ZONAUTARA.com—Saat mesin menderu, angin dingin perlahan menyapu. Ia menyelinap lewat sela-sela yang tak tertutup jaket, celana kargo, dan sepatu.
Suhu dingin yang terlanjur menyentuh dan merambati indera peraba seakan mengelus dada dan membelai kepalaku sebagai peringatan dini bahayanya ambisi dan egosentrisme manusia.
Laju sepeda motor membelah kesunyian Minggu dini hari menuju titik awal pendakian Gunung Empung di Kota Tomohon, Sulawesi Utara. Pukul lima lebih sedikit kami tiba di pintu gerbang.
Di sana, beberapa warga lokal sedang mengatur parkiran kendaraan. Ini hal baru mengingat terakhir kali bertandang ke Gunung Empung tiga tahun lalu, sepeda motor harus “disembunyikan” di antara semak belukar agar luput dari potensi “tangan nakal”.
Usai bersiap dengan melakukan sedikit peregangan, pendakian pun dimulai diiringi kicau burung dan embun di dedaunan yang belum jatuh sepenuhnya. Kami mengambil jalur bawah ketimbang jalur atas sebab itu satu-satunya jalur yang kami kuasai.
Bagiku, perjalanan ini bukan sekedar olahraga untuk melatih otot jantung atau pelarian dari rutinitas yang template.
Ini juga bukan pendakian ala pemuda-pemudi kalcer yang terjebak di antara dikotomi style flannel atau gorpcore. Toh, pada akhirnya bila tak terkendali, fenomena semacam ini akan bermuara pada konsumerisme ekstrim dan menjadikan pendakian sebagai ruang yang sarat ambiguitas.

Perjalanan ini lebih kompleks sekaligus sederhana di saat yang bersamaan. Ini adalah ruang kontemplasi. Ada ingatan yang harus dirawat.
Dalam konteks ini, gunung tak sepatutnya hanya dipandang dari sudut sempit tentang lifestyle, melainkan sebuah entitas agung yang tak terpisahkan dalam diskursus kebudayaan.
Sehingga pendakian gunung sebagai jalan sunyi untuk menemukan diri di antara serpihan ingatan yang terpatri merupakan sebuah keniscayaan.
Di sisi lain, tubuh yang tak lagi rutin dilatih dalam setahun terakhir berupaya “memberontak”. Ia tak tahan “disiksa” dalam kondisi kurang tidur dan belum sarapan.
Namun begitulah kehidupan. Ada hal-hal yang mesti “dipaksa” agar terbiasa, seperti kata Lao Tzu, “perjalanan seribu mil dimulai dengan satu langkah”.
Pemandangan hijau gelap yang mulai menguning disinari fajar memberi kesan lembut pada retina. Tak ada pilihan lain selain mengabadikannya sembari istirahat sejenak dalam kondisi ngos-ngosan.
Situasi seperti ini, bagiku, justru membuka ruang perenungan dalam diri yang sejak lama telah dijajah gengsi demi mengejar validasi.

Perjalanan kemudian dilanjutkan sebagaimana mestinya. Hiruk pikuk manusia mulai terdengar, tandanya perjalanan tinggal sepelemparan batu.
Tiba-tiba sebuah teriakan merobek keheningan. Teriakan yang entah apa dan nampak disengaja itu terus berulang. Tak jelas apa motivasi si pelaku melakukannya.
Tiba di percabangan jalan, kami mengambil jalur kiri mengarah ke sebuah pemandangan yang baru saja dibuka beberapa waktu terakhir.
Di pemandangan itu nampak Gunung Lokon yang memang tak jauh dari Empung. Pagi yang cerah dan langit biru semakin memperlihatkan keindahannya. Puluhan pendaki sibuk berfoto ria.
Di samping tubuh besar Lokon, nampak pula kepulan asap yang berasal dari Kawah Tompaluan sebagai pengingat bahwa gunung itu sedang dalam status Waspada.
Di sisi lain, kami hanya duduk, memasak air, menyeduh kopi, mengamati sekeliling dan bercerita ngalor-ngidul. Begitulah cara “orang dewasa” melewati pagi sesuai tren masa kini.

Setelah menyelesaikan “ritual pagi”, kami segera balik kanan menuju puncak lainnya. Di tengah perjalanan nampaklah sebuah batu penuh coretan. Vandalisme semacam ini seakan memperlihatkan sisi kesewenang-wenangan yang ada dalam diri manusia.
Setelah menggapai puncak, tak ada yang bisa dilihat selain mendung yang berwarna putih keabu-abuan. Bila sedang cerah, view di puncak ini adalah hamparan luas Kota Manado. Bahkan, Gunung Klabat sebagai puncak tertinggi di Sulut terlihat pula dari sini.
Kami yang datang bukan semata untuk menikmati pemandangan, segera meraih kompor, gas, dan nesting untuk mengolah perbekalan. Tak berapa lama aroma mie goreng segera menyeruak di samping sampah plastik yang ditinggal para pendaki sebelumnya.
Mendung yang kian tebal adalah alarm bahaya. Kami yang tak membawa flysheet memutuskan segera turun seusai makan. Sementara di kejauhan suara-suara teriakan masih sering menggema.
Kenyataan yang ironi memenuhi kepalaku dalam perjalanan turun: Bagaimana bisa ada orang yang riang berfoto namun tidak riang membawa turun sampahnya sendiri? Atau kesenangan macam apa yang menyebabkan seseorang mencoret batu di gunung dan berteriak tak ada habisnya?
Entahlah, mungkin itu cara mereka merenungi perjalanan mendaki gunung.


