ZONAUTARA.com – China mengadopsi strategi diplomasi yang hati-hati menghadapi ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran dengan mengintensifkan hubungan diplomatik dengan Teheran. Di tengah persiapan pertemuan penting antara Presiden Xi Jinping dan Presiden Donald Trump bulan depan, China juga berfokus pada menjaga stabilitas kawasan Timur Tengah yang vital untuk pasokan energinya.
Para analis menyatakan bahwa pendekatan China dalam konflik Iran sangat terkait dengan kepentingannya sebagai importir minyak mentah terbesar di dunia. Setengah dari kebutuhan energinya bergantung pada kawasan Timur Tengah, menjadikan stabilitas di wilayah ini sebagai prioritas utama bagi Beijing.
Langkah China ini mendapatkan perhatian dari Washington, yang mengakui peran Beijing dalam memfasilitasi keterlibatan Iran pada pembicaraan damai di Pakistan pekan lalu. “Anda telah mendengar Presiden Trump berulang kali menyebut bagaimana pihak China berbicara dengan Iran,” ujar Eric Olander, pemimpin redaksi China-Global South Project, mengutip Reuters.
Laporan juga menyebut bahwa China memanfaatkan situasi ini untuk kepentingan perdagangannya dan dalam isu Taiwan menjelang pertemuan dengan Presiden Trump. China, yang dikenal sangat mementingkan sambutan dan hubungan strategis, berupaya menciptakan atmosfer positif untuk dialog tersebut.
Presiden Xi Jinping mengusulkan rencana perdamaian empat poin yang menekankan koeksistensi damai dan supremasi hukum internasional, meskipun China menahan diri dari mengkritik keras AS, guna menjaga kelancaran hubungan bilateral. Beijing juga menunjukkan aktivitas diplomatik dengan menteri dan utusannya yang aktif berkomunikasi internasional, memperjuangkan gencatan senjata di wilayah Teluk dan sekitarnya.

