ZONAUTARA.COM – Suara langkah kaki menghentak jalanan aspal. Kian lama terdengar makin seragam dan kentara. Dari jauh sekolompok anak berlarian. Entah apa yang mereka kejar, hanya saja raut wajah mereka memancarkan rona kebahagiaan.

Berbeda dari kebanyakan, anak-anak di desa Bahoi, Kecamatan Likupang Barat masih bisa menggunakan badan jalan sesuka hati. Mereka bebas memenuhi semua sisi, sebab kendaraan yang melintas masih jarang, terutama pada malam hari.

Alih-alih khawatir akan diserempet kendaraan, mereka justru terus adu cepat.

Bagi masyarakat setempat, kebiasaan seperti ini sudah berlangsung lama, jauh sebelum jalanan diaspal. Mereka meyakini, jalan kaki akan membuat tubuh jauh lebih sehat dan kuat.

“Dulu jalan belum begini, masih susah dilewati, bahkan jauh sebelumnya lagi, tidak ada akses darat. Untuk bisa datang ke sini harus menggunakan perahu,” ucap Daud Dalero (66 tahun), kepada Zonautara di pertengahan Juni 2022.

Sebagai mantan Opolao (kepala desa) selama dua periode, Daud tahu persis bagaimana detail wajah desa di pesisir Minahasa Utara ini. Daud juga turut terlibat dalam perjuangan mengangkat potensi desa.

Cerita awal desa Bahoi

Menjadi pelari hebat di jalanan desa, tak membuat anak-anak di desa ini kehilangan etika. Mereka akan mengurangi kecepatan saat berpapasan dengan orang yang lebih tua, terutama orang tua, untuk sejanak mengucapkan salam.

“Selamat malam,” jawab Daud.

Usai menjawab salam yang dilontarkan anak-anak, Daud melanjutkan penjelasannya.

Desa Bahoi didiami 171 kepala keluarga atau sekitar 590 jiwa. Penduduknya hampir 90 persen adalah suku Sangir dari Nusa Utara, sisanya suku Minahasa.

Berdasarkan cerita Daud, desa Bahoi bermula dari kisah sejumlah orang pada tahun 1934 yang membuka lahan di hutan bagian selatan desa Serrei, Minahasa Utara.

Orang-orang tersebut adalah Lorens Lahamendu, Ulenaung, Jacob Salikang, Petrus Selamat Hengkelare, dan Silias Alias Pintune Gansa. Tak lama setelah itu, pada tahun yang sama, datang juga belasan orang dari Nusa Utara untuk tujuan yang sama, yakni membuka lahan hutan menjadi lahan perkebunan.

Semula mereka masih berdomisili di desa Serrei, Tandusang Pasir. Dan masih melakukan ibadah di desa ini, yakni di gereja Jemaat GMIM Imanuel Serrei.

Seiring waktu, aktifitas di lahan perkebunan mulai padat. Daud mengatakan, orang-orang ini tidak sempat lagi pulang beribadah ke desa Serrei seperti sebelumnya, sebab lokasi yang harus ditempuh cukup jauh.

Akhirnya, mereka mendirikan perangka atau rumah ibadah sementara, di lahan yang telah mereka buka.

Tahun 1934 rumah ibadah berhasil didirikan dipimpin oleh seorang tangka, Tobias Sahudege. Tangka seperti tonaas bagi orang Minahasa, atau orang yang dituakan/dihormati.

Tekad kuat dalam mendirikan rumah ibadah inilah kemudian yang menjadi inspirasi awal penamaan desa.

Sebagai orang Nusa Utara yang hidup di tanah Minahasa, para pendahulu ini, kata Daud, bersepakat untuk menamakan lahan perkebunan, yang telah menjadi tempat berdomisili ini menggunakan bahasa Siau, dengan memakai kata dasar tekad.

Mubaho dingdang u ‘naung matuluse, semangate mukoa u’ banua. Dengan asal kata Baho yang artinya tekad dan ditambah huruf i yang diambil dari i endaong ini tampa ikite, yang artinya di sinilah tempat kita tinggal.

Sehingga Bahoi bisa berarti tekad yang mulia didasari semangat kebersamaan membangun tempat.

“Akhirnya, pada tahun 1935, belasan orang pendahulu itulah yang bersepakat dan menyatakan bahwa terhitung sejak tahun itu, tempat yang mereka diami disebut Bahoi,” jelas Daud.

Bahoi
Desa Bahoi telah lama mengusung konsep ekowisata yang berkelanjutan. (Foto: Zonautara.com/Ronny A. Buol)

Aduhai Bahoi

Aduhai Bahoi, amboi! Penuh antusias Daud menggambarkan keindahan desa. Secara topografi, desa Bahoi meliputi daerah perbukitan, dataran tinggi, dataran rendah, dan pesisir pantai.

