ZONAUTARA.com – Saat banyak warga masih berupaya bangkit dari dampak bencana alam yang melanda Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) pada awal tahun 2026, masyarakat tetap berusaha menjaga satu hal yang tidak boleh hilang: semangat kebersamaan.
Karena itu, tradisi Tulude tahun ini tetap dilaksanakan meski dalam format yang lebih sederhana. Bukan untuk berpesta, melainkan sebagai ruang refleksi, doa bersama, dan penguatan solidaritas sosial di tengah proses pemulihan yang masih berlangsung.
Bagi masyarakat Nusa Utara, Tulude bukan sekadar perayaan budaya tahunan. Tradisi yang diwariskan turun-temurun tersebut mengandung nilai syukur, introspeksi, persaudaraan, dan harapan menghadapi masa depan. Nilai-nilai itu dinilai semakin relevan ketika masyarakat sedang menghadapi situasi sulit akibat bencana.
Pemerintah daerah menilai pelaksanaan Tulude secara sederhana merupakan bentuk penghormatan terhadap kondisi masyarakat sekaligus upaya menjaga keberlanjutan warisan budaya yang menjadi identitas daerah.
Di tengah berbagai tantangan pascabencana, mulai dari kerusakan infrastruktur, pemulihan ekonomi keluarga, hingga kebutuhan masyarakat yang masih harus dipenuhi, semangat gotong royong dan solidaritas menjadi modal sosial yang sangat penting.
Tulude dipandang sebagai pengingat bahwa proses pemulihan tidak hanya membutuhkan bantuan fisik dan anggaran, tetapi juga kekuatan sosial yang lahir dari kebersamaan masyarakat. Ketika warga saling menguatkan dan menjaga persatuan, proses bangkit dari bencana menjadi lebih cepat dan lebih kuat.
Selain memiliki nilai spiritual, tradisi ini juga berfungsi menjaga identitas budaya masyarakat kepulauan yang selama ini menjadi perekat hubungan antarwarga. Di tengah perubahan zaman dan berbagai tantangan yang dihadapi daerah, pelestarian budaya lokal dianggap penting untuk menjaga karakter dan jati diri masyarakat.
Momentum Tulude tahun 2026 juga menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk melihat kembali perjalanan yang telah dilalui sepanjang tahun, mengevaluasi berbagai tantangan yang ada, serta membangun optimisme menghadapi masa depan.
Di tengah suasana duka yang masih dirasakan sebagian warga, pesan utama yang ingin dihadirkan melalui perayaan ini adalah bahwa masyarakat Sitaro tidak menghadapi tantangan sendirian. Dengan menjaga persatuan, budaya, dan semangat saling membantu, masyarakat diyakini memiliki kekuatan untuk bangkit dan melanjutkan kehidupan dengan lebih baik.
Tulude tahun ini pun menjadi simbol bahwa di balik setiap kesulitan, selalu ada harapan yang tumbuh dari kebersamaan. Sebuah pesan yang relevan bagi masyarakat Sitaro yang sedang menata kembali langkah menuju pemulihan dan pembangunan daerah yang lebih tangguh.

