ZONAUTARA.com – Di tengah berbagai tantangan yang masih dihadapi masyarakat kepulauan, mulai dari keterbatasan akses layanan, kerentanan bencana, hingga kebutuhan pembangunan yang merata, momentum Tulude 2026 di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro) menjadi lebih dari sekadar tradisi tahunan.
Perayaan adat warisan masyarakat Nusa Utara itu dimaknai sebagai ruang refleksi untuk mengevaluasi perjalanan pembangunan sekaligus memperkuat komitmen menjawab kebutuhan masyarakat di wilayah kepulauan.
Dalam peringatan yang dirangkaikan dengan satu tahun kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati Sitaro, pesan utama yang mengemuka adalah pentingnya menjaga persatuan dan memperkuat kolaborasi dalam menghadapi berbagai persoalan daerah.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara menilai nilai-nilai yang terkandung dalam Tulude masih sangat relevan dengan tantangan pembangunan saat ini. Tradisi syukur tersebut tidak hanya mengajarkan penghormatan terhadap warisan budaya, tetapi juga mengingatkan pentingnya kebersamaan dalam mencari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
Selama satu tahun terakhir, pemerintah daerah mencatat sejumlah capaian pembangunan. Namun, di sisi lain, masih terdapat pekerjaan rumah yang membutuhkan perhatian bersama, terutama dalam meningkatkan kualitas pelayanan publik, memperkuat ketahanan masyarakat terhadap bencana, serta memastikan pembangunan dapat dirasakan hingga ke wilayah-wilayah terluar.
Tema “Sitaro Masadada” yang diangkat dalam perayaan tahun ini menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak dapat dilakukan pemerintah sendiri. Dukungan masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, dan seluruh pemangku kepentingan menjadi faktor penting dalam menentukan keberhasilan program-program yang dijalankan.
Bagi masyarakat Nusa Utara, Tulude selama ini tidak hanya menjadi simbol rasa syukur, tetapi juga sarana introspeksi. Tradisi tersebut mengajarkan pentingnya melihat kembali perjalanan yang telah dilalui, mengakui kekurangan, dan memperkuat tekad untuk menghadapi masa depan dengan lebih baik.
Nilai itulah yang dinilai relevan bagi pembangunan Sitaro saat ini. Di tengah keterbatasan geografis sebagai daerah kepulauan, tantangan ekonomi, dan ancaman bencana alam yang sewaktu-waktu dapat terjadi, semangat gotong royong dan solidaritas sosial menjadi modal utama yang harus terus dijaga.
Momentum Tulude 2026 pun menjadi pengingat bahwa ukuran keberhasilan pembangunan bukan hanya pada penghargaan atau capaian administratif, tetapi sejauh mana masyarakat merasakan manfaat nyata melalui pelayanan yang lebih baik, akses yang lebih mudah, dan peningkatan kesejahteraan yang merata di seluruh wilayah Kabupaten Kepulauan Sitaro.