Kabar pesona desa ini telah mampu menarik perhatian dunia. Terutama soal ekowisata mangrovenya.

“Waktu itu, ada 37 jurnalis dari bebagai media di dunia yang datang hanya untuk melihat desa kami. Tentu itu jauh sebelum Likupang dijadikan KEK Pariwista oleh pemerintah,” kenang Daud.

Untuk membuat pertahanan wilayah pesisir dari arus air laut, desa Bahoi terus berupaya melestarikan hutan mangrove.

Di desa ini, terdapat 21 jenis mangrove berbeda, termasuk mangrove yang memiliki tinggi 10 meter hingga 20 meter. Tak hanya itu, yang paling menarik adalah, desa Bahoi dikaruniai hutan mangrove berpasr putih yang halus, yang memungkinkan orang membangun tenda atau sekedar berjalan-jalan di sekitar mangrove.

“Bagi yang ingin merasakan sensasi berbeda di kawasan ekowisata, juga bisa mengitari hutan manggrove menggunakan perahu kecil,” jelas Daud.

Bersama Penjabat (Pj) Kepala Desa, Mickale Panto (30), Daud mengatakan bagaimana desa Bahoi layak disebut “surga”. Tidak hanya karena keindahan alamnya, tetapi juga kearifan lokal masyarakat desa Bahoi yang begitu kuat.

“Karena warganya suku Sangir jadi nuansa Nusa Utara di sini kental. Ada keseniaan tradisi masamper, ampa wayer dan keroncong mama,” jelas Daud.

Desa Bahoi adalah keindahan yang mengagumkan. Suasana yang tenang khas pulau, kuliner tradisional, serta biota lautnya telah menjadikan desa ini layak dikunjungi.

Walau tak sebanyak di tempat lain, di desa ini masih ditemui primata terkecil yaitu tarsius. Dan yang istimewa adalah, perairan di depan desa ini menjadi jalur transit dugong, mamalia laut atau yang banyak dikenal dengan sebutan duyung.

“Di sekitar mangrove ada kubur dugong, yang mati terdampar. Di sini warga masih sering melihat dugong, terutama saat bulan-bulan tertentu,” kata Mickale.

Sebagai penjabat kepala desa yang baru, Mickale mengaku langsung jatuh cinta dengan Bahoi. Pesona desa ini memberi kejutan yang tidak pernah ia duga sebelumnya.

“Ya selain dapat saran, saya pikir saya memang harus tinggal di desa ini. Bukan hanya sekadar memahami karakter dan keadaan warga desa, tapi juga karena tempat ini memang indah,” aku Mickale.

bahoi
Bertenda di pasir putih hutan mangrove desa Bahoi. (Foto: Zonautara.com/Ronny A. Buol)

Paket lengkap

Wajah Bahoi adalah paket keindahan yang lengkap, keindahan bawah lautnya menjadi candu bagi pemburu kehidupan bawah laut. Keindahan terumbu karang dan ikan-ikannya yang cantik menjadi andalan desa, yang terlindungi dengan sistem daerah perlindungan laut atau DPL.

“Walau dibolehkan melakukan diving dan snorkelling, kawasan DPL dijaga sangat ketat agar yang datang tidak merusak dan terumbu karangnya tetap lestari,” kata Mickale.

Dersik kehidupan di desa Bahoi begitu memukau, semilirnya mampu membuat orang yang tinggal di sini menjadi betah. Seperti rona bahagia dan senyum sapa yang terlihat pada setiap warganya.

Keramahan terlahir dari alam dan tatanan kehidupan pesisir yang harmonis. Kesan ini akan terasa kuat saat meninggalkan desa. Terlebih jika ditambah oleh-oleh ikan julung-julung atau ikan roa gepe.

Dari rumah produksi ikan roa di desa Bahoi, buah tangan dan kesan mendalam akan ikut menyempurnakan suasana hati.

Bahoi
Bersantai sejenak di jembatan yang membelah mangrove di pesisir desa Bahoi, Minahasa Utara. (Foto: Zonautara.com/Ronny A. Buol).

Selangkah lebih dekat

Desa Bahoi tidak masuk dalam Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata Likupang. Namun sebagai desa yang lokasinya tidak jauh dari KEK Pariwisata, desa Bahoi turut menjadi penunjang.

Posisi ini membuat akses menuju desa Bahoi kini menjadi lebih baik. Jalan darat yang sebelumnya sulit, sekarang sudah diperbaiki. Kini anak-anak dan warga desa lebih mudah mengakses wilayah lain. Dan, tentu bisa membuat wisatawan lebih nyaman.

