ZONAUTARA.com – Kunjungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump ke China minggu ini menghasilkan kemajuan dalam hubungan kedua negara, khususnya terkait gencatan senjata dagang yang rapuh di antara Washington dan Beijing. Meskipun pertemuan sempat tertunda lebih dari sebulan karena perang di Iran, kesepakatan dicapai dalam pertemuan puncak dua hari antara Trump dan Presiden China Xi Jinping yang berakhir pada hari Jumat waktu setempat. Dalam forum ini, telah ditetapkan bahwa kedua pemimpin akan kembali bertemu pada musim gugur tahun ini.
Pertemuan ini menyoroti tiga poin penting. Pertama, isu Taiwan hingga Iran yang mewarnai pembahasan. Xi Jinping memperingatkan bahwa penanganan Taiwan yang tidak tepat dapat menempatkan hubungan AS-China dalam “bahaya besar”. Sementara itu, Trump mengungkapkan bahwa China sepakat membeli minyak mentah AS dan akan membantu negosiasi terkait Iran, meskipun belum ada rincian terkait waktu dan volume pembelian tersebut.
Selain itu, gencatan perang dagang antara kedua negara masih bertahan, meskipun detail kesepakatan terbaru belum diumumkan. Namun, undangan Trump kepada Xi untuk berkunjung ke AS pada 24 September membuka peluang pembicaraan lanjutan sebelum masa gencatan berakhir pada Oktober 2025. Sebelumnya, kesepakatan untuk menurunkan tarif dan mencabut pembatasan logam tanah jarang telah dicapai, dan mereka sepakat membangun “stabilitas strategis” untuk tiga tahun ke depan.
Poin ketiga adalah hasil positif bagi bisnis AS. Trump menyatakan bahwa China akan memesan 200 pesawat dari Boeing, melampaui ekspektasi awal perusahaan tersebut. Selain itu, Nvidia mendapatkan izin untuk kembali menjual chip H200 ke perusahaan besar China. Kabar ini mendorong penguatan saham teknologi di pasar saham.
Menurut analis China Macro Group, Jack Lee, Beijing tampaknya memanfaatkan pendekatan transaksional Trump untuk membangun kerangka kerja operasional jangka panjang dalam hubungan AS-China.
Diolah dari laporan CNBC Indonesia.

