ZONAUTARA.com – Fenomena iklim global El Nino dengan kategori sangat kuat yang dibarengi dengan puncak musim kemarau mulai memicu dampak serius di berbagai wilayah Provinsi Sulawesi Utara (Sulut). Kombinasi cuaca ekstrem ini telah memicu ancaman kekeringan meteorologi, krisis air bersih bagi warga pemukiman, potensi gagal panen puluhan hektar lahan pertanian, hingga maraknya insiden kebakaran hutan, lahan, dan pemukiman di sejumlah kabupaten dan kota.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa puncak musim kemarau di Sulawesi Utara yang berlangsung sejak akhir Mei diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus hingga September 2026, dengan fenomena El Nino sangat kuat bertahan hingga Oktober. BMKG memproyeksikan curah hujan akan sangat minim, bahkan mendekati nol hingga 20 milimeter per bulan di sebagian besar wilayah.
Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Sulawesi Utara, Aris Yunatas, menjelaskan bahwa dampak El Nino tahun ini diprediksi lebih besar ketimbang fenomena serupa pada tahun 2023.
“Dampaknya hari tanpa hujan semakin panjang. Sesuai pantauan sepanjang Juli sebagian besar sudah tidak ada hujan di Juli dan puncaknya Agustus September,” ungkap Aris.
Ia menambahkan, wilayah seperti dataran Dumoga di Bolaang Mongondow dan Motoling di Minahasa Selatan bahkan telah mencatat durasi hari tanpa hujan lebih dari 35 hari.
Ancaman ini dipertegas oleh Kepala BMKG Stasiun Geofisika Sulut sekaligus Koordinator BMKG Sulut, Sigit Purnomo, yang mengimbau seluruh pihak untuk meningkatkan kewaspadaan.
“Kita perlu mewaspadai ancaman kekeringan, berkurangnya air bersih, gagal panen dan kebakaran lahan dan hutan,” tegas Sigit.
Sementara itu, status kewaspadaan kekeringan di beberapa wilayah terus meningkat, seperti wilayah Likupang Barat dan Likupang Timur di Kabupaten Minahasa Utara yang kini telah ditetapkan berstatus ‘Awas’ kekeringan.
Dampak kemarau panjang ini paling dirasakan oleh sektor pertanian. Dinas Pertanian dan Peternakan Daerah Provinsi Sulut melaporkan bahwa penurunan debit air irigasi telah mengancam produktivitas lahan di Kaidipang dan Bolangitang Timur.
Kepala Balai Perlindungan dan Pengujian Hortikultura Sulut, Nova Sumolang, menyebutkan bahwa di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel) tercatat 84 hektar lahan pertanian mengalami kekeringan ringan. Sementara di Minahasa Selatan, sebanyak 14,5 hektar tanaman jagung terancam puso (gagal panen), dan di Kota Bitung setidaknya 2 hektar tanaman jagung dipastikan sudah mengalami gagal panen total akibat daun yang mengering dan tergulung.
Menanggapi ancaman krisis pangan ini, pemerintah provinsi telah menyiapkan mekanisme tanggap cepat berupa bantuan pompa air bagi kelompok tani. Di sisi lain, Dinas Perkebunan Daerah Sulut menginstruksikan penundaan sementara penyaluran bibit komoditas seperti kelapa, pala, kakao, dan sagu. Kepala UPTD BPTP Dinas Perkebunan Daerah Sulut, Jouke Kumendong, mengingatkan para petani yang telah menerima bibit untuk melakukan pemeliharaan ekstra.
“Karena itu kami mengimbau agar bibit disiram pagi dan sore. Tanamannya dirawat sehingga tidak mati,” tuturnya.

