Artikel ini merupakan bagian terakhir dari tiga tulisan tentang motayok dan bolian. Bagian kedua dapat dibaca di sini.

Pemersatu

Masyarakat yang ada di Bilalang, cukup memahami bahwa tradisi pengobatan motayok adalah ruang alternatif pengobatan bagi orang yang sedang sakit. Hal ini terlihat dengan terjalinnya hubungan yang baik antara bolian dengan tokoh masyarakat, pemerintah desa, serta tokoh agama.

Pemerintah sendiri melalui Balai Pelestarian Nilai Budaya telah memberi dukungan agar tradisi motayok dapat terus dilestarikan. Keseriusan ini terlihat dengan dibangunnya Rumah Adat Motayok di Desa Bilalang.

“Kami bersyukur berkat  dukungan dari Pemerintah, bangunan Rumah Adat Motayok berdiri. Hal ini sangat membantu kami bolian dalam mengobati mereka yang datang,” kata Awan Mokoginta.

Menurut Awan, dengan adanya perhatian dari pemerintah, bolian merasa lebih aman.

“Sejak bangunan ini didirikan pada 2015, tidak ada masyarakat yang datang melarang kami melakukan praktik motayok. Padahal dulu sempat tidak dibolehkan dilaksanakan di kampung, dan hanya bisa digelar di kebun,” ucap Awan.

Selain pemerintah, tokoh agama di Desa Bilalang saat ini telah turut memberi ruang aman bagi para bolian. Tidak ada larangan bagi jema’ah untuk berobat dengan cara motayok.

Sebagai tokoh agama, Runding Managin (51), memandang tradisi motayok adalah bagian dari nilai budaya yang perlu dijaga dan dilestarikan. Menurutnya segala bentuk budaya yang diwariskan oleh nenek moyang adalah kekayaan yang sangat bernilai.

Motayok memang seperti orang kerasukan. Tetapi itu berfungsi untuk berobat, apabila seseorang sakit dari berbagai gangguan, itu bisa disembuhkan lewat motayok. Menurut saya motayok tidak bertentangan dengan agama. Kenapa tidak?, karena motayok sudah menjadi kebiasaan. Agama akan berjalan sendiri, kebudayaan juga akan berjalan sendiri,” kata Runding, sewaktu di temui pada 13 April 2022.

motayok
Bolian Awan Mokoginta (55) sedang melakukan ritual motayok. (Foto: Ronny A. Buol)

Hingga saat ini bolian dan ritual motayok masih diterima dengan baik di Bilalang. Bahkan, Ruding mengatakan, tidak ada perlakukan diskrimnasi dalam bentuk apapun termasuk kepada mereka yang masih melakukan praktik motayok.

“Di sini, ketika pemerintah menerima dan mendukung tradisi motayok, maka masyarakat dan tokoh agama juga turut menerima,” ujar Runding.

Saat ini, masyarakat bebas saja jika ingin berobat dengan cara motayok, karena itu wujud keyakinan masing-masing.

“Mau berobat kemana saja, mau berobat ke bolian yang satu, atau yang lain, atau pergi ke dukun, atau ke dokter, semua masyarakat memiliki pilihan. Saya sendiri percaya juga dengan pengobatan motayok tersebut, karena itu telah menjadi kepercayaan masyarakat di wilayah sini,” aku Runding.

Runding menilai, masyarakat Bilalang adalah masyarakat yang menjunjung nilai toleransi, dan memiliki rasa saling menghargai antar umat beragama. Buktinya warga bisa hidup rukun meski beragam latar kepercayaan.

“Tidak ada yang saling menyinggung perasaan, kami saling menjaga satu sama lain, tidak pernah ada penganut agama satu dan yang lain saling bertengkar. Di Bilalang ini, adat, budaya, dan kebiasaan tidak bertentangan. Sebagai tokoh agama, saya selalu memberikan pemahaman kepada jema’ah agar mengutamakan rasa saling menghormati, dan saling menghargai,” jelas Runding.

Karena ritual motayok tidak mengenal asal suku dan agama yang datang berobat, membuat tradisi ini sejatinya menjadi perekat dan pemersatu warga di Bilalang. Hal ini juga diaminkan oleh pemerhati budaya lokal, Rosiman Mokodongan.

