Oleh: Ir. R. S. Mamengko MM, MP
(Praktisi Pertanian & Mahasiswa Magister Penyuluhan Pertanian - Unsoed)
Di sejumlah wilayah pedesaan Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), jagung kini menjadi wajah baru pertanian. Hamparan lahan yang sebelumnya didominasi sawah perlahan bergeser menjadi kebun jagung. Perubahan ini bukan sekadar tren, tetapi hasil dari keputusan rasional petani dalam merespons tekanan ekonomi, risiko iklim, dan tuntutan efisiensi usaha tani.
Dengan biaya produksi berkisar antara Rp10 juta hingga Rp15 juta per hektare, budidaya jagung menawarkan prospek yang terlihat menjanjikan. Dalam satu musim tanam sekitar 120 hari, petani dapat menghasilkan hingga 8 ton jagung basah per hektare dengan kadar air 24 hingga 32 persen. Pada harga pabrik pengering yang berada di kisaran Rp5.250 – Rp5.350 per kilogram per April 2026 di PT. AAI, angka ini secara kasat mata menunjukkan potensi keuntungan yang cukup menarik bagi petani pedesaan.
Namun, realitas ekonomi jagung tidak sesederhana angka produksi dan harga.
Secara teknis, sistem budidaya jagung di Bolmong relatif efisien. Penggunaan jarak tanam 70 x 20 cm memungkinkan populasi tanaman yang optimal. Benih jagung hibrida seperti Raja Nusantara Ultimate dan NK Sumo Sakti memberikan produktivitas yang relatif stabil. Pemupukan yang dilakukan dua kali juga membuat pengelolaan lebih sederhana dibandingkan tanaman padi. Kombinasi ini menjadikan jagung sebagai komoditas yang lebih mudah dikelola, dengan kebutuhan tenaga kerja yang lebih fleksibel serta ketergantungan air yang lebih rendah.
Faktor-faktor inilah yang menjelaskan mengapa banyak petani beralih ke jagung. Dalam perspektif petani, jagung bukan hanya soal hasil, tetapi juga tentang kepastian usaha: lebih cepat panen, lebih sederhana dikelola, dan lebih mudah dikonversi menjadi uang tunai.
Namun, di balik efisiensi produksi tersebut, terdapat persoalan mendasar pada aspek ekonomi.
Produksi yang dilaporkan petani umumnya masih dalam bentuk jagung basah. Padahal, nilai ekonomi yang sesungguhnya ditentukan setelah dikoreksi menjadi kadar air standar sekitar 14 persen. Dalam proses pengeringan, terjadi penyusutan berat yang dapat mencapai 15 hingga 25 persen. Artinya, produksi 6 hinga 8 ton basah sebenarnya hanya setara sekitar 4,5 hingga 6,8 ton jagung kering.
Koreksi ini menjadi penting karena langsung memengaruhi perhitungan pendapatan riil petani. Dengan harga rata-rata Rp5.300 per kilogram, pendapatan kotor petani berada di kisaran Rp23 juta hingga Rp36 juta per hektare. Setelah dikurangi biaya produksi, margin bersih masih positif, tetapi sangat bergantung pada stabilitas produksi dan harga.
Di sinilah letak tantangan utama.
Usaha tani jagung sangat sensitif terhadap perubahan kecil pada produksi dan harga. Penurunan hasil akibat cuaca atau serangan hama dapat langsung menggerus keuntungan. Demikian pula fluktuasi harga di tingkat pabrik, yang sering kali dipengaruhi oleh kadar air dan kondisi pasokan. Dalam kondisi tertentu, petani bahkan bisa berada di titik impas, terutama jika produksi turun dan harga melemah secara bersamaan.
Selain itu, posisi petani dalam rantai agribisnis jagung masih relatif lemah. Petani umumnya menjual jagung dalam kondisi basah, sementara nilai tambah terbesar justru berada pada tahap pengeringan dan distribusi yang dikuasai oleh pabrik dan pelaku industri. Akibatnya, petani tidak memiliki kendali terhadap harga dan cenderung menjadi penerima harga (price taker).
Dalam konteks pembangunan pedesaan, kondisi ini menunjukkan adanya dualitas. Di satu sisi, jagung mampu meningkatkan perputaran ekonomi desa dan memberikan sumber pendapatan yang lebih cepat bagi petani. Di sisi lain, ketergantungan terhadap pasar, input eksternal, dan industri hilir justru semakin menguat.
Lebih jauh lagi, pergeseran dari sawah ke jagung juga membawa implikasi terhadap ketahanan pangan lokal. Jika tidak diimbangi dengan kebijakan yang tepat, perubahan ini berpotensi mengurangi kapasitas produksi beras di tingkat daerah.
Oleh karena itu, pengembangan jagung di Bolmong tidak cukup dilihat sebagai persoalan peningkatan produksi semata. Yang lebih penting adalah bagaimana petani dapat meningkatkan posisi tawar dalam rantai nilai. Penguatan kelembagaan petani, investasi pada fasilitas pasca panen seperti pengering dan penyimpanan, serta pengembangan sistem pemasaran kolektif menjadi langkah strategis yang perlu dipertimbangkan.
Jagung memang membuka peluang baru bagi pembangunan pedesaan di Bolaang Mongondow. Namun peluang tersebut hanya akan berujung pada peningkatan kesejahteraan jika petani tidak sekadar menjadi produsen, tetapi juga memiliki kendali terhadap nilai yang mereka hasilkan.
Tanpa itu, pertumbuhan produksi yang terjadi berisiko hanya menjadi pertumbuhan semu—di mana hasil meningkat, tetapi keuntungan terbesar tetap berada di luar tangan petani.

