ZONAUTARA.com – Emirat Arab secara resmi mengumumkan pengunduran dirinya dari Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC), yang menambah elemen ketidakpastian baru dalam pasar minyak global yang tengah bergejolak. Langkah ini mengindikasikan Emirat Arab siap meningkatkan produksi tanpa terikat kuota, yang diprediksi akan memberikan tekanan pada harga minyak dalam jangka panjang.
Langkah Emirat Arab ini bertepatan dengan penutupan Selat Hormuz akibat konflik AS-Iran, sehingga dampak langsung dari peningkatan produksi belum terasa sepenuhnya karena terganggunya pasokan global. Sejak 2016, di bawah kepemimpinan Mohammed bin Zayed, Emirat Arab telah mengubah kebijakan energinya dengan menitikberatkan pada produksi sekarang, dengan Sultan al-Jaber sebagai CEO Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) memimpin transformasi tersebut.
Emirat Arab hendak memanfaatkan cadangan minyak dan gas untuk mendanai agenda transformasi ekonomi sebelum transisi energi bersih meluas. Sikap ini bertentangan dengan OPEC yang cenderung membatasi produksi demi menjaga stabilitas harga. Ketegangan geopolitik, termasuk persaingan dengan Arab Saudi di sektor investasi pariwisata, olahraga, dan keuangan, mendorong langkah strategis Emirat ini.
Keluarnya Emirat Arab dari OPEC mempersulit koordinasi pengelolaan pasar minyak oleh OPEC. Kapasitas cadangan OPEC berkurang, mempengaruhi pangsa pasar yang kini hanya 29% dari produksi minyak global. Arab Saudi mungkin harus menanggung beban untuk menjaga keseimbangan pasar, termasuk kemungkinan meningkatkan kapasitas produksi hingga 13 juta barel per hari.
Meskipun seolah hanya berita di tengah gejolak energi 2026, langkah Emirat Arab mengindikasikan tantangan masa depan bagi OPEC dalam menavigasi dinamika perang, sanksi, dan ketidakpastian ekonomi. Langkah ini berpotensi menumbuhkan pasokan pascaperang, tetapi dengan volatilitas harga yang lebih tinggi.
Diolah dari laporan Media Indonesia.

