ZONAUTARA.com — Di sudut Desa Bilalang III, Bolaang Mongondow (Bolmong), Sulawesi Utara (Sulut), berdiri sebuah bangunan kecil di samping rumah yang diperuntukkan sebagai toko buku sekaligus kantor penerbitan buku dengan nama Bulandu. Ruangan yang tak lebih besar dari kamar tidur mahasiswa itu mampu menjadi katalisator di tengah minimnya tingkat literasi masyarakat.
Data BPS Sulut menunjukkan Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) Bolmong sebesar 23,58. Angka itu jauh tertinggal dibanding daerah lain di Sulut, seperti Minahasa yang berada pada angka 56,06 dan Kepulauan Talaud sebesar 54,28.
Dilansir dari kokek.com, IPLM merupakan alat ukur yang menggambarkan kondisi literasi suatu daerah secara menyeluruh. Indeks ini tidak hanya melihat kemampuan membaca, tetapi juga akses masyarakat terhadap bahan bacaan, fasilitas literasi, kegiatan literasi, hingga dukungan lingkungan sosial.
Karena sifatnya yang komprehensif, IPLM menjadi salah satu instrumen penting bagi pemerintah dan lembaga pendidikan untuk merancang strategi peningkatan minat baca yang lebih tepat sasaran.
Minat baca dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah lingkungan literasi. IPLM menilai lingkungan tersebut melalui berbagai indikator seperti ketersediaan perpustakaan, jumlah bahan bacaan, tingkat kunjungan, kegiatan literasi, dan akses terhadap teknologi informasi. Semakin tinggi kualitas lingkungan literasi, semakin besar peluang masyarakat memiliki minat baca yang tinggi.
Minimnya minat baca juga teramati secara langsung oleh Supri Gantu selaku pemilik toko buku dan penerbitan Bulandu. Ia mengungkapkan, konsumen buku di toko miliknya datang dari kalangan siswa, bukan masyarakat umum di sekitar toko bukunya.
“Siswa SMA yang paling banyak belanja buku di sini,” ucap Supri kepada Zonautara.com, Senin (29/12/2025).
Padahal tujuan Supri membangun toko buku Bulandu meski di tempat yang kurang strategis adalah untuk mempermudah akses masyarakat desa memperoleh bahan bacaaan. Namun keinginan dan fakta merupakan dua hal yang berbeda. Cita-cita baik sering kali tak menuai hasil yang sejalan. Buku di tokonya malah lebih banyak laku ke luar daerah lewat sistem pemasaran elektronik.
Dengan pengalaman bertahun-tahun mengampu toko buku, Supri menilai, masyarakat lokal punya rasa ingin tahu yang besar, namun minat baca dan daya beli masih kurang.
Berangkat dari latar belakang peliknya penjualan buku khususnya bagi masyarakat lokal, Supri tak patah arang. Ia mendirikan penerbitan, yang sedikit keuntungannya disisihkan untuk memodali toko buku miliknya.
“Semua koleksi di toko buku ini saya beli, bukan titip jual dari penerbit atau distributor,” akunya.
Berbekal sedikit keuntungan dari pembagian royalti antara penerbit dan penulis, Supri mampu mempertahankan eksistensi toko buku di tengah minimnya minat baca dan daya beli masyarakat. Hingga saat ini tak kurang dari 40 naskah telah terbit melalui penerbitan Bulandu Group.
“Penulisnya dari berbagai daerah. Ada yang dari Jakarta, Bandung, Makassar, Malang, Manado, dan penulis lokal di Bolmong,” bebernya.

Dari semua buku yang telah diterbitkan Bulandu, yang paling diminati adalah buku yang mengangkat tema lokal tentang Bolmong.
“Ada salah satu buku tentang Bolmong yang saat ini sudah terjual 2.000-an eksemplar,” ungkapnya.
Tentu capaian tersebut menyisakan satu harapan bagi para penulis lokal, di mana karya-karya bertema kedaerahan Bolmong memiliki segmen pembaca yang luas. Namun keberhasilan penerbitan berlangsung bukan tanpa tantangan. Sering kali ada penulis yang merasa pembagian royalti tak seimbang.
“Padahal semua biaya produksi, termasuk desain cover, editing naskah, dan percetakan ditanggulangi sepenuhnya oleh penerbit,” ujarnya.
Supri juga menjelaskan, persoalan lisensi dalam dunia penerbitan buku merupakan hal yang riskan. Sehingga penggunaan software editing layout, serta font di cover dan isi buku telah mengantongi lisensi yang saban bulan harus dibayar. Belum lagi website tahunan untuk kewajiban administratif dari Perpustakaan Nasional, pajak PPN dan PPh, serta desain cover yang harganya cukup variatif.
“Untuk desain cover, harganya mulai dari Rp1 juta. Bahkan ada buku yang diterbitkan di Bulandu, harga desain cover-nya mencapai Rp3 juta,” terangnya.
Menurutnya, hal itu yang sering kali belum dipahami oleh para penulis khususnya mereka yang belum pernah bekerja sama dengan Bulandu.
“Kalau yang sudah pernah menerbitkan bukunya di Bulandu, pasti sudah paham soal itu. Karena sebelum melangkah lebih jauh, kita akan mendandatangani MoU antara penerbit dan penulis yang disertai dengan berbagai penjelasan,” pungkasnya.
Kisah Supri merupakan potret betapa berlikunya upaya pemajuan literasi di daerah dengan IPLM rendah. Cita-cita luhur saja tidak cukup, ia harus mengatur strategi agar toko buku tetap hidup, dengan atau tanpa pembeli yang menyambangi.


