Menjaga kearifan lokal lewat cerita anak, langkah kecil Anisya Mokobombang bersama Moisipun

Editor: Redaktur

ZONAUTARA.com – Anisya Mokobombang, sosok pemudi yang punya cara sendiri menjaga warisan budaya Bolaang Mongondow Raya (BMR), yaitu lewat cerita anak. Sebagai pendiri komunitas Moisipun, ia percaya bahwa literasi bisa menjadi jembatan antara masa lalu dan masa depan, terutama bagi anak-anak di tanah kelahirannya, di Bolaang Mongondow Raya (BMR).

“Anak-anak sekarang banyak membaca kisah luar, tapi jarang tahu tentang kekayaan budaya kita sendiri,” ujar Anisya, Kamis, (6/11/2025).

Setiap cerita nantinya akan berdurasi satu hingga dua halaman ringan, imajinatif, dan mudah dipahami anak-anak. Namun di balik kesederhanaan itu, terselip pesan besar melestarikan identitas budaya lokal yang kini mulai terlupakan.

“Kami ingin anak-anak mengenal budaya Bolaang Mongondow bukan lewat buku sejarah yang kaku, tapi lewat kisah yang hidup,” kata Anisya.

Menjaga kearifan lokal lewat cerita anak, langkah kecil Anisya Mokobombang bersama Moisipun
Anisya Mokobombang

Hal ini disambut antusias oleh para penggerak Moisipun. Mereka datang dari latar belakang berbeda, namun memiliki semangat yang sama cinta terhadap tanah kelahiran. Masing-masing kontributor memilih unsur budaya yang ingin diangkat.




Ica menulis tentang Kabela, Nanu menghidupkan kembali kisah Dinangoi dan Tuntul, sementara Arum menuturkan keindahan Kaotan. Ada juga Fina yang mengulik kuliner Tinutuan, Dini dengan Tradisi Mogogutat, hingga Yunda yang meracik kisah tentang Adat Mogama’ dan kukis Bagea.

Bagi Arum, keterlibatannya dalam proyek ini bukan hanya tentang menulis cerita, tapi juga tentang mengenang akar budaya.

“Saya ingin anak-anak tahu bahwa setiap tradisi, punya makna dan cerita di baliknya,” ujarnya.

Nama-nama tradisi itu mungkin terdengar asing bagi sebagian anak zaman sekarang, tapi justru di situlah misi Moisipun menemukan maknanya.

“Kalau bukan kita yang menulis, siapa lagi?,”tutur Anisya.

Selain menjadi wadah kreatif, hal ini juga menjadi bentuk gotong royong literasi. Setiap penggerak diberi kebebasan menulis kisah fantasi versi mereka, menggabungkan legenda, adat, makanan tradisional, atau kebiasaan lokal dalam bentuk cerita imajinatif.

Tidak ada batasan, hanya satu benang merah, semangat melestarikan budaya Bolaang Mongondow lewat cerita anak.

Anisya berharap, buku ini kelak bukan hanya dibaca anak-anak di BMR, tetapi juga bisa menjadi pintu masuk bagi pembaca di luar daerah untuk mengenal kekayaan budaya Mongondow.

“Kami ingin menunjukkan bahwa dari tanah kecil di Sulawesi ini, ada begitu banyak cerita besar yang bisa dibagikan,” ujarnya.

Bagi Moisipun, ini bukan sekadar proyek menulis, tapi bentuk cinta pada tanah, bahasa, dan warisan nenek moyang. Dan lewat buku cerita anak, Anisya Mokobombang bersama para penggerak Moisipun tengah menulis bab baru dalam sejarah kecil pelestarian budaya di Bolaang Mongondow Raya.

Penikmat kopi pinggiran, hobi membaca novel. Pecandu lagu-lagu Jason Ranti, pengikut setia Sapardi Djoko Damono, pecinta anime, terutama dari Gibli. Mampu menghabiskan 1000 lebih episode one piece dalam 8 bulan.
2 Comments
WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com