“Saya sendiri selaku anggota BPD di desa, turut menjadi pelaku dalam praktik tradisi motayok. Tradisi ini menjadi pemersatu kampung, sebab di sini warganya tidak hanya dari satu kalangan agama saja,” jelas Rosiman.

Sejauh ini menurutnya, tradisi pengobatan motayok, ikut membantu menjaga kerukunan antar kelompok sehingga terjalin dengan baik. Semua pihak turut bekerjasama menjaga kenyamanan hidup berdampingan.

“Ritual inilah yang menjadi salah satu ruang untuk kita saling tolong menolong, saling menghargai, dan menghormati,” pungkas Rosiman.

Sudut di Rumah Adat Motayok di Bilalang ini menjadi tempat sakral bagi bolian saat menggelar ritual. (Foto: Ronny A. Buol)

Peran penting genarasi muda

Kesadaran pelestarian nilai tradisi motayok, segoyganya harus dimiliki semua pihak. Tidak sepenuhnya hanya mengandalkan peran pemerintah. Tokoh agama, budayawan dan masyarakat, terutama generasi muda sebagai penerus juga harus terlibat.

Gerakan peduli kebudayaan lokal, akan lebih baik jika diambil dan diperankan oleh generasi muda. Termasuk soal pengetahuan tentang tradisi motayok. Hal ini dikatakan oleh Supri Gantu (28) saat diwawancarai Zonautara pada pertengahan April 2022.

Sebagai pemuda Bilalang, Supri memandang bahwa kebiasaan-kebiasaan tetua kampung, termasuk ritual motayok, masih relevan dengan situasi saat ini.

“Menurut saya, soal relevan atau tidak itu tergantung kita melihatnya. Melihat motayok itu tergantung zaman. Dan saya fikir peradaban kita selalu berubah, artinya berkembang. Pada saat teknologi sudah sangat maju, nilai kebudayaan masa lampau akan semakin tinggi. Bukan nilai jualnya, tetapi nilai seni dan budaya itu sendiri,” jelas Supri.

Menurut Supri, motayok adalah kebudayaan nenek moyang orang Bolaang Mongondow yang kemudian menjadi tradisi. Sementara kebudayan itu dinamis, hasil fikir manusia.

Supri Gantu, menyeruakan harapannya sebagai generasi muda Bilalang. (Foto: Anggi Mamonto)

“Dari dulu motayok ini memang tidak terbuka, ia dilakukan secara ekslusif. Dan ini bisa menjadi sebuah keistimewaan bagi Bilalang,” ujar Supri.

Tradisi motayok juga dapat menjadi salah satu kekayaan yang dimiliki masyarakat Bilalang. Sebagai desa yang terletak cukup dekat dengan perkembangan kota, yakni Kotamobagu, Supri berharap generasi muda Bilalang memahami dan merawat tradisi motayok.

Di tengah perkembangan teknologi informasi yang merangsek hingga ke pedesaan, Supri berharap generasi muda di Bilalang tetap berupaya menjaga dan melestarikan kekayaan budaya yang masih ada. Menurutnya, kekayaan budaya adalah jati diri sebuah masyarakat.

“Saya mengamati, generasi muda di Bilalang saat ini kurang minat terhadap literatur. Khawatirnya karena kurang literatur yang mereka baca, tradisi ini akan ditolak suatu saat,” kata Supri.

Dari amatan Supri, saat ini banyak anak muda di Bilalang yang tidak mengetahui soal motayok. Meski ada yang tahu, itu sebatas rasa bangga bahwa motayok ada di Bilalang, tetapi minim upaya pelestarian.

Salah satu kekhawatiran besar Supri adalah eksistensi mononenden yang menjadi mediator saat ritual motayok digelar. Posisi mononenden tidak sama dengan bolian yang harus dari garis keturunan. Mononenden bisa siapa saja asal mau belajar.

“Jika tidak ada lagi mononenden, maka motayok tidak bisa dilaksanakan. Saya berharap ada pemuda yang mau belajar menjadi mediator ini,” kata Supri.

Tapi dia juga paham bahwa ada kekhawatiran dari para orang tua di Bilalang jika anaknya berhubungan dengan praktik motayok. Karena ritual ini memang tidak sembarang bisa dilakukan.

“Perlu ada sanggar bagi pemuda, agar mereka bisa punya wadah untuk mengetahui dan belajar soal tradisi-tradisi di kampung,” harap Supri.

