ZONAUTARA.com – Dalam acara EV Transition in Mining Industry Outlook 2026 yang diselenggarakan CNBC Indonesia, dibahas mengenai peluang dan tantangan penerapan teknologi kendaraan listrik (EV) di sektor pertambangan. Acara yang bertema ‘The Future of EV’s in Mining Industry: Between Efficiency and High Investment’ ini menghadirkan berbagai pemangku kepentingan untuk membahas adopsi EV, termasuk efisiensi serta investasi tinggi yang terkait.
Dewan Pengawas Indonesia Mining Association (IMA), Raden Sukhyar, menegaskan komitmen sektor pertambangan dalam penggunaan kendaraan listrik. Saat ini beberapa tambang telah memulai uji coba truk, bus, dan lori pengangkut mineral berbasis EV yang menawarkan penghematan bahan bakar dan pengurangan emisi karbon. Namun, tantangan besar masih dihadapi dalam bentuk pajak impor EV yang tinggi dan regulasi yang perlu diperbaiki.
Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI), Gita Mahyarani, menyebutkan bahwa elektrifikasi adalah kebijakan yang relevan, terutama di tengah gejolak geopolitik dan kenaikan harga minyak. Meski demikian, investasi dalam EV untuk tambang batu bara merupakan tantangan di tengah pengurangan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026.
Tantangan lain berasal dari sektor nikel, di mana infrastruktur energi dan akses jalan yang terbatas menjadi kendala dalam pemanfaatan EV, seperti diungkapkan oleh Dewan Pengawas Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), Djoko Widajatno. Selain itu, kendala terkait kapasitas dan kapabilitas sumber daya manusia juga menjadi perhatian.
Di bidang jasa pertambangan, Wakil Ketua Umum I Asosiasi Jasa Pertambangan Indonesia (ASPINDO), Ahmad Kharis, menjelaskan bahwa penggunaan EV oleh kontraktor tambang terkait erat dengan investasi. Penting bagi pemerintah untuk memberikan dukungan melalui kebijakan perpajakan impor EV dan kepastian terkait konsesi tambang.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia.

