ZONAUTARA.com—Sejumlah peneliti dari Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Manado, dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melakukan penelitan tentang ritual pengobatan tradisional motayok di Bolaang Mongondow (Bolmong).
Lokasi yang disambangi Tim Peneliti adalah Rumah Adat Motayok yang terletak di Desa Bilalang Baru, Kabupaten Bolmong.
Selain mengumpulkan informasi dari para narasumber, penelitian tentang ritual pengobatan di wilayah Wallacea Sulut bertajuk Riset Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) juga turut mendokumentasikan pelaksanaan motayok secara virtual.
Ketua Tim Peneliti, Hart Semuel Thomas mengatakan, dalam ranah ritual, motayok masih dipercaya mempunyai dampak positif sebagai salah satu pengobatan alternatif di Bolmong, meski kini keberadaanya tinggal dapat ditemui di wilayah Kecamatan Bilalang. Tolok ukurnya sederhana: pengakuan dari para pasien yang pernah diobati melalui ritual motayok.
“Mereka punya kesaksian mengalami kesembuhan. Jadi ada segi manfaatnya,” ucapnya saat diwawancara Zonautara.com, awal Desember 2025.
Tak hanya dalam ranah ritual, para peneliti juga turut mendokumentasikan dan mengambil sampel berbagai jenis herbal yang biasa digunakan dalam pengobatan tradisional di Bolmong.
Menurutnya, jenis-jenis tumbuhan yang biasa digunakan dalam pengobatan tradisional kerap kali tak diketahui orang banyak, sehingga penting untuk didokumentasikan serta diteliti kandungan di dalamnya.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan pihaknya, ada beberapa jenis tumbuhan obat yang hanya ditemui di daerah Bolmong.
“Masih ada juga tanaman-tanaman yang ternyata baru (ditemui) di sini. Bahkan ada tanaman yang bisa menyembuhkan tumor, dan itu baru ditemukan di sini,” bebernya.
Output dari penelitian tersebut akan berupa spesimen tanaman yang memiliki manfaat dalam pengobatan dan jurnal ilmiah internasional dengan durasi penyusunan hingga perilisan kurang lebih satu tahun.
Anggota Tim Peneliti, Denny Pinontoan menambahkan, riset tersebut akan memberikan informasi-informasi baru tentang pengobatan tradisional kepada masyarakat luas.

Sehingga ia memandang bahwa tradisi pengobatan tradisional tersebut tak hanya penting bagi kebudayaan lokal, akan tetapi juga penting untuk kebudayaan nasional.
“Karena di sini masih hidup tradisi-tradisi warisan leluhur yang kaya pengetahuan. Bukan hanya pengetahuan kognitif, tapi ada pula dimensi sosial, yaitu solidaritas, kondisi sosial, dan keseimbangan,” ucapnya.
Dimensi sosial dalam tradisi pengobatan turut membentuk harmonisasi, termasuk relasi baik antar agama. Sebab pasien dalam pengobatan tradisional bisa dari mana saja dan latar belakang apa saja, termasuk lintas agama.
“Terjaganya relasi antar sesama manusia, manusia dengan alam, dan juga agama dengan agama. Karena di wilayah sini, kami menemukan, agama yang dalam hal ini Kristen dan Islam, bertemunya di situ,” ujar Denny yang juga merupakan Kepala Pusat Kajian Agama dan Budaya di Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) IAKN Manado.
Peneliti Pusat Riset Agama dan Kepercayaan BRIN, Joko Tri Haryanto menyebut, secara strategis, tujuan penelitian tersebut adalah untuk mengidentifikasi dan mendokumentasikan motayok.
Hal itu pula tak terlepas dari tantangan yang dihadapi ritual pengobatan tradisional, yakni modernisme dan perubahan sosial.
“Sehingga bisa dipelajari lebih lanjut, diwariskan, dan dibaca sebagai bagian dari literasi kebudayaan yang ada di Indonesia,” ucapnya.
Penelitian itu juga bertujuan memperkenalkan kembali ada pengobatan alternatif khususnya di Bolmong yang fungsional.
Ia menyebut, budaya merupakan bagian terpenting dalam membentuk identitas dan kepribadian masyarakat.
Di sisi lain, ia mengakui, banyak bahan herbal yang telah diakui secara saintifik mengandung zat-zat yang bermanfaat untuk kesehatan masyarakat.
“Apa yang menjadi bahan pengobatan dapat diteliti untuk dicari khasiatnya secara saintifik,” ucapnya.
Dalam konteks ini, upaya pelestarian kebudayaan menjadi urgen dan harus dilakukan secara terpadu oleh berbagai pihak, termasuk masyarakat, pemerintah, dan akademisi.
“Sangat penting dilestarikan. Baik itu dalam hal membangun psikologi sosial, maupun dalam ranah pengembangan sains,” pungkasnya.


