari dua pola pikir dasar: pola pikir tetap (fixed mindset) versus pola pikir berkembang (growth mindset).

Individu dengan fixed mindset memandang bakat sebagai bawaan. Mindset ini berpandangan bahwa kita tidak bisa menjadi lebih cerdas dari kita saat ini, karena begitulah kita dilahirkan. Dengan perspektif ini, orang-orang berbakat di antara kita tampak lebih istimewa daripada kita semua, orang biasa.

Pola pikir growth mindset justru sebaliknya. Tentu, ada bakat bawaan dalam diri kita semua, tetapi faktor terpenting dalam mengembangkan bakat itu adalah kerja keras. Dari perspektif ini, anak pekerja keras tanpa bakat akan mengungguli anak berbakat yang hanya mengandalkan bakatnya.

Dweck berpendapat bahwa individu dengan fixed mindset memprioritaskan tampil sepandai mungkin. Mereka menghindari tantangan karena tantangan adalah peluang untuk gagal dan terlihat bodoh, sehingga mengurangi nilai mereka.

Individu dengan mindset berkembang, bagaimanapun, mencari tantangan. Ini adalah kesempatan untuk meningkatkan kemampuan mereka dengan mempelajari hal-hal baru. Untungnya, growth mindset dapat diajarkan dan dapat dengan sengaja diubah.

Bagaimana growth mindset bekerja?

Dalam satu penelitian, siswa sekolah menengah dihadapkan pada program growth mindset. Kemudian, peneliti mengukur kinerja siswa dalam matematika. Kelompok kontrol (fixed mindset) cenderung menunjukkan hasil lebih buruk dari waktu ke waktu, tetapi kelompok yang diintervensi (growth mindset) tidak hanya tampil lebih baik daripada kontrol, mereka benar-benar tampil lebih baik dari waktu ke waktu.

Beberapa kritik telah dikeluarkan terhadap Dweck dan teori fixed mindset versus teori growth mindset. Beberapa psikolog telah gagal untuk mereplikasi hasil Dweck sebagai ganti karena telah mengkritik teori tersebut.

Untuk membuktikan teori ini, Dweck dan rekannya David Yeager baru-baru ini menerbitkan sebuah penelitian yang menunjukkan dampak dari dua sesi online berdurasi 25 menit yang berkaitan dengan promosi growth mindset pada 12.000 siswa kelas sembilan.

Hasilnya, untuk siswa dengan growth mindset rata-rata memiliki nilai yang meningkat sebesar 0,1 poin, dan nilai D atau F turun sebesar 5 persen.

Temuan seperti ini menunjukkan kepada kita bahwa, secara paradoks, jika kita ingin membesarkan lebih banyak siswa berbakat, kita tidak boleh fokus pada bakat mereka.

Siswa yang mau belajar dan bekerja lebih keras lebih mungkin untuk berhasil dan menjadi berbakat, bukan siswa yang sudah berbakat namun tidak melakukan apa-apa.