ZONAUTARA.com – Di tengah perayaan Hari Pendidikan Nasional pada 2 Mei 2026, kisah memilukan datang dari Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Yustina Yuniarti, seorang guru honorer di Sekolah Dasar Katolik (SDK) Wukur, Desa Sikka, hanya menerima upah Rp150 ribu per bulan, yang berasal dari iuran orang tua murid yang berjuang dalam keterbatasan ekonomi.
Yustina telah mengabdikan diri sebagai pendidik selama 11 tahun. Meski demikian, pendapatannya jauh di bawah Upah Minimum Provinsi NTT tahun 2026 yang mencapai Rp2,3 juta. Angka ini tak sebanding dengan risiko harian yang ia hadapi. Setiap hari, Yustina menempuh perjalanan enam kilometer melintasi medan berbahaya demi mengajar murid-muridnya.
“Kalau hujan jalanan licin dan berlumpur, kalau kemarau debunya sampai masuk ke mata. Risiko jatuh ke jurang atau tersapu ombak saat air pasang selalu ada di pikiran saya setiap berangkat dan pulang sekolah,” ujar Yustina saat ditemui di sekolahnya.
Sebanyak 17 murid kelas V tetap bersekolah berkat kegigihan Yustina. Meski fasilitas sekolah sangat terbatas, dengan dinding kayu lapuk dan atap seng bocor, Yustina terus berusaha memberikan pendidikan terbaik. Ia berharap kepada pemerintah pusat untuk segera menegerikan sekolah mereka dan memperhatikan nasib guru honorer di daerah 3T.
PGRI Cabang Sikka melaporkan sekitar 62 persen dari 1.200 guru Sekolah Dasar di wilayah ini masih berstatus honorer dengan upah dibawah Rp300 ribu per bulan. Kondisi ini menjadi cerminan distribusi anggaran pendidikan yang belum merata, meski pemerintah telah mengalokasikan Rp708 triliun untuk pendidikan tahun 2026.
Diolah dari laporan CNN Indonesia.