Sekertaris Desa Bahoi, Deki Tamamilang (31) mengatakan bahwa warga desa telah terbiasa dengan kawasan wisata. Sebab, mereka biasa menerima wisatawan lokal pun manca negara.

Lewat musyawarah bersama, warga desa telah bersepakat memutuskan 17 rumah dijadikan homestay. Tujuh diantaranya sudah aktif, sementara lainnya masih dalam pembenahan fasilitas.

Karena homestay ini sejatinya adalah rumah warga, fasilitasnya berbeda-beda, dengan penetapan standar yang tetap sama.

“Misalnya, sanitasinya sudah harus memadai, sarapan dan pelayanannya harus seperti apa. Itu semua sudah diberitahu. Sebelumnya memang sudah diberi pendampingan lewat penyuluhan bagaimana menerima tamu,” jelas Deki.

Konsep ini sengaja dilakukan, agar para wisatawan bisa selangkah lebih dekat dengan kehidupan warga desa Bahoi.

“Karena yang dominan adalah nelayan, para wisatawan bisa melihat bagaimana kehidupan nalayan di sini. Begitupun sebaliknya, warga desa bisa melihat dan mengenal bagaimana ketika berinteraksi dengan warga asing,” kata Deki.

Menurut Deki, wisatawan asing lebih suka hidup berbaur dan melihat lebih dekat seperti apa kehidupan dan keseharian warga desa.

“Mereka (mungkin) ingin merasakan bagaimana menjadi warga desa. Kan karena unggulan kita adalah ekowisata, sehingga yang datang rata-rata adalah periset atau peneliti. Sisanya untuk wisata bahari seperti diving dan snokelling,” ungkap Deki.

bahoi
Hutan mangrove yang terjaga di desa Bahoi, Minahasa Utara. (Foto: Zonautara.com/Ronny A. Buol)

Malam yang sibuk dan hangat

Kehidupan malam hari desa Bahoi terasa hangat. Nelayan mempersiapkan peralatan melaut, dan yang telah kembali dari laut akan hasil tangkapan.

Nelayan di Bahoi sebagian besar berburu ikan pelagis kecil, seperti malalugis dan deho. Sisanya mencari ikan julung-julung yang diproduksi menjadi ikan gepe. Lainnya menangkap ikan karang seperti kerapu, goropa, baronang dan kakatua.

Deki dan Daud terus berjuang demi kemajuan desa dan memperhitungkan keberlangsungan alam. Tak jarang, bersama aparat lain mereka keliling patroli menjaga mangrove agar tidak dirusak.

Mereka bertegur sapa dengan penduduk yang sibuk dengan aktifitas malamnya. Kehangatan terjaga antara sesama warga desa.

“Ya seperti kehidupan pesisir pada umumnya. Bedanya karena di sini alamnya indah, dan potensinya banyak. Itulah hal yang kami syukuri. Saya sering bilang ke warga, untuk banyak bersyukur,” kata Daud.

Suara burung bercampur desir ombak, seperti  melagukan kehidupan malam desa Bahoi. Selagi para bapak bersiap turun melaut atau menata hasil tangkapan, ibu-ibu dan anak-anak akan menunggu sambil bercengrama di serambi-serambi rumah.

Warga lainnya, di dapur, berlatih mengolah hasil tangkapan menjadi kuliner yang enak. Ikan-ikan diolah secara baik dan menghindari bahan pengawet. Aroma rempahnya terbawa angin, membuat perut menjadi keroncongan.

Tak heran, ibu-ibu di desa Bahoi banyak menyabet penghargaan dalam menjawarai berbagai lomba kuliner.

“Di sini memang ada kelompok, jadi istri saya pernah ikut pelatihan. Setelahnya dia kembali melatih ibu-ibu lainnya,” ungkap Daud.

Aroma khas rempah, asap dari rumah produksi ikan gepe, debur ombak, bunyi burung, serta canda tawa warga menyatu di desa Bahoi.

Dersiknya menyeruak bersaing dengan agas di sela-sela hutan mangrove yang jauh dari gerlap kemilau kota. Kesibukan-kesibukan malam menyatu membawa keseimbangan.

Keseimbangan yang membuat orangtua tetap tenang melihat anak-anaknya merdeka berlarian di jalanan desa, sebagaimana dugong yang bisa tetap tenang melintas dan singgah.

Sebuah alasan yang layak membuat desa Bahoi istimewa untuk disinggahi dalam perjalan di pesisir Minahasa Utara.




=======================
Visualisasi data dibawah ini merupakan sajian otomatis hasil kerjasama Zonautara.com dengan Katadata.co.id