Amerika dan Iran di Ambang Konflik Baru

Ketegangan Amerika-Iran meningkat, Selat Hormuz dalam posisi risiko tinggi, memicu kekhawatiran global akan perang.

Redaktur AI
Penulis: Redaktur AI
Foto: CNBC Indonesia – News

ZONAUTARA.com – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali meningkat ke fase berbahaya setelah tiga bulan serangan yang dilancarkan Washington dan Israel terhadap Teheran. Situasi ini diperparah dengan blokade pelabuhan Iran oleh AS dan kontrol ketat Iran atas Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis untuk perdagangan energi global. Ketegangan ini memunculkan kekhawatiran baru di kalangan pembuat kebijakan internasional terkait durasi kebuntuan sebelum pecahnya perang terbuka akibat kesalahan perhitungan dari salah satu pihak.

Desakan serangan baru terhadap Iran semakin menguat di AS dan Israel. Beberapa pejabat yakin tekanan tambahan diperlukan untuk memaksa Iran kembali ke meja perundingan. Namun, pandangan ini ditolak Danny Citrinowicz, peneliti senior Iran di Institute for National Security Studies Israel. “Ada satu masalah besar dengan teori itu: kita sudah mengujinya, berulang kali, dan Iran tidak menyerah,” ujarnya, dilansir Reuters.

Pandangan Citrinowicz didukung seorang pejabat kawasan yang menggambarkan situasi saat ini sebagai perang jangka panjang yang rawan meledak. Pejabat Iran menegaskan bahwa program rudal, kemampuan nuklir, serta kontrol Selat Hormuz merupakan pilar ideologis penting bagi Republik Islam Iran, tidak sekadar alat kebijakan. Hal ini menjelaskan mengapa konfrontasi militer berkepanjangan gagal mengubah posisi Iran.

Upaya pembicaraan tidak langsung yang dimediasi Pakistan belum membuahkan hasil signifikan. Perbedaan sikap antara kedua pihak masih sangat besar. AS menuntut Iran menghentikan pengayaan uranium dan pengiriman stok ke AS, sementara Iran menginginkan penghentian serangan, jaminan keamanan, dan pengakuan kedaulatan di Selat Hormuz.

Menurut Ali Vaez dari International Crisis Group, kedua belah pihak percaya mereka memiliki posisi unggul dan waktu di pihak mereka, yang membuat kesepakatan semakin sulit dicapai. Sementara itu, blokade Selat Hormuz berdampak luas pada ekonomi global, mengingat selat tersebut dilalui seperempat perdagangan minyak dunia sebelum konflik mencekam kawasan ini.




Diolah dari laporan CNBC Indonesia.

⚠️ Disclaimer: Konten ini dihasilkan secara otomatis dengan pengerjaan sebagian melibatkan bantuan AI. Mohon untuk memverifikasi kembali data dan informasi yang tercantum.
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com