ZONAUTARA.com – Taktik armada nyamuk yang diterapkan oleh kelompok Houthi di Yaman, yang dikenal sebagai Ansar Allah, telah menciptakan ancaman serius terhadap jalur perdagangan internasional di Laut Merah. Dalam operasi militer asimetris ini, Houthi menggunakan kumpulan kapal cepat berukuran kecil yang sulit terdeteksi radar modern untuk menyerang kapal-kapal komersial.
Sejak pertengahan tahun 2026, sedikitnya 26 kapal komersial telah diserang oleh pasukan Houthi. Salah satu insiden paling menghebohkan terjadi ketika kapal curah Rubymar tenggelam akibat serangan rudal pada awal tahun 2024, yang menyebabkan pencemaran pupuk di Laut Merah. Ancaman utama justru berasal dari kapal-kapal kecil yang dapat bergerak lincah dan sulit dihadang.
Analis pertahanan menggambarkan strategi ini sebagai armada nyamuk, di mana kekuatan lebih lemah tidak menyerang musuh secara frontal tetapi menggunakan platform murah yang dapat menyerang dan menyebar dengan cepat. Kapal-kapal ini memanfaatkan kelemahan kapal perusak Aegis yang tidak dirancang untuk menghadapi target kecil di zona litoral yang sibuk.
Operasi militer seperti Operation Prosperity Guardian oleh Amerika Serikat, termasuk penggunaan pengebom B-2 Spirit pada Oktober 2024, tidak berhasil menyeimbangkan situasi. Meskipun AS memenangkan pertempuran, mereka kehabisan stok rudal pencegat lebih cepat daripada kemampuan industri untuk memproduksinya kembali.
Gangguan di Selat Bab el-Mandeb, yang menyalurkan sekitar 12 persen perdagangan laut global, memaksa perusahaan pelayaran seperti Maersk dan MSC merombak rute melalui Tanjung Harapan, menambah waktu perjalanan dan biaya bahan bakar. Pakar menyebut bahwa solusi mungkin ada dalam gencatan senjata atau adopsi teknologi baru seperti senjata energi terarah oleh AS. Namun, tanpa perubahan signifikan, armada nyamuk ini akan terus menguji ketahanan perdagangan dunia.
Diolah dari laporan Media Indonesia.