Ancaman krisis air bersih
Selain sektor pertanian, krisis air bersih mulai merambah kawasan pemukiman warga. Di Kelurahan Bailang, Kecamatan Bunaken, Kota Manado, warga yang bermukim di area yang belum terjangkau jaringan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) mengeluhkan menyusutnya debit air dari sumur dan mata air. Daman, salah seorang warga Bailang, mengaku pasrah dan khawatir akan kondisi beberapa bulan ke depan.
“Kami mulai kesulitan mendapatkan air. Mata air yang biasanya mengalir cukup deras sekarang tinggal sedikit. Kalau tidak segera hujan, kami khawatir akan semakin parah,” kata Daman.
Warga berharap pemerintah kota segera mendistribusikan bantuan air bersih melalui mobil tangki serta mempercepat perluasan jaringan jaringan pipa PDAM.
Di sisi lain, cuaca panas yang terik dan angin kencang mempertinggi risiko kebakaran. Di Kabupaten Minahasa Selatan, tercatat lima kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seluas 7,5 hektar serta enam insiden kebakaran bangunan sepanjang Juni hingga Juli 2026.
Di Kecamatan Pineleng, Kabupaten Minahasa, kebakaran lahan pembuangan sampah liar di Desa Pineleng Dua sempat merebet ke rumpun bambu pada Selasa (4/8/2026) dini hari sebelum akhirnya berhasil dipadamkan oleh tim gabungan Samapta Polresta Manado, Polsek Pineleng, Damkar Minahasa, dan unit water cannon Brimob Polda Sulut.
Kapolsek Pineleng, IPTU Sem Marthin, mengimbau masyarakat untuk dihindari aktivitas pembakaran sembarangan.
“Kami mengimbau masyarakat agar tidak membakar sampah di lahan terbuka. Sekecil apa pun api yang ditinggalkan dapat berkembang menjadi kebakaran besar, terlebih saat kondisi cuaca panas dan angin kencang. Kepedulian masyarakat sangat dibutuhkan untuk mencegah terjadinya kebakaran serupa,” tegas IPTU Sem Marthin.

Pemerintah siaga
Menghadapi eskalasi risiko bencana hidrometeorologi ini, jajaran pemerintah daerah bersama TNI dan Polri menggalang sinergi lintas sektor melalui Apel Gelar Pasukan Kesiapsiagaan Penanggulangan Dampak El Nino di berbagai kabupaten.
Di Kabupaten Bolaang Mongondow Timur (Boltim), Apel Pasukan dipimpin langsung oleh Wakil Bupati Argo V. Sumaiku bersama Kapolres Boltim AKBP Golfried Hasiholan pada Rabu (5/8/2026). Pemkab Boltim menetapkan langkah strategis seperti penegakan prinsip zero burning, pengaktifan Satgas Pangan, dan optimalisasi pengelolaan sumber daya air.
“Penanggulangan bencana tidak hanya dilakukan ketika bencana terjadi, tetapi harus dimulai dari upaya pencegahan. Karena itu, sinergi antarinstansi menjadi kunci dalam menjaga keselamatan masyarakat,” ujar Wakil Bupati Boltim, Argo V. Sumaiku.
Senada dengan itu, Kapolres Boltim AKBP Golfried Hasiholan menegaskan komitmen penuh kepolisian dalam mendukung mitigasi dampak El Nino.
“Polres Boltim siap mendukung penuh kebijakan pemerintah dalam menghadapi fenomena El Nino. Kami akan terus meningkatkan patroli, deteksi dini, edukasi kepada masyarakat, serta memperkuat koordinasi dengan TNI, pemerintah daerah, dan seluruh instansi terkait agar setiap potensi gangguan dapat diantisipasi dan ditangani secara cepat, tepat, dan terpadu,” jelas AKBP Golfried Hasiholan.

Langkah serupa digelorakan di Minahasa Selatan. Bupati Minahasa Selatan, Franky Donny Wongkar, bersama Kapolres Minsel AKBP David Candra Babega menekankan pentingnya kesiapan personel dan sarana pendukung dalam menghadapi ancaman kemarau panjang.
“Kegiatan ini merupakan wujud kesiapsiagaan dan komitmen bersama lintas sektor dalam mengantisipasi potensi meningkatnya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) selama musim kemarau,” ujar Bupati Franky Donny Wongkar.
Puncak kemarau dan fenomena El Nino sangat kuat pada tahun 2026 ini menjadi ujian nyata bagi ketahanan lingkungan, pangan, dan sosial di Sulawesi Utara. Kesadaran masyarakat untuk menghemat penggunaan air, tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan, serta merespons cepat instruksi mitigasi bencana menjadi kunci utama agar dampak buruk krisis iklim ini dapat diminimalkan bersama.

