ZONAUTARA.com – Kehilangan tempat tinggal dan harta benda akibat banjir besar yang melanda Aceh pada akhir 2025 tidak menghalangi warga setempat untuk berangkat ke Tanah Suci. Pemerintah pusat dan daerah berkomitmen memastikan keberangkatan mereka pada musim haji 2026 meski menghadapi berbagai tantangan.
Bencana alam ini dikenal dengan julukan “tsunami kedua” dan melumpuhkan 18 dari 23 kabupaten/kota di Aceh. Komitmen untuk memastikan keberangkatan jemaah haji ditegaskan oleh Jamaluddin Affan Asyi, anggota Tim Koordinasi dan Pengendali Jemaah Haji Aceh pada PPIH Arab Saudi. Dia menjelaskan bahwa berbagai instansi terlibat dalam upaya ini meskipun harta benda banyak warga habis akibat banjir, terutama di Aceh Tamiang.
“Di antara 23 kabupaten/kota di Aceh, 18 kabupaten/kota itu terdampak bencana yang sangat luar biasa yang harta benda mereka itu habis semuanya, contohnya di Aceh Tamiang,” kata Jamal saat ditemui di Makkah. Dengan kondisi ekonomi yang sulit, banyak calon jemaah terhambat dalam pelunasan biaya haji. Di Aceh Tamiang, dari sekitar 150 calon jemaah hanya satu yang berhasil melunasi biaya pada tahap pertama.
Guna mengatasi permasalahan tersebut, strategi “jemput bola” diterapkan. Tim Kemenhaj dan perwakilan pemerintah daerah turun langsung ke lapangan untuk memfasilitasi proses kesehatan dan koordinasi dengan pihak perbankan agar pelunasan biaya bisa dipermudah. “Kemudian kami, saya, kemudian dengan tim dari Kemenhaj ditugaskan oleh Bapak Gubernur dan Bapak Wakil Gubernur untuk menjemput bola,” ungkap Jamal.
Sebagai hasil dari strategi tersebut, kuota haji Aceh tercatat salah satu yang tercepat terpenuhi, bahkan melampaui target nasional. Tahun ini Aceh mendapatkan kuota sebesar 5.426 jemaah yang terbagi dalam 14 kelompok terbang. Jamal mengaku tersentuh melihat keteguhan hati jemaah haji, terutama dari Tamiang yang kehilangan hampir semua harta.
Diolah dari laporan Media Indonesia.

