ZONAUTARA.com – Perang yang dilancarkan oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran dinilai berpotensi berakhir dengan kemunduran bagi Washington. Dua pengamat geopolitik mengungkapkan bahwa AS tidak akan mampu mempertahankan konflik berkepanjangan tersebut karena beban militer, politik, dan ekonomi yang dinilai terlalu besar dibandingkan hasil yang diperoleh.
Dalam sebuah opini yang ditulis oleh Jeffrey Sachs, profesor dan Direktur Pusat Pembangunan Berkelanjutan Universitas Columbia, bersama Sybil Fares, penasihat Timur Tengah dan Afrika untuk Jaringan Solusi Pembangunan Berkelanjutan PBB, disebutkan bahwa perang Iran menunjukkan melemahnya dominasi global AS. “Perang melawan Iran kemungkinan besar akan berakhir dengan mundurnya Amerika,” tulis Sachs dan Fares, seperti dikutip dari Al Jazeera.
Mereka menyatakan bahwa strategi yang diterapkan oleh AS-Israel sejak serangan dimulai pada 28 Februari 2026 berfokus pada “serangan pemenggalan kepala” terhadap elite politik dan militer Iran. Tujuan dari operasi ini adalah melumpuhkan struktur komando Teheran, menghancurkan program nuklir, serta memicu runtuhnya rezim Iran.
Namun, menurut analisis Sachs dan Fares, hasil yang dicapai jauh dari ekspektasi Washington. Pemerintahan Iran tetap solid dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang justru memperkuat kontrol keamanan domestik. “Dua bulan berlalu, Trump dan Netanyahu tidak memiliki pemerintahan pengganti Iran di bawah kendali mereka, tidak ada penyerahan diri Iran untuk mengakhiri perang, dan tidak ada jalur militer menuju kemenangan,” tulis kedua analis tersebut.
Ke depan, Sachs dan Fares memprediksi bahwa satu-satunya opsi realistis bagi AS adalah mundur dari konflik. Mereka juga menilai Washington telah salah dalam menganalisis kekuatan Iran, yang memiliki sejarah peradaban ribuan tahun, nasionalisme kuat, serta kemampuan teknologi militer yang berkembang pesat.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia.

