Bisa nggak sih, pengirim SMS tahu pesan kita sudah dibaca?

SMS itu layaknya surat pos, kantor pos tahu suratmu sudah sampai ke alamat tujuan, tapi tidak tahu apakah penerimanya sudah membuka amplopnya.

Editor: Redaktur
Ilustrasi digenerate dengan AI.

ZONAUTARA.com – Di era WhatsApp, Telegram, dan iMessage, tanda centang biru jadi semacam simbol sosial: pesan sudah dibaca atau belum? Tapi sebelum semua itu, manusia berkomunikasi lewat SMS, dan banyak yang masih menggunakannya hingga sekarang. Lalu, pertanyaannya: apakah pengirim SMS bisa tahu kalau pesan yang dikirim sudah dibaca?

Jawaban singkatnya: tidak bisa.

SMS: Teknologi “Pos” digital tanpa mata

SMS (Short Message Service) lahir di awal 1990-an, jauh sebelum smartphone muncul. Ia bekerja di jaringan seluler lama (GSM) dan dikirim melalui jalur sinyal, bukan internet.

Begini mekanismenya secara sederhana: Ketika kamu mengirim SMS, pesan itu tidak langsung melesat ke ponsel penerima. Ia mampir dulu ke “kantor pos” digital milik operator, yang disebut SMSC (Short Message Service Center). SMSC bertugas menyimpan pesan, lalu mengantarkannya ke perangkat penerima saat perangkat itu aktif dan terhubung.

Operator memang bisa memberi laporan pengiriman (delivery report) yang menandakan pesan sudah sampai ke ponsel tujuan. Tapi itu saja. Sistem ini tidak tahu apakah penerima sudah membuka pesan itu, sudah membacanya, atau bahkan langsung menghapusnya.




Analoginya seperti surat pos: kantor pos tahu suratmu sudah sampai ke alamat tujuan, tapi tidak tahu apakah penerimanya sudah membuka amplopnya.

Dari centang abu-abu ke centang biru

Ketika aplikasi pesan modern muncul, paradigma itu berubah total. WhatsApp, Telegram, iMessage, hingga sistem baru bernama RCS (Rich Communication Services) tidak lagi bergantung pada SMSC. Mereka menggunakan internet dan server sendiri, yang memungkinkan pelacakan lebih detail terhadap status pesan.

Di sini mulai muncul fitur:

  • Sent (terkirim): pesan berhasil dikirim ke server aplikasi.
  • Delivered (diterima): pesan sampai ke perangkat penerima.
  • Read (dibaca): aplikasi penerima memberi tahu server bahwa pesan telah dibuka oleh pengguna.

Tanda dua centang biru di WhatsApp atau notifikasi “Read” di iMessage muncul karena aplikasi penerima secara otomatis mengirim sinyal kecil ke server ketika pengguna membuka pesan. Inilah yang disebut read receipt — laporan pembacaan.

Namun, fitur ini hanya bisa bekerja jika ada koneksi internet dan pengguna tidak menonaktifkannya. Jadi, di dunia pesan modern, penerima masih punya sedikit ruang privasi.

RCS: SMS versi super

Sebagai penerus SMS, RCS membawa kemampuan “centang biru” ini ke dalam sistem pesan bawaan ponsel, tanpa perlu aplikasi tambahan.

RCS tetap memakai nomor telepon seperti SMS, tapi pesannya dikirim lewat jaringan data. Ia mendukung delivery report, read receipt, pengiriman foto, video, bahkan reaksi emoji — semua dalam satu sistem.

Kalau SMS itu seperti mengirim surat lewat pos biasa, RCS adalah pos modern dengan kurir digital yang bisa memberi tahu: “paket sudah sampai dan sudah dibuka.”

Privasi dan enkripsi

Ada hal menarik di sini: bagaimana mungkin sistem bisa tahu pesan sudah dibaca tanpa melanggar privasi isi pesan?

Jawabannya ada pada enkripsi ujung-ke-ujung (end-to-end encryption). Dalam sistem ini, isi pesan hanya bisa dibaca oleh pengirim dan penerima. Server di tengah tidak tahu isi pesannya, tapi masih bisa mengelola metadata, misalnya waktu pengiriman, waktu dibaca, atau status pesan.

Dengan kata lain, server tahu “apa yang terjadi”, tapi tidak tahu “apa isinya”.

Jadi, kapan SMS punya tanda centang biru?

Jawabannya: tidak pernah.

SMS adalah teknologi sederhana yang memang tidak dirancang untuk tahu perilaku pengguna di ponselnya. Kalau kamu masih memakai SMS, pengirim hanya bisa tahu pesan sudah sampai, bukan sudah dibaca.

Tapi jika ponselmu dan operatormu sudah mendukung RCS, selamat! kamu sedang menggunakan generasi penerus SMS yang akhirnya bisa “melihat” sampai sejauh centang biru.

Kesimpulan:

SMS adalah warisan era analog yang masih hidup di dunia digital. Ia sederhana, tangguh, dan lintas jaringan, tapi juga buta terhadap apa yang terjadi setelah pesan dikirim. Dunia pesan modern menambahkan lapisan kenyamanan dan transparansi, tapi juga membuka pertanyaan baru soal privasi.

Di ujungnya, teknologi terus berlari, dan centang biru hanyalah salah satu cara kita menandai betapa kompleksnya komunikasi di zaman digital.

TAGGED:
Bekerja sebagai jurnalis lebih dari 20 tahun terakhir. Sebelum mendirikan Zonautara.com bekerja selama 8 tahun di Kompas.com. Selain menjadi jurnalis juga menjadi trainer untuk digital security, literasi digital, cek fakta dan trainer jurnalistik.
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com