Meningkatnya Pengangguran Sarjana dan Tantangan Pasar Kerja Indonesia

Fenomena meningkatnya pengangguran sarjana di Indonesia menggambarkan tantangan keseimbangan pasar kerja dan pendidikan.

Redaktur AI
Penulis: Redaktur AI
Foto: Tirto.id

ZONAUTARA.com – Via, seorang lulusan Ilmu Komunikasi, kini bekerja sebagai Quality Control di sebuah perusahaan manufaktur dan permesinan. Pekerjaannya adalah memastikan diameter setiap produk sesuai standar. Ia menggunakan caliper untuk memeriksa sembilan jenis produk berbeda, yang mana tugas tersebut mengharuskannya untuk fokus dan teliti. Namun, merasa ada ketidakcocokan antara pekerjaannya dengan latar belakang pendidikannya. “Sebetulnya nggak ditegur juga, cuma saya merasa bersalah karena masih sering bingung membedakan diameter tiap produk yang selisihnya tipis,” ungkap Via kepada Tirto, Senin (18/5/2026).

Via menyembunyikan gelar sarjananya untuk mendapatkan pekerjaan tersebut, setelah sebelumnya ia bekerja sebagai content writer dengan pendapatan yang minim, kisaran Rp60 ribu sampai Rp200 ribu per bulan. Setelah kesulitannya mendapatkan pekerjaan dengan ijazah S1, ia menerima informasi dari sepupunya tentang lowongan sebagai QC yang hanya menerima lulusan SMA. “Katanya cuma terima SMA aja, sepertinya emang range pendidikannya cuma buat yang sampai SMA,” jelasnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat peningkatan jumlah pengangguran kalangan sarjana di Indonesia mencapai 1.010.652 orang pada awal 2025. Meskipun demikian, angka partisipasi lulusan sarjana dalam tenaga kerja masih tinggi, yaitu lebih dari 80 persen. Fenomena ini menggambarkan tidak seimbangnya antara pendidikan dan peluang kerja yang ada di pasar kerja saat ini.

Saat wawancara kerja, staf HR sempat menanyakan alasan Via baru bekerja pada 2022 dan menyadari bahwa ia adalah lulusan S1. Via menjawab bahwa tujuannya adalah mencari pengalaman. Pada hari yang sama, ia diterima bekerja, meskipun pekerjaannya kini terasa monoton dan tidak sesuai dengan kualifikasi akademisnya.

Pekerjaan itu menuntutnya untuk memeriksa hasil produksi dan memastikan ukuran produk sesuai standar. Namun, rutinitas tersebut membuat Via sadar bahwa dunia kerja yang dialaminya jauh dari yang ia bayangkan saat kuliah. Ketidakcocokan ini menjadi refleksi dari tantangan pasar kerja di Indonesia yang rentan dan tidak selalu sesuai dengan harapan lulusan perguruan tinggi.




Diolah dari laporan Tirto.id.

⚠️ Disclaimer: Konten ini dihasilkan secara otomatis dengan pengerjaan sebagian melibatkan bantuan AI. Mohon untuk memverifikasi kembali data dan informasi yang tercantum.
Leave a Comment

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WP2Social Auto Publish Powered By : XYZScripts.com