Jika generasi muda dapat meneruskan tradisi yang diwariskan para leluhur di Bilalang, bukan tidak mungkin hal itu menjadi salah satu nilai bagi Desa Bilalang.

“Pemuda tidak perlu takut jika ingin berbuat sesuatu. Yang penting harus paham asal usul dan identitas sebagai orang Mongondow. Belajar tentang tradisi dan budaya sendiri, agar tidak ragu,” kata Supri.

Suasana di Rumat Adat Motayok yang didirikan di Desa Bilalang, Kabupaten Bolaang Mongondow. (Foto: Ronny Adolof Buol)

Harapan

Ruang aman yang tercipta bagi bolian dan tradisi motayok adalah hasil jalan panjang sebuah kesadaran tentang saling menghargai hidup. Meski bukan tanpa tantangan, tradisi ini diharap terus terjaga kelestariannya. Sehingga generasi yang akan datang tidak akan kehilangan identitas kebudayaannya.

Apa yang menjadi kekhawatiran Supri, selaras dengan kekhawatian Rosiman. Dia berharap motayok tetap memiliki tempat dan dipandang sebagai sesuatu yang penting untuk dilestarikan.

“Dengan begitu, keselarasan hidup akan tetap terjadi, beriringan dengan tradisi yang lestari,” kata Rosiman.

Tak hanya itu, merawat tradisi motayok, sama seperti memberi ruang aman bagi para bolian untuk tetap melaksanakan apa yang telah diwariskan leluhur.

“Kalau begitu, saya tidak perlu khawatir atau takut lagi akan mendapat protes dari orang yang tidak percaya dengan motayok,” kata Awan.

Dengan menciptakan ruang aman semua bisa hidup berdampingan tanpa saling mengusik. Warga desa dengan latar belakang pendidikan, agama, dan suku yang berbeda bisa tetap saling tolong menolong, salah satunya melalui kesadaran merawat tradisi motayok.

Sebagai tokoh agama, Runding Manangin menyakini setiap agama mengajarkan nilai-nilai kebaikan.

“Semoga kedamaian dan kerukunan yang terjalin selama ini bisa tetap terjaga, dan tradisi motayok tetap terus lestari,” harap Runding.

Harapan juga terungkap dari Hermanus O. Mokoginta. Sebagai orang yang pernah menolak motayok, Hermanus kini menyadari bahwa tradisi ini adalah warisan nenek moyang.

“Semoga warisan leluhur ini bisa tetap dilestarikan,” ujar Hermanus.

Awan Mokoginta (55), perempuan yang menjadi bolian saat berbincang di Rumah Adat Motayok di Bilalang pada April 2022. (Foto: Ronny Adolof Buol)

Kini, di malam-malam tertentu, alunan golontung dan gimba’ terdengar menyeruak ke langit desa. Warga yang telah terbiasa, akan berkumpul dan menyaksikan bolian larut dalam gerakan tari magisnya. Sebuah pemandangan yang menakjubkan terutama bagi pendatang seperti kami.

Rasa beruntung tiba-tiba mampir di benak, saat kendaraan yang kami kendarai kembali melewati jalur yang sebelumnya telah kami lalui.

Tak seperti sebelumnya, anak-anak yang bermain tak tampak lagi. Tapi, kidung, suara musik, tarian, dalam ritual motayok tertinggal membekas di pikiran kami. Membaur bersama kicau burung yang terbang di atas sawah, dan kebun-kebun warga yang kami lewati saat pulang, menyatu dalam harapan yang sama: kesadaran merawat tradisi dan hidup saling menghargai.

Editor: Neno Karlina Paputungan
Multimedia: Marshal Datundungon
Penyelaras akhir: Ronny Adolof Buol

Anggi Mamonto

PENULIS

Anggi sehari-hari bekerja sebagai reporter di Kilastotabuan.com. Ia berdomisili di Modayag Barat, Bolaang Mongondow Timur. Bagi Anggi, memilih profesi sebagai jurnalis adalah kesempatan belajar banyak hal termasuk isu keberagaman. Laporan ini merupakan bagian dari fellowship yang diterima Anggi pasca mengikuti Workshop Freedom of Religion and Belief yang digelar International Media Support (IMS) dan Suara.com di Jakarta beberapa waktu lalu.
Ini juga merupakan bagian dari Liputan Tematik Keberagaman yang dikerjakan Zonautara.com berkolaborasi dengan jurnalis muda di Sulut dari berbagai media.